Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Saham Hotel Mandarin dan BRI Rajai Perdagangan

Farid Firdaus, Rabu, 14 Agustus 2019 | 22:25 WIB

JAKARTA, investor.id – Saham PT Hotel Mandarin Regency Tbk (HOME) menjadi saham paling aktif diperdagangkan berdasarkan volume di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama Juli 2019. Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat paling jumbo secara nilai perdagangan.

Berdasarkan data BEI (BEI) yang dirilis Selasa (13/8), selama Juli atau 23 hari bursa, saham Hotel Mandarin membukukan volume perdagangan 112,1 miliar unit dengan nilai transaksi Rp 6,27 triliun dan frekuensi sebanyak 192.728 kali. Posisi selanjutnya disusul oleh saham PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang masing-masing membukukan 26,18 miliar unit dan 23,20 miliar unit.

Sementara tiga bank besar merajai 20 saham yang paling aktif diperdagangkan secara nilai selama Juli 2019. Saham BBRI membukukan nilai perdagangan Rp 9,64 triliun, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat Rp 9,56 triliun, dan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat Rp 8,40 triliun.

Adapun, Hotel Mandarin baru saja selesai melangsungkan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan menerbitkan sebanyak 19,94 miliar saham. Tanggal pelaksanaan dilakukan selama 14-27 Juni 2019, dan dilanjutkan periode penjatahan pada 2 Juli 2019.

Sementara sentimen positif dari Bank BRI adalah respon kebijakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dengan melakukan penyesuaian suku bunga. Penyesuaian ini dilakukan dengan menurunkan suku bunga kredit pada segmen kredit mikro, ritel dan konsumer hingga 50 basis poin (bps).

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto mengungkapkan selain dengan digitalisasi proses kredit untuk mempercepat proses pelayanan kredit, BRI juga melakukan penyesuaian suku bunga. Sehingga dengan proses kredit yang cepat dan suku bunga yang murah tentunya dapat memberikan ruang pertumbuhan kredit yang lebih tinggi.

Disisi lain, penyesuaian suku bunga kredit BRI tersebut sejalan dengan meningkatnya efisiensi operasional dan penurunan suku bunga simpanan yang telah dilakukan karena penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 bps pada RDG BI Juli lalu.

"Dengan momentum seperti ini kami berharap dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi sektor riil khususnya untuk segmen mikro dan ritel," lanjut Suprajarto.

Seperti yang diketahui, perseroan telah melakukan digitalisasi proses kredit sejak tahun 2018 lalu dengan aplikasi yang disebut BRIspot. Terobosan digital BRI tersebut dinilai ampuh mengakselerasi proses pengajuan kredit mikro menjadi lebih cepat, efisien, paperless, dan digital base.

Sebelumnya, perseroan juga menyebut implementasi penggunaan aplikasi BRIspot membantu meningkatkan pertumbuhan kredit mikro yang tercatat tumbuh hingga 14,5% setelah aplikasi tersebut diimplementasikan.

Modal Ventura BRI

BRI melalui BRI Ventura Investama pun bakal kian ekspansif dengan menunjuk Nicko Widjaja sebagai CEO baru perusahaan modal ventura tersebut. Sebelumnya, Nicko merupakan CEO MDI Ventures, yang merupakan modal ventura milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan, tahun ini perusahaan lumayan serius mengembangkan BRI Ventura dengan menyuntikan sejumlah modal. Pihaknya pun menambah ekuitas BRI Ventura menjadi Rp 1 triliun dari semula hanya Rp 200 miliar.

Pada 26 Juli 2019, perseroan telah meningkatkan penyertaan modal sebesar Rp 800 miliar kepada BRI Ventura. Hal ini menyebabkan porsi kepemilikan BRI menjadi sebesar 99,96%.  

“BRI Ventura model bisnisnya adalah corporate venture capital (CVC). Mereka nanti mengakuisisi atau memberikan modal kepada start-up yang bergerak di industri penunjang keuangan, seperti fintech atau remitansi dan lain sebagainya,” jelas dia kepada Investor Daily.

Sebagai informasi, langkah awal BRI masuk ke bisnis modal ventura adalah dengan membeli 97,61% saham BRI Ventura yang semula dimiliki oleh PT Bahana Artha Ventura (BAV). Sebelumnya nama BRI Ventura adalah PT Sarana Nusa Tenggara Timur Ventura. Transaksi senilai Rp 3,09 miliar ini dilakukan 20 Desember 2108.Selanjutnya, OJK resmi memberikan izin usaha di bidang modal ventura kepada BRI Ventura pada 1 April 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN