Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah  mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah mendapatkan pelayanan di salah satu perusahaan pembiayaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Juni 2022, Piutang Pembiayaan Multifinance Capai Rp 405,95 T

Selasa, 2 Agustus 2022 | 14:09 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Piutang pembiayaan multifinance tercatat tumbuh 4,98% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 405,95 triliun per Juni 2022. Kendati dihantui tingkat inflasi dan suku bunga, tren penguatan piutang masih berpotensi berlanjut di paruh kedua tahun ini.

Piutang pembiayaan multifinance tengah menunjukkan tren pemulihan akibat pandemi Covid-19. Piutang pembiayaan terus menunjukkan tren pertumbuhan sejak titik terendah pada Agustus 2021 sebesar Rp 383,77 triliun.

Advertisement

Dibandingkan capaian akhir 2019 yang mencapai Rp 469,32 triliun, piutang pembiayaan multifinance per Juni 2022 telah pulih (recovery) 86,5%. Piutang pembiayaan tidak bisa langsung melesat karena penyaluran pembiayaan baru terus beriringan dengan pelunasan angsuran dari para debitur.

"Namun demikian, data OJK, outstanding pokok piutang pembiayaan per Juni 2022 mencapai Rp 405,95 triliun dan masih meningkat sebesar 4,98% yoy," kata Kepala Eksekutif Pengawas IKNB sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Ogi Prastomiyono, baru-baru ini.

Baca juga: BOPO Multifinance Terendah Sejak PandemiPermata

Menurut dia, multifinance dihadapkan beberapa tantangan dalam tren pemulihan piutang pembiayaan. Salah satunya adalah faktor kenaikan inflasi yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat, sehingga berdampak pada penyaluran pembiayaan baru dan pembayaran angsuran debitur eksisting.

Tapi kata dia, sebaran penyaluran pembiayaan juga bisa mendukung berbagai sektor guna mendukung pengendalian risiko inflasi. "Pemulihan kinerja perusahaan pembiayaan dapat membuka akses pembiayaan untuk mendukung optimalisasi kapasitas produksi sehingga kenaikan demand masyarakat dapat dipenuhi dan risiko inflasi dapat dikendalikan," ungkap dia.

Seiring pemulihan piutang, Ogi mengimbau multifinance untuk mempersiapkan diri menjelang berakhirnya kebijakan relaksasi kredit/pembiayaan. Pemantauan berkala risiko portofolio pembiayaan yang direstrukturisasi perlu secara konsisten dilakukan.

"Perusahaan pembiayaan perlu memiliki informasi yang lengkap dan akurat untuk mengantisipasi skenario pemburukan yang mungkin terjadi pasca berakhirnya periode kebijakan relaksasi atas piutang pembiayaan yang direstrukturisasi," tegas dia.

Baca juga: Bank (BNLI) Pimpin Sindikasi Fasilitas Kredit Rp 1,2 Triliun Ke Mandala Multifinance (MFIN)

Di samping itu, Ogi turut mengapresiasi pelaku industri multifinance yang mampu menjaga risiko pembiayaannya. Pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross tercatat sebesar 2,81% per Juni 2022. Nilai ini memang lebih rendah dari posisi Desember 2021 sebesar 3,53%, namun bergerak naik dalam dua bulan terakhir.

Di samping itu, gearing ratio (GR) multifinance berada di level 1,98 kali per Juni 2022, jauh di bawah batas maksimum 10 kali. Sedangkan financing to asset ratio (FAR) per Mei 2022 sebesar 85,32%. Masih cukup ruang untuk multifinance lebih ekspansif di putaran kedua tahun ini.

Direktur PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance) Harry Latif menuturkan bahwa daya beli masyarakat menyangkut otomotif masih luar biasa, kendati memang ada sejumlah kendala. Selain itu, optimisme harga komoditas masih cukup baik, sehingga dapat menetralisir sentimen peningkatan inflasi dan suku bunga.

"Jadi rasanya kita masih cukup optimis di semester II-2022 untuk bisa lebih baik dari semester I-2022. Informasi dari beberapa APM (agen pemegang merek), mulai ada kepastian atau keyakinan meningkatkan produksi. Rasanya dengan produksi bertambah, mestinya adanya realisasi cukup baik di otomotif dan perusahaan sendiri," kata dia.

Baca juga: Laba 14 Emiten Multifinance Naik Kencang nih!

Emiten berkode ADMF ini menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan baru mencapai Rp 30-32 triliun pada tahun 2022. Sedangkan sampai dengan semester I-2022, perseroan telah merealisasikan pembiayaan baru sebesar Rp 14,3 triliun. Penyaluran pembiayaan baru ini dipacu untuk mendongkrak piutang yang masih melandai Rp 41 triliun.

Sementara itu, Finance Director PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance/BFIN) Sudjono mengungkapkan, pembiayaan baru tumbuh sebesar 49,8% (yoy) menjadi Rp 8,53 triliun pada semester I-2022. Pertumbuhan BFIN didukung peningkatan mobilitas masyarakat yang mendorong permintaan pembiayaan otomotif dan alat-alat berat.

"Sejauh ini, performa positif semester pertama 2022 menunjukkan bahwa target kami dalam mengembalikan size bisnis ke level normal seperti sebelum pandemi Covid-19 tercatat on track. Tentunya, pencapaian ini berkat kepercayaan dan dukungan seluruh stakeholders kepada BFI Finance," ujar Sudjono.

Di sisi lain, masa ekspansif dari mutlfinance turut ditunjukkan mulai bergeliatnya penerimaan pendanaan yang datang dari dalam negeri. Hal ini dinilai seiring dengan kembalinya kepercayaan bank-bank dalam negeri maupun luar negeri terhadap kinerja positif dari multifinance.

Baca juga: Tren Penjualan Otomotif Dongkrak Piutang Multifinance Tumbuh 2,91%

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, pendanaan dari dalam negeri sempat terpuruk dari Rp 178 triliun pada 2019 menjadi hanya Rp 140 triliun pada 2020. Tapi di akhir 2021, pendanaan dari dalam negeri kembali naik menjadi Rp 144 triliun.

Hal tersebut berlanjut sampai dengan April 2022 dengan pendanaan dalam negeri yang meningkat menjadi Rp 151 triliun. "Sedangkan pendanaan dari luar negeri masih ada, kendati menurun karena isu green financing dan isu kenaikan suku bunga Fed. Bank-bank dalam negeri kita melihat bahwa perusahaan pembiayaan sudah sangat baik dari berbagai aspek," ungkap Suwandi.

Indikator positif multifinance misalnya terkait rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang mampu susut di bawah 80%. Padahal, beberapa tahun lalu multifinance sempat mencatatkan BOPO sampai dengan 91%.

Selain itu, menurut dia, gearing ratio terjaga rendah sehingga membuka peluang perusahaan pembiayaan lebih ekspansif. Rasio NPF pun bergerak tapi dalam tren penurunan. Terkait pencadangan, sejak awal tahun 2020 multifinance telah mulai menyesuaikan besaran pencadangan sesuai PSAK 71, termasuk guna mengantisipasi portofolio restrukturisasi. 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN