Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance) Hafid Hadeli saat konferensi pers daring, Kamis (1/7). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Utama PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance) Hafid Hadeli saat konferensi pers daring, Kamis (1/7). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Adira Finance bagi Dividen 50% dari Laba Rp 512,8 Miliar

Jumat, 2 Juli 2021 | 04:43 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance) bakal membagikan dividen tunai mencapai Rp 512,8 miliar atau 50% dari laba bersih perseroan tahun 2020. Di samping itu, perseroan masih optimistis menatap pembiayaan baru tahun ini bisa tumbuh 20-25%.

Direktur Utama Adira Finance Hafid Hadeli menyampaikan, Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2020 menyepakati sejumlah keputusan. Para pemegang saham menyetujui penyisihan 1% dari laba bersih atau senilai Rp 10,3 miliar sebagai laba ditahan, sesuai dengan Undang-undang Perseroan Terbatas (PT). Adapun RUPST juga memutuskan membagikan dividen di tahun ini.

"Kita juga menyetujui pembagian dividen 50% dari hasil laba tahun 2020 sebesar Rp 513 rupiah per lembar saham. Memang turun dibandingkan tahun sebelumnya tapi dalam masa pandemi ini rasanya masih bersyukur kita membukukan profit," kata dia saat konferensi pers daring, Kamis (1/7).

RUPST menyetujui laporan keuangan yang telah diaudit dan mendapat opini wajar tanpa modifikasian (WTM) oleh Akuntan Publik Tanudiredja Wibisana, Rintis dan Rekan (anggota dari jaringan PwC). Tahun ini, para pemegang saham menunjuk akuntan publik Bayu M Dayat dan Imelda & rekan, firma anggota Deloitte Touche sebagai kantor akuntan publik, untuk mengaudit laporan keuangan di tahun 2021.

Para pemegang saham mengangkat kembali seluruh anggota direksi serta mengangkat Manggi Taruna Habir sebagai komisaris independen menggantikan Djoko Sudyatmiko. Selain itu, Rini Fatma Kartika juga dipercaya untuk menggantikan Oni Sahroni sebagai dewan pengawas syariah perusahaan.

Sementara itu, Hafid menuturkan, pihaknya masih optimistis target pertumbuhan pembiayaan di tahun ini masih bisa dicapai meski terdapat sejumlah kendala. Apalagi segmen pembiayaan mobil baru belangkangan disebut mampu tumbuh dengan pesat sebagai dampak dari subsidi pajak PPnBM oleh pemerintah.

"Kita menargetkan pertumbuhan pembiayaan itu di level 20-25% dibandingkan tahun kemarin. Kita masih melihat dan membuka kemungkinan untuk pertumbuhan tersebut. Memang ada gangguan-gangguan dari pandemi ini tapi mudah-mudahan cepat teratasi. Harapan kita pemerintah bisa mengatasi dengan cepat dan gangguan ini tidak berlangsung lama. Jadi sampai sekarang kita masih optimis," kata dia.

Tahun 2020, Adira Finance membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 18,6 triliun atau turun 50% secara tahunan (year on year/yoy). Jika dirinci, pembiayaan sepeda motor mencapai Rp 10,3 triliun (55%) dan pembiayaan mobil mencapai Rp 8,0 triliun (45%).

Hafid mengatakan, restrukturisasi pembiayaan yang dilakukan perusahaan pada tahun 2019 mencapai Rp 19 triliun. Tapi 80% diantaranya diakui sudah kembali normal dan hanya tersisa sedikit portofolio yang masih perlu diperhatikan. Fenomena positif itu juga ditunjukkan pada pembiayaan baru, meskipun masih ada yang mengajukan restrukturisasi pembiayaan namun nilainya terbilang cukup kecil.

Sementara itu, dia mengungkapkan, kebijakan PPKM Darurat yang bakal diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia diakui akan berdampak pada bisnis perusahaan. Namun demikian, pihaknya melihat kebijakan itu perlu dilakukan untuk menyeimbangkan sisi kesehatan dan kegiatan ekonomi. Dengan upaya pemerintah mempercepat vaksinasi, pihaknya meyakini kebijakan tersebut akan mempercepat pemulihan ekonomi dan memberi dampak baik pada perusahaan pada masa mendatang.

"Tentunya pemerintah sekarang lebih berhati-hati untuk menyeimbangkan faktor kesehatan dan kegiatan ekonomi. Kita berharap periode PPKM Darurat itu sekitar dua minggu, tidak lama-lama, sehingga pertumbuhan bisa kembali berlanjut sampai akhir tahun," jelas dia.

Adira Finance memastikan bahwa transformasi digital pada perusahaan masih akan terus berlanjut. Sejak diterapkan sejak 2017, digitalisasi sudah membuat proses bisnis internal perseroan lebih ramah lingkungan, begitu juga proses bisnis dengan mitra dealer. Saat ini, transformasi digital sedang difokuskan untuk menjawab kebutuhan konsumen.

"Sekarang juga sudah lebih maju dengan kehadiran AdiraKu untuk menjalin proses yang mudah bersama konsumen. AdiraKu sudah didownload lebih dari 1 juta, dan sudah banyak fitur. Mimpinya tentu orang bisa membeli motor dengan satu klik saja, tentu untuk para konsumen baik kami. Dengan cara itu kami ingin konsumen lebih nyaman," terang Hafid.

Chief Financial Officer Adira Finance I Dewa Made Susila menambahkan, secara reguler modal usaha untuk kebutuhan teknologi informasi (TI) sudah perusahaan siapkan. Lebih dari itu, perusahaan juga menyisihkan banyak investasi baru, terutama menyangkut kebutuhan digitalisasi yang berorientasi pada konsumen.

Pada kesempatan itu, Made turut menjelaskan, pendanaan perusahaan cukup kondusif untuk bisa memenuhi target pembiayaan tahun ini. Rating perusahaan masih bertahan di Triple A untuk lokal dan Triple B di internasional. Hal itu memungkinkan perusahaan memiliki cukup banyak lini mencari sumber dana. Tapi perseroan masih akan fokus untuk melakukan diversifikasi pendanaan.

"Kebutuhan likuiditas yang saat ini cukup terjaga dan banyak mendapat kepercayaan dari bank dan pasar modal karena Adira Finance sama sekali tidak melakukan restrukturisasi atas kewajibannya. Selanjutnya kita selalu melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Saat ini kita memang banyak melakukan perubahan sumber pendanaan untuk mendapatkan biaya dana atau cost of fund (CoF) yang optimal dan kompetitif," kata dia.

Made menambahkan, dari total pembiayaan yang telah disalurkan perusahaan, 44% diantaranya adalah joint financing dengan perusahaan induk yakni Bank Danamon. Sisa pembiayaan dilakukan sendiri dengan sumber dana 55% dari perbankan dalam dan luar negeri, serta 45% dari penerbitan obligasi dan sukuk.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN