Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
BFI Finance

BFI Finance

BFI Finance Bidik Kenaikan Pembiayaan Baru 75%

Sabtu, 13 Februari 2021 | 13:37 WIB
Lona Olavia

JAKARTA - Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menargetkan pertumbuhan pembiayaan baru untuk tahun 2021 sebesar Rp 13,5 triliun. Target tersebut naik sekitar 75% dibandingkan  tahun 2020.

“Target tersebut masih sedikit dibawah pencapaian bisnis di tahun 2019. Ini karena kita berharap masalah Covid sudah mulai bisa terkendali, sehingga ekonomi bisa ikut bergerak normal secara bertahap,” jelas BFI dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Selain dari mobil bekas (used car) yang mendominasi pembiayaan, perseroan juga akan menggenjot segmen alat berat. Apalagi permintaan akan berat tengah menanjak akibat terpantik harga komoditas perkebunan maupun pertambangan, serta kegiatan konstruksi pada tahun ini. Untuk itu, pertumbuhan segmen pembiayaan alat berat ditargetkan di atas 20% pada 2021.

Posisi terakhir per September 2020, perusahaan berkode BFIN ini membukukan piutang pembiayaan bersih senilai Rp 13,52 triliun, tercatat turun 19,4% (year-on-year/yoy) dari posisi 2019 di Rp 16,77 triliun.

Komposisi piutang pembiayaan yang dikelola BFIN masih didominasi segmen mobil bekas sekitar 72%, disamping pembiayaan alat berat dan permesinan yang mencapai 14,3%, motor bekas 9,2%, serta sisanya pembiayaan mobil baru, property-backed, dan syariah mencapai 4,7%.

Perseroan berharap sentimen positif terhadap salah satu segmen andalan BFI Finance ini mampu mendorong rencana perusahaan pada 2021 untuk mengembalikan size bisnis seperti sebelum pandemi Covid-19. Terutama dari sisi pembiayaan baru, apabila pada periode 2020, tepatnya hingga kuartal III-2020 BFI Finance hanya mampu memembukukan Rp 5,43 triliun. Selisihnya jauh dari capaian kuartal III-2019 yang mencapai Rp 11,31 triliun, atau turun 52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Oleh karena itu, dalam rencana bisnisnya, BFI Finance sedang gencar memanfaatkan peluang bisnis di tengah perbaikan ekonomi makro, termasuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh sebagian kompetitor.

BFI Finance pun tahun ini dalam posisi sangat siap untuk back to track. Hal itu sejalan dengan kondisi pandemi yang diharapkan mulai bisa terkendali seiring vaksinasi dan aktivitas ekonomi membaik. “Pada tahun 2021, perusahaan siap untuk lebih ekspansif untuk mengejar size bisnis ke level di tahun sebelum pandemi. Jaringan kerja, pendanaan, serta penyesuaian pola kerja telah dipersiapkan agar jika kondisi pandemi sudah mulai terkendali dan vaksinasi berjalan efektif maka, BFI dapat bergerak dengan cepat,” tulisnya.

Lebih lanjut, BFI Finance berencana menyelesaikan seluruh restrukturisasi piutang yang terjadi selama kondisi pandemi sehingga tidak ada perbedaan kualitas antara piutang normal dan restrukturisasi, serta transformasi digital untuk seluruh transaksi dengan penerapan teknologi berbasis data.

“Restrukturisasi piutang yang terjadi selama kondisi pandemi sampai tahun lalu masih dalam pemantauan agar semaksimal tidak kembali bermasalah, walaupun BFI telah melakukan pencadangan biaya yang sangat besar di akhir tahun 2020. Proses transformasi digital tetap berjalan secara berkelanjutan, seperti melakukan kolaborasi dengan beberapa pihak dalam hal data analytics dan data warehouse untuk credit scoring,” katanya.

Di sisi lain, untuk menggenjot target pembiayaan, BFI Finance menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 100 miliar hingga Rp 140 miliar. Alokasi capex terutama untuk pengembangan sistem dan teknologi informasi. Adapun, dana capex sepenuhnya menggunakan kas internal perseroan. [

Sementara itu, BFI Finance menyatakan siap melunasi obligasi yang akan jatuh tempo pada Maret 2021 sebesar Rp 1 triliun. Di mana, dana untuk pelunasan obligasi tersebut telah disiapkan dari cadangan kas internal perusahaan. Sebelumnya, pihaknya telah melunasi obligasi tahun 2017 seri C sekitar Rp 400 miliar. 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN