Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Jago. Foto: IST

Bank Jago. Foto: IST

'Market Cap' Bank Jago Dekati Unilever dan Astra

Jumat, 11 Juni 2021 | 06:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Jago Tbk (ARTO) mampu mencetak nilai kapitalisasi pasar saham (market capitalization) senilai Rp 177 triliun hingga Kamis (10/6) atau berada di posisi tujuh. Market cap bank digital tersebut mendekati PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, Bank Jago menempel Unilever yang berada di posisi enam dengan market cap Rp 202,2 triliun. Bank Jago juga sempat menempel Astra International, namun kini Astra merangkak naik ke posisi lima dengan market cap Rp 218,6 triliun. Adapun posisi puncak masih ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap Rp 807,9 triliun.

Market cap Bank Jago meningkat dibandingkan per April 2021. Ketika itu, bank besutan Jerry Ng dan Patrick Walujo ini berada di posisi sembilan dengan market cap Rp 139,2 triliun. Kemudian, Bank Jago berhasil menyalip PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang saat ini di posisi delapan dengan market cap Rp 144 triliun dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) di posisi sembilan dengan market cap Rp 141,3 triliun.

Lonjakan market cap Bank Jago ini tergolong signifikan. Pasalnya, pada akhir 2020, Bank Jago tidak berada di daftar 10 emiten dengan market cap terbesar. Bahkan, tidak juga di antara 20 emiten terbesar. Per akhir tahun lalu, Bank Jago hanya berada di posisi 32 dengan market cap Rp 46,21 triliun.

Founder dan CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto menjelaskan, saat ini, Bank Jago adalah satu-satunya bank digital yang memiliki valuasi terbesar, yakni sekitar Rp 177 triliun. Market cap tersebut bahkan lebih tinggi dari bank besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencapai Rp 105 triliun dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar Rp 16,84 triliun.

Seiring market cap yang besar tersebut, harga saham ARTO juga meningkat pesat hingga 983,64% dalam satu tahun terakhir ke level Rp 12.900 pada penutupan perdagangan Kamis, (10/6). "Harga ARTO sudah mencerminkan 21 kali dari price to book value (PBV), lebih tinggi dibandingkan rata-rata bank yang mencapai 2 kali PBV," kata dia kepada Investor Daily.

Kapitalisasi pasar tersebut, menurut Fendi, lambat laun akan menurun apabila tidak diimbangi dengan fundamental yang memadai. Pasalnya, bisnis bank adalah bisnis yang kinerja keuangannya bisa diteliti, yakni melalui marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM), perolehan laba, kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) atau indikator lainnya.

Karena itu, dia menilai harga ARTO saat ini sudah terlalu mahal. Sementara, kinerja keuangan Bank Jago belum bisa mengimbangi. Dari data RTI, net profit margin (NPM) Bank Jago pada akhir Maret 2021 mencapai minus 69,82%. Bank Jago juga masih membukukan rugi Rp 38,13 miliar dengan arus kas negatif Rp 48,46 miliar. Return on equity (ROE) dan return on asset (ROA) Bank Jago juga tercatat negatif masing-masing minus 1,88% dan minus 1,64%.

Meningkatnya harga saham ARTO dan beberapa bank digital lain, menurut Fendi, lebih disebabkan oleh euforia bank digital. Fenomena ini dinilai tidak akan bertahan lama atau setidaknya hanya dalam satu tahun. Setelah fenomena berakhir, harga saham dan market cap bank digital akan kembali bergerak sesuai fundamentalnya.

Adapun sebuah bank mini atau bank digital sewajarnya memiliki market cap sekitar Rp 5-30 triliun. Sementara, harga saham wajarnya setidaknya 3 kali dari book value. Dengan melihat harga wajar ini, investor ritel yang membeli saham bank digital tentunya harus berhati-hati dan tidak terlena dengan euforia dari kenaikan harga saham sesaat.

Namun, persepsi investor tersebut, menurut Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayatna, tidak bisa dikontrol. “Kalau memang prospek baik dipandang oleh investor, mereka tetap mau beli saham ARTO dengan harga atau valuasi yang tinggi," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN