Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman pada acara peluncuran produk pengurusan porsi haji (PPH) bernama CNAF Haji, Senin (26/4/2021). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman pada acara peluncuran produk pengurusan porsi haji (PPH) bernama CNAF Haji, Senin (26/4/2021). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

CNAF Bidik Pembiayaan Baru Tumbuh 25%

Selasa, 27 April 2021 | 22:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

 

JAKARTA, investor.id -- PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) membidik pembiayaan baru (booking) tumbuh 25% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sekitar Rp 4,68 triliun pada 2021. Pada saat yang sama, perseroan juga memproyeksi mampu mendongkrak pendapatan sekaligus menekan biaya-biaya operasional.

"Dengan kondisi Covid-19 yang masih menantang, target yang sudah kita canangkan secara manajemen dan sudah disetujui dewan komisaris, kita berencana meningkatkan booking atau realisasi kredit di 2021 ini cukup menantang dibanding tahun sebelumnya atau naik hampir di angka 25%," ucap Direktur Finance & Strategy CNAF Imron Rosyadi, Senin (26/4).

Adapun jika menilik kinerja di 2020, total piutang pembiayaan CNAF tumbuh 12% (yoy) menjadi Rp 5,51 triliun, dengan pembiayaan baru mencapai Rp 3,75 triliun atau naik 5% (yoy). Dengan demikian, peningkatan sekitar 25% di tahun ini mendorong pembiayaan baru mencapai sekitar Rp 4,68 triliun.

Imron pun mengatakan, kenaikan booking tersebut akan memperbesar piutang pembiayaan CNAF. Maka sisi total pendapatan juga akan ikut meningkat, seiring dengan upaya memperbesar pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI). "Kita juga ada efisiensi opex, cost of credit kita turunkan, termasuk untuk yang online bidding itu kita akan menurunkan LOR-nya, maupun kerugian penjualan mobil dibanding dengan outstanding principle," ujar dia.

Selain itu, baru-baru ini perusahaan juga telah resmi meluncurkan produk pembiayaan baru berupa pengurusan porsi haji (PPH) guna mendorong peran lini bisnis syariah. Lini tersebut dinilai potensial, bahkan memiliki kontribusi besar atas pertumbuhan pembiayaan di tahun lalu.

"Produk ini cukup baik karena kebutuhan pasar juga cukup baik. Karena umat muslim yang besar di Indonesia dan antusiasme tinggi untuk mendaftar haji. Kita melihat risiko dari produk ini juga cukup rendah, baik risk market atau risk profile dengan bekerja sama dengan induk Bank CIMB Niaga," kata Imron.

Dia menambahkan, insentif PPnBM juga mendorong keyakinan perusahaan bisa mencapai target pembiayaan baru. Insentif itu mampu meningkatkan 50% pembiayaan sejak diimplementasikan. CNAF berharap tren tersebut bisa terus berlanjut sampai akhir tahun ini.

Perusahaan Paling Menguntungkan

Di samping itu, Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengungkapkan, tahun ini pihaknya bakal banyak menekan biaya-biaya operasional dengan melanjutkan proyek transformasi digital. Misalnya dari digitalisasi customer services yang sudah menekan biaya dari aspek tenaga kerja. Hal serupa dilakukan dari aspek pelayanan lain.

"Dari sisi pelayanan, standardisasi pelayanan akan lebih prima karena pelayanan dilakukan di kantor pusat, karena bisa dikontrol dan dilatih secara berkala serta berkelanjutan. Yang kita kejar adalah melayani nasabah dengan customer experience yang baik," ungkap dia.

Selanjutnya, Ristiawan menuturkan, biaya operasional akan lebih rendah dengan implementasi tanda tangan digital (digital signature). Sejalan dengan misi menekan biaya-biaya, tanda tangan digital juga akan membuat pelayanan kepada nasabah lebih cepat, nyaman, aman, dan lebih sehat karena tidak perlu bertemu secara langsung.

Strategi lain adalah penerapan geotagging yang mampu memberikan informasi secara langsung suatu wilayah dan kondisi suatu objek. Dalam hal ini, nantinya CNAF bisa mengetahui tempat tinggal dan bekerja. Penerapan geotagging itu memungkinkan CNAF seperti tidak melakukan survei, namun secara tidak langsung perseroan tetap melakukan survei.

"Nasabah juga akan merasa lebih aman karena tidak ada interaksi langsung terkait survei. Dampaknya yang kita harapkan pengalaman nasabah bagus dan loyalitas kepada CNAF. Untuk CNAF adalah efisiensi, karena biaya paling banyak itu biaya terhadap surveyor, itu salah satu biaya paling banyak diantara seluruh biaya ketika melakukan penilaian," kata Ristiawan.

Terakhir, sambung dia, melakukan lelang secara daring (online). Hal itu dinilai bisa menekan biaya hingga Rp 15 juta per unit. Pihaknya juga menggandeng badan lelang lainnya untuk menekan biaya-biaya. "Kita melakukan empat hal ini di tahun 2021 agar visi CNAF menjadi perusahaan paling menguntungkan bisa tercapai," tandas Ristiawan.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN