Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).  Foto: B1-Ruth Semiono

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019). Foto: B1-Ruth Semiono

APPI Prediksi Pembiayaan Multifinance Kembali Normal 2022/2023

Rabu, 28 Oktober 2020 | 18:17 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memprediksi bahwa pembiayaan multifinance akan kembali normal pada 2022 atau 2023. Prediksi itu didasarkan pada proyeksi penjualan kendaraan motor ataupun mobil yang bakal pulih secara perlahan.

Ketua APPI Suwandi Wiratno menyampaikan, data Asosiasi Kendaraan Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) memaparkan penjualan akan ditutup pada kisaran 3,9 juta unit. Posisi itu turun sekitar 40% dibandingkan penjualan motor pada 2019 sebanyak 6,4 juta unit.

Sedangkan pada 2021, AISI memperkirakan penjualan motor di kisaran 4-4,3 juta unit, dengan harapan penjualan bisa mencapai 4,9 juta unit. Penjualan motor belum bisa kembali normal pada tahun depan.

Sementara itu, kata dia, realisasi dan proyeksi  penjualan mobil pun hampir serupa. Hasil diskusi APPI dengan sejumlah produsen penjual mobil, awalnya memperkirakan penjualan akan ditutup mencapai 600 ribu unit tapi jumlah lebih realistik diperkirakan sebanyak 520 ribu unit di tahun ini. Pada 2021 diharapkan bisa menjual sebanyak 775 ribu unit mobil.

Pada keadaan normal, produsen mobil bisa menjual sampai 1,1 juta unit. Selain itu, penjualan mobil bekas pun diprediksi akan terperosok 80-90%.

"Jadi kembali ke angka 1,1 juta bisa di tahun 2022 atau 2023. Jadi pemulihan pembiayaan tidak bisa langsung cepat, tapi kita akan kembali pulih. Di sinilah para pelaku usaha yang tadinya aset sudah besar harus mulai belajar untuk melakukan efisiensi terhadap organisasinya," kata Suwandi pada suatu diskusi virtual, Selasa (27/10).

Dia mengemukakan, di tengah Covid-19 tantangan industri multifinance tidak bisa lepas dari restrukturisasi portofolio nasabah, pembiayaan yang tidak bisa tumbuh, dan kesulitan pendanaan akibat bank yang hampir tidak mengucurkan dananya sejak bulan ketiga tahun ini.

Kemudian, sambung dia, pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) multifinance meningkat dari situasi normal 1,8% menjadi 5,2% di Agustus 2020. Hal yang menjadi dilema adalah arahan pemerintah untuk melakukan restrukturisasi tapi multifinance kesulitan untuk melakukan collection pada nasabah yang tidak direstrukturisasi.

"Nah strategi untuk multifinance bertahan adalah tetap berusaha melakukan collection di tengah kesulitan mendapatkan pendanaan. Pelaku multifinance itu pejuang, melakukan collection dengan berbagai cara. Ada yang collection-nya mencapai 100%. Caranya sumber daya kita optimalkan, tapi ada kesulitan di sumber dana," kata Suwandi.

Lebih lanjut, Suwandi mengatakan, multifinance yang tidak terafiliasi akan terancam tidak memiliki likuiditas yang cukup. Dengan begitu, jumlah multifinance akan berkurang karena tidak mampu bersaing dan industri akan makin kompetitif.

Dengan demikian, dia mengungkapkan, pertumbuhan pembiayaan tidak akan tinggi karena multifinance akan selektif mendapatkan debitur baru. Oleh karena penjualan menurun dan portofolio tidak meningkat, maka NPF pun akan merambat naik. Meski begitu, NPF tetap dalam batas-batas yang bisa ditolerir.

Strategi 2021
Sementara itu, Suwandi menuturkan, kondisi yang berlangsung sepanjang 2020 menjadi bekal multifinance melangsungkan bisnis di tahun 2021. Menurut dia, suka atau tidak multifinance mesti berubah dengan mengandalkan teknologi informasi.

"Menuju kearah normal baru, suka tidak suka kita mesti berubah. Sejumlah organisasi itu melakukan lockdown sendiri. Walaupun sudah ada yang masuk kantor dengan persentase tertentu. Ternyata, kita bisa lakukan secara efektif dan efisien dengan teknologi. Di perusahaan saya, dengan teknologi kita masih bisa booking Rp 200-300 miliar per bulan," ucap dia.

Suwandi menambahkan, ada kemungkinan bahwa penjualan kendaraan bahkan di masa mendatang tidak lagi memerlukan showroom. Beberapa perusahaan telah menjajal melakukan penjualan lewat pameran secara virtual, dan cara tersebut dinilai berhasil. Kini, nasabah sudah bisa memilih, membeli, hingga tandatangan kontrak melalui bantuan teknologi.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN