Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Papan elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Saham Positif

Jumat, 31 Juli 2020 | 20:29 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Keputusan The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga 0-0,25% berdampak positif terhadap pasar saham Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) naik 38,5 poin (0,75%) ke level 5.149,6 pada perdagangan Kamis (30/7).

“Pasar menyambut baik kebijakan The Fed yang meneruskan kebijakan bunga longgar, terlihat pada kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS). Selain itu, laba korporasi AS cukup baik,” kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee di Jakarta.

Akan tetapi, menurut dia, pelaku pasar masih mencemaskan konflik antara AS dan Tiongkok. Kelanjutan stimulus fiskal Pemerintah AS juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dari dalam negeri, dia menuturkan, laporan keuangan emiten kuartal II-2020 tidak terlalu bagus.

Itu sebabnya, sentimen positif suku bunga The Fed diprediksi tak berlangsung lama. Pekan depan, IHSG cenderung tertekan dengan perkiraan level support 5.022 dan resistance 5.162.

Hingga akhir tahun, Hans menilai, indeks akan menghadapi sejumlah tantangan. Contohnya, hingga kini, Indonesia masih belum mencapai puncak kasus Covid-19. Adapun pasar saham kuartal III biasanya menyentuh titik terendah sepanjang tahun. Pasar saham baru mulai bangkit kuartal berikutnya. Akhir 2020, Hans memprediksi IHSG berada di level 5.418.

Secara terpisah, analis CSA Research Reza Priyambada menyatakan, manuver The Fed menahan suku bunga sudah diprediksi pelaku pasar. Itu sebabnya, imbasnya ke pasar saham diprediksi tak terlalu signifikan.

Menurut dia, tren bunga rendah AS bakal terus berlanjut sampai akhir 2020. Sebab, saat ini, federal funds rate (FFR) sudah sangat rendah, yaitu 0-0,25%. Itu artinya, jika dipangkas, FFR bisa minus dan bisa berdampak negatif terhadap dolar AS.

Lebih lanjut Reza mengatakan, penguatan IHSG pada Kamis lalu lebih disebabkan pelaku pasar mengapresiasi perkembangan vaksin Covid-19. Ini mampu menahan kejatuhan indeks, yang biasanya terjadi pada akhir pekan, lantaran aksi profit taking pelaku pasar.

Pekan depan, dia memperkirakan indeks cenderung melemah, karena merespons laporan keuangan emiten kuartal II-2020 yang kurang baik. Namun, penurunan indeks bisa bertahan, jika data-data ekonomi domestik lebih baik dari prediksi pelaku pasar. “Support indeks pekan depan 5.025-5.050, sedangkan resistance 5.167-5.188,” ujar dia.

Adapun pergerakan indeks hingga akhir 2020 akan ditentukan oleh grafik kuartal III dan IV. Jika terjadi pemulihan aktivitas ekonomi, indeks bisa menggeliat. Sampai akhir 2020, Reza memprediksi indeks bertengger di level 5.275-5.400.

Di lain pihak, analis William Surya Wijaya menilai, pergerakan indeks saham saat ini lebih ditentukan oleh stabilitas dalam negeri. Itu artinya, dampak bertahannya FFR ke indeks minor. Menurut dia, indeks cenderung tertekan. Penyebabnya adalah perlambatan ekonomi nasional. Laba emiten yang tak terlalu bagus juga berpengaruh terhadap pergerakan indeks.

Seperti diberitakan, The Fed memutuskan untuk mempertahankan FFR 0-0,25% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli 2020.

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan, pengendalian penyebaran Covid-19 secara baik menjadi kunci utama keberhasilan pemulihan ekonomi AS. Sebab itu, The Fed tidak akan melakukan pemangkasan suku bunga kembali, seperti yang sebelumnya sering disebutkan dan berupaya sebaik mungkin untuk mendukung pemulihan perekonomian dari perlambatan ekonomi akibat pandemi yang belum usai.

Meskipun demikian, Powell menambahkan, pembukaan perekonomian yang dilakukan oleh AS saat ini masih berjalan cukup baik, terlihat pada banyak masyarakat kembali bekerja walaupun masih belum pulih secara penuh.

Menurut Powell, tidak semua sektor perekonomian melemah. Contohnya, sektor perumahan yang masih memberikan titik terang. Namun, pemulihan perekonomian berjalan lambat.

Dia mengatakan, prospek perekonomian dalam jangka waktu menengah masih dalam situasi dan kondisi yang tidak pasti, dan tingkat suku bunga masih akan ditahan mendekati 0% untuk mendukung pemulihan perekonomian.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN