Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno  Foto: B1-Ruth Semiono

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno Foto: B1-Ruth Semiono

Tumbuh 131,97% di Oktober 2021

Pertumbuhan Laba Bersih Multifinance Diproyeksi Berlanjut di 2022

Kamis, 30 Desember 2021 | 08:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Laba bersih multifinance mencapai Rp 13,08 triliun atau tumbuh 131,97% secara tahunan (year on year/yoy) sampai dengan Oktober 2021. Pertumbuhan laba bersih multifinance diproyeksi masih akan berlanjut di tahun 2022.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pendanaan yang diterima multifinance memang tidak banyak bergerak, tapi fasilitas pendanaan yang belum ditarik mulai menunjukkan penyusutan. Fasilitas dana menganggur multifinance setidaknya mulai turun sejak Juli-Oktober, secara berurutan dari Rp 222,93 triliun, Rp 220,97 triliun, Rp 210,63 triliun, dan Rp 210,75 triliun.

Hal itu menunjukkan adanya upaya multifinance untuk mengucurkan pembiayaan baru, meski piutang pembiayaan masih negatif karena diikuti adanya pelunasan dari pada debitur.

Secara bulanan, piutang sempat naik 0,08% month to month (mtm) menjadi sebesar 359,1 triliun pada September 2021. Nilai itu kemudian turun tipis atau sebesar 5,51% (yoy) menjadi Rp 358,96 triliun per Oktober 2021.

Kembali bergairahnya penyaluran pembiayaan multifinance turut terlihat dari financing to asset ratio (FAR) secara bertahap mulai naik sejak awal tahun dari kisaran 81% menjadi 83,34% di Oktober 2021. Rasio likuiditas itu memang masih relatif tebal dibandingkan situasi sebelum pandemi dengan FAR yang dapat mencapai 87%.

Seiring tetap berupaya terus melakukan pemulihan dari sisi bisnis, multifinance mesti tetap menjaga kualitas aset agar laba tidak tergerus demi kelangsungan bisnis. Apalagi piutang pembiayaan yang direstrukturisasi mencapai Rp 216,22 triliun terhadap 5,19 juta kontrak.

Tapi di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memberi proyeksi optimistis pada tahun 2022. Proyeksi pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 1% di 2022, dengan asumsi piutang ditutup susut 5% di 2021. Tapi jika piutang pembiayaan bisa ditutup turun 1% di 2021, maka proyeksi piutang pembiayaan dinilai mampu meningkat hingga 3% di tahun 2022.

Dari sisi keuangan, rasio non performing financing (NPF) multifinance sudah lebih baik meski masih bergerak fluktuatif. Per Oktober 2021 tercatat di level 3,89%, menguat dibanding posisi 4,71% pada periode sama tahun lalu.

Perbaikan itu diikuti rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang menguat dari 91,22% di Oktober 2020 menjadi 80,63% di Oktober 2021.

BOPO susut lebih karena beban turun lebih dalam dibandingkan penurunan pada pos pendapatan. Penurunan beban banyak dicatatkan beban bunga, serta beban penyisihan/penyusutan atas piutang pembiayaan. Alhasil, laba bersih multifinance berhasil melesat 131,97% (yoy) menjadi Rp 13,08 triliun per Oktober 2021, dibandingkan Rp 5,63 triliun di periode sama tahun lalu.

clipan finance
Clipan Finance

Direktur Utama PT Clipan Finance Indonesia Tbk Harjanto Tjitohardjojo menyampaikan, proyeksi pertumbuhan pembiayaan di 2021 secara year to date (ytd) kurang lebih Rp 3,5 triliun. Di 2022, perseroan akan menargetkan pertumbuhan pembiayaan sekitar 71% dari target 2021 yakni menjadi Rp 6 triliun.

"Target 2022 Rp 6 triliun. Lini pembiayaan mobil penumpang masih besar, disamping pembiayaan mobil komersial terus meningkat potensinya. Untuk laba bersih 2022 akan lebih baik, walaupun ada tantangan customers yang NPF," kata Harjanto kepada Investor Daily, Rabu (29/12).

Sedangkan merujuk Laporan Pelaksanaan Public Expose Clipan Finance Tahun 2021, saat ini jumlah restrukturisasi perseroan sekitar Rp 3,4 triliun atau mencakup 30% dari aset, sebesar 97% portofolio restrukturisasi tersebut disebabkan karena pandemi Covid-19. Namun demikian, saat ini mayoritas sudah lunas dan hanya sisa sekitar 20% restrukturisasi yang masih berjalan.

Dari aspek bisnis, salah satu strategi perusahaan dalam menyalurkan pembiayaan pada mobil penumpang adalah menurunkan bunga, meski masih bergantung pada bunga yang diberikan oleh bank. Di samping itu, perseroan masih memperhatikan untuk mempercepat proses pelayanan secara digital.

Clipan Finance menyadari permintaan pembiayaan mobil penumpang memang agak seret di tahun 2021 karena kapabilitas debitur yang terbatas karena pandemi.

Pada akhirnya memang perseroan harus menurunkan bisnis pada lini tersebut, khususnya mobil penumpang premium. Meski begitu, perseroan turut memanfaatkan adanya relaksasi PPnBM dengan membukukan pembiayaan sebesar Rp 200 miliar.

Di sisi lain, Direktur BFI Finance Indonesia Tbk Sudjono menyampaikan, kinerja perseroan kian membaik dari kuartal per kuartal. Perseroan akan fokus pada transformasi digital di 2022 serta melanjutkan akselerasi bisnis pada debitur eksisting maupun bisnis baru.

"Pertumbuhan tahun 2022, dengan asumsi kondisi pandemi yang stabil, ditargetkan naik kurang lebih 10-15% dari pencapaian di tahun 2021," kata Sudjono.

Dia mengatakan, target pertumbuhan 10-15% juga diharapkan terjadi pada lini pembiayaan alat berat di tahun 2022. Adapun selama Januari-Oktober 2021, pembiayaan alat berat mencapai Rp 900 miliar, sekitar 25-27% dari nilai tersebut berasal dari sektor batu bara yang belakangkan sedang menjadi primadona.

Di samping itu, Sudjono juga bilang saat ini NPF Coverage BFI Finance sudah mencapai 3,2%. Oleh karena itu, collection akan dilakukan dengan efisien melalui data analytic and management yang sedang dikembangkan, termasuk dengan tetap menjaga kehati-hatian dari sisi penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Hingga kuartal III-2021 BFI Finance berhasil mencatatkan peningkatan nilai pembiayaan baru sebesar Rp 9,4 triliun atau naik 72,7% (yoy) dan 4,2% jika dibandingkan secara quarter to quarter (qtq). Pencapaian itu diikuti NPF bergerak positif di level 1,97%, atau menguat 70 basis points (bps). Pencadangan yang baik pun mendorong NPF net di posisi 0,3%.

Dengan hasil positif tersebut, BFI Finance berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp796 miliar, atau meningkat sebesar 53% dibandingkan perolehan pada periode sama tahun sebelumnya. Piutang pembiayaan dibukukan sebesar Rp 13,7 triliun, dengan portofolio 71,7% dari lini mobil bekas, alat berat 9,3%, dan 5,3% dari property-backed financing (PBF), mobil baru, dan syariah.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN