Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto (tiga dari kiri) bersama empat direktur Mandiri Sekuritas, (kiri ke kanan) Laksono Widodo, Iman Rachman, C. Paul Tehusijarana dan I Nyoman Gede Suarja meluncurkan Logo 15 tahun Mandiri Sekuritas di sela acara Halal Bihalal di Jakarta, Selasa (4/8). Sepanjang 6 bulan terakhir, Mandiri Sekuritas berhasil mengakuisisi 5.000 nasabah baru menjadi 44.000 nasabah. Pertumbuhan rata-rata nasabah Mandiri Sekuritas dalam 3 tahun terakhir (2012-2014) mencapai 63%, atau di atas pertumbuhan industri yang sebesar 14%. Mandiri Sekuritas juga berhasil mempertahankan posisinya di tempat terbaik pasar emisi obligasi dengan market share 13,4%. Foto: Investor Daily/ist

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto (tiga dari kiri) bersama empat direktur Mandiri Sekuritas, (kiri ke kanan) Laksono Widodo, Iman Rachman, C. Paul Tehusijarana dan I Nyoman Gede Suarja meluncurkan Logo 15 tahun Mandiri Sekuritas di sela acara Halal Bihalal di Jakarta, Selasa (4/8). Sepanjang 6 bulan terakhir, Mandiri Sekuritas berhasil mengakuisisi 5.000 nasabah baru menjadi 44.000 nasabah. Pertumbuhan rata-rata nasabah Mandiri Sekuritas dalam 3 tahun terakhir (2012-2014) mencapai 63%, atau di atas pertumbuhan industri yang sebesar 14%. Mandiri Sekuritas juga berhasil mempertahankan posisinya di tempat terbaik pasar emisi obligasi dengan market share 13,4%. Foto: Investor Daily/ist

Mandiri Sekuritas dan Mirae Asset Kian Bersaing

Farid Firdaus, Rabu, 11 September 2019 | 21:52 WIB

JAKARTA – PT Mandiri Sekuritas berhasil kembali ke posisi pertama sebagai sekuritas dengan nilai perdagangan efek terbesar Rp 21,17 triliun selama Agustus 2019. Posisinya menggantikan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang harus rela turun ke posisi empat dengan nilai perdagangan Rp 17,79 triliun.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan Rabu (11/9) mencatat, total nilai transaksi perdagangan efek selama Agustus mencapai Rp 369,79 triliun, atau turun tipis dibanding perdagangan efek Juli yang sebanyak Rp 389,87 triliun.

Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, posisi Mandiri Sekuritas dan Mirae Asset cenderung bersaing ketat sepanjang tahun berjalan ini (year-to-date) dari sisi nilai transaksi perdagangan. Mandiri Sekuritas memang telah duduk di posisi pertama pada Januari 2019, lalu posisinya digantikan Mirae pada Februari 2019.

Maret dan April 2019, Mandiri Sekuritas mampu melompat dan bertahan di posisi pertama. Sementara Mirae Asset pada periode yang sama turun ke posisi empat lalu tergelincir ke posisi tujuh.

Selanjutnya, Mandiri Sekuritas turun kembali ke posisi tiga sedangkan Mirae Asset tetap di posisi tujuh pada Mei 2019. Sedangkan di Juni, Mirae Asset berhasil merangkak naik ke posisi tiga, dan Mandiri Sekuritas justru turun ke posisi empat.

Persaingan kian ketat pada Juli 2019, ketika Mirae pelan namun pasti menempati posisi teratas, unggul dibanding Mandiri Sekuritas yang tertahan di posisi dua.

Di sisi lain, Deutsche Sekuritas Indonesia sudah terhempas dari daftar 20 sekuritas teraktif secara nilai perdagangan sejak Juli 2019. Sekuritas asing ini sebenarnya telah menyatakan akan menghentikan operasi perantara efek tahun ini. Namun, tak seperti seperti PT Merill Lynch Sekuritas Indonesia, Deutsche belum resmi resmi melepas kursi bursanya.

“Deutsche tetap berniat exit dalam waktu dekat. Kapan tepatnya itu tergantung mereka,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono Widodo kepada Investor Daily.

Tercatat, Deutsche sempat berada di posisi 10 dan Merill Lynch di posisi 13 pada Januari 2019. Kemudian, posisi Deutsche tak bergerak jauh antara posisi delapan dan 12. Sementara Merill Lynch posisinya berangsur-angsur melorot hingga posisi 20 di Juni 2019. Keduanya sama-sama tidak masuk dalam daftar 20 sekuritas teraktif pada Juli 2019.

Secara terpisah, Komisaris Independen Mirae Asset Sekuritas Indonesia Samsul Hidayat berpendapat, secara bertahap, nasabah dua sekuritas asing tersebut akan beralih ke sekuritas lain. Hal ini dilakukan sebelum mereka benar-benar menghentikan operasinya.

“Jadi pasti, posisi 20 sekuritas teraktif itu ada yang bergeser. Yang selama ini tidak masuk, jadi muncul namanya sekarang” jelas dia.

Adapun, data BEI menunjukkan 13 sekuritas yang sahamnya dikuasai asing menguasai 40,21% dari total perdagangan efek BEI sepanjang Januari-Agustus 2019 secara nilai perdagangan. Selama periode ini total transaksi efek di BEI mencapai Rp 3.092 triliun. Dari situ, 20 sekuritas teraktif mengambil porsi 62,8%.

Jika diakumulasi hingga Agustus, setidaknya posisi lima sekuritas yang menduduki posisi teratas secara berurutan adalah Mandiri Sekuritas, Mirae Asset, CGS-CIMB, UBS Sekuritas, dan Morgan Stanley.

Saham Pencetak Gain

Selama Agustus, data BEI menunjukkan saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) mampu melonjak naik 385,38% ke posisi Rp 830, dibanding bulan sebelumnya 171. Sedangkan posisi kedua dan ketiga diikui PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL) dan PT Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO) yang masing-masing menguat 223% ke posisi Rp 5.475 dan 113% ke level Rp 3.010 sepanjang Agustus.

Hingga saat ini, otoritas bursa masih melakukan suspensi terhadap saham Bank Arto sejak 21 Agustus 2019 dan saham Pelangi Indah sejak 9 September 2019. Sementara saham Pollux sempat disuspensi pada 30 Agustus 2019, sebelum akhirnya dibuka kembali oleh 2 September 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA