Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tren Penjualan Otomotif Dongkrak Piutang Multifinance Tumbuh 2,91%

Jumat, 3 Juni 2022 | 15:10 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Tren positif penjualan di industri otomotif ikut mendongkrak piutang multifinance tumbuh 2,91% secara year on year (yoy) menjadi Rp 374,31 triliun per Maret 2022. Namun, nilai piutang masih jauh dari pencapaian pra pandemi Covid-19 karena derasnya pelunasan oleh debitur.

Statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggambarkan, piutang pembiayaan multifinance pada Maret 2020 mencapai Rp 452,47 triliun, kemudian turun signifikan 19,61% menjadi Rp 363,70 triliun pada Maret 2021. Dengan demikian, nilai piutang pembiayaan per Maret 2022 masih lebih rendah 17,27% dibandingkan Maret 2020 atau pra pandemi Covid-19.

Penyusutan akibat pandami itu tidak terlepas dari melemahnya lini pembiayaan barang konsumsi yang diantaranya adalah kendaraan bermotor. Pembiayaan lini tersebut susut hingga 18,81% pada Maret 2021, namun telah naik 3,61% menjadi Rp 266,25 triliun pada Maret 2022.

Kini, semua jenis pembiayaan kendaraan sudah mulai naik kecuali mobil bekas yang turun 4,08% (yoy) menjadi Rp 53,68 triliun per Maret 2022. Jika dirinci, pembiayaan motor baru naik hingga 3,37% menjadi Rp 65,57 triliun, motor bekas naik 10,14% menjadi Rp 18,50 triliun, dan mobil baru tumbuh 5,18% menjadi Rp 114,83 triliun.

Baca juga: Gencar Bangun Brand di Ranah Digital, Belasan Brand Raih Penghargaan

Tentu pencapaian itu seiring dengan penjualan wholesale kendaraan roda empat atau lebih yang dicatatkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Penjualan kendaraan roda empat atau lebih pada kuartal I-2022 mencapai 263.810 unit, naik 41,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah itu disebut telah melampaui penjualan pra pandemi atau situasi normal.

Sementara berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), pada Maret 2022, angka penjualan sepeda motor baru sanggup terdistribusi hingga 450.565 unit. Pencapaian Maret tersebut menjadi yang terbesar sepanjang awal tahun ini.

"Sejak 2021 sudah terjadi peningkatan pembiayaan, mulai dari stimulus PPnBM. Bahkan meskipun pada 2021 perusahaan pembiayaan masih minus 1,5%, sekarang sudah tumbuh positif. Apalagi dengan mobilisasi yang mulai meningkat dan PPKM level 1, ini akan membuat banyak orang juga mau beli mobil dan pembiayaan akan terus meningkat," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno kepada Investor Daily, Kamis (2/6) malam.

Dia mengungkapkan, tantangan industri otomotif saat ini sekaligus bagi multifinance adalah terbatasnya unit kendaraan yang tersedia karena permasalahan semikonduktor. Pihaknya percaya sejumlah pendekatan telah dilakukan industri terkait, sehingga ketersediaan unit kendaraan akan segera terpenuhi sesuai permintaan pasar.

Baca juga: Carsome Experience Center Hadir di Depok, Perkuat Pasar Jabodetabek

Suwandi juga menyatakan, nilai piutang pembiayaan belum bisa kembali ke situasi normal atau pra pandemi Covid-19 meskipun multifinance sudah gencar menyalurkan pembiayaan baru (booking). Faktor utamanya adalah nilai piutang yang lunas lebih banyak dibandingkan booking yang dicatatkan multifinance. Belum lagi, tidak sedikit dari masyarakat yang memilih membeli kendaraan atau barang lainnya secara tunai atau langsung lunas.

"Pelunasan yang terjadi cukup deras, sedangkan booking belum lama gencar terjadi, ini belum seimbang. Sekarang gap penurunan pembiayaan multiguna makin sedikit. Ini belum stabil karena juga dipengaruhi masalah semikonduktor," jelas Suwandi.

Tingkat pelunasan itu, kata dia, tercermin dari financing to asset ratio (FAR) yang sempat menyusut dalam satu tahun awal pandemi Covid-19. FAR yang juga mengukur likuiditas atau kemampuan multifinance dalam memenuhi permintaan pembiayaan terhadap total aset yang dimiliki kini mulai meningkat dalam setahun belakangan.

Data OJK memaparkan, FAR multifinance pada Maret 2020 tercatat di level 83,29%. Cenderung terus menurun setidaknya sampai titik terendah yakni 80,99% per Februari 2021. Selanjutnya bergerak naik hingga mencapai 84,39% per Maret 2022.

Baca juga: Kemenperin dan JICA Kerja Sama Tiga Proyek Pengembangan Otomotif

Ketika pandemi, sejumlah perusahaan pun tetap menyalurkan pembiayaan meski lebih hati-hati. Alhasil tingkat pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) turut menunjukkan perbaikan. Puncaknya NPF pernah mencapai 5,60% pada Juli 2020. Tapi kemudian cenderung terus membaik hingga level 2,78% per Maret 2022 atau untuk pertama kalinya NPF mampu dibawah 3% sepanjang pandemi Covid-19 berlangsung.

Memandang kinerja hingga Maret 2022, Suwandi masih mengacu proyeksi APPI bahwa pertumbuhan pembiayaan tahun ini paling tinggi sebesar 12%, seperti prediksi OJK. Pertumbuhan moderat sebesar 7-9% dan pembiayaan tumbuh 5-6% untuk skenario terburuk.

Lebih lanjut, emiten multifinance yakni PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF) pun sejatinya mencatat pembiayaan baru meningkat sebesar 32,5% (yoy) menjadi Rp 7,2 triliun di kuartal I-2022. Tren positif juga dicatatkan kualitas aset atau NPF yang turun dari 3,4% pada Maret 2021 menjadi 2,0% pada Maret 2022.

Tapi total piutang yang dikelola (termasuk porsi pembiayaan bersama) perusahaan turun 2,8% (yoy) hingga Maret 2022 atau menjadi Rp 40,8 triliun. Penurunan itu disebabkan rundown portfolio yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pembiayaan baru.

Baca juga: Arya Sinulingga: Tak Ada yang Hambat BUMN Sponsori Formula E

Emiten lainnya yakni PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance/BFIN) mencatat rekor baru pembiayaan baru mencapai Rp 4,8 triliun, melesat 61,8% (yoy) pada Maret 2022. Perolehan itu mendorong piutang pembiayaan naik 18,52% (yoy) menjadi Rp 14,72 triliun, tapi masih lebih rendah dibandingkan piutang pembiayaan mencapai Rp 17,36 triliun pada Maret 2020.

Begitu juga PT Buana Finance Tbk (BBLD), dalam laporan keuangannya telah mampu membukukan piutang pembiayaan konsumen tumbuh tipis 0,67% (yoy) menjadi Rp 2,53 triliun. Nilai itu juga belum kembali dibandingkan Maret 2020 sebesar Rp 3,47 triliun. 

Sedangkan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (Clipan Finance/CFIN) yang mulai melepas portofolio pembiayaan mesin dan kapal ini mulai fokus pada pembiayaan mobil baru dan bekas. Perseroan telah menyalurkan pembiayaan baru sekitar Rp 1,5 triliun sepanjang kuartal I-2022.

Tapi dalam realisasinya, piutang pembiayaan konsumen yang diantaranya adalah pembiayaan kendaraan relatif terus menyusut. Pada Maret 2020 piutang pembiayaan konsumen mencapai Rp 12,25 triliun, turun menjadi Rp 8,12 triliun pada Maret 2021, dan menjadi Rp 7,13 triliun pada Maret 2022.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN