Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK

OJK

Dorong Pembiayaan Multifinance, OJK bakal Beri Relaksasi Tambahan

Rabu, 11 November 2020 | 07:21 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menerbitkan kebijakan tambahan terkait relaksasi ke perusahaan pembiayaan (multifinance). Sementara itu, sekitar 75% multifinance diperkirakan masih bisa bertahan sampai Maret 2021.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan menyampaikan, pihaknya perlu menyempurnakan kebijakan countercyclical yang telah diterbitkan pada kuartal I-2020 bagi multifinance.

Dalam rangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), OJK mendorong piutang pembiayaan multifinance kembali bergairah lewat sejumlah relaksasi.

Pertama, memperbesar plafon penyaluran pembiayaan modal kerja, modal usaha ke sektor produktif menjadi paling banyak Rp 10 miliar.

Kedua, pembiayaan modal kerja dengan cara fasilitas modal usaha dibawah paling banyak Rp 25 juta, dikecualikan untuk memiliki agunan.

Ketiga, guna mendukung penguatan pendanaan bagi multifinance, OJK memberikan relaksasi efek yang bersifat utang tapi tidak melalui penawaran umum. Dengan persyaratan multifinance wajib memiliki ekuitas lebih besar Rp 100 miliar.

Pada ketentuan sebelumnya ekuitas multifinance paling rendah sebesar Rp 200 miliar. Selain itu, rencana penerbitan surat utang multifinance mesti disampaikan lebih cepat ke OJK. Rencana penerbitan disampaikan dua bulan sebelum penerbitan atau lebih singkat dibandingkan ketentuan sebelumnya yakni enam bulan.

Adapun efek yang akan diterbitkan kurang atau lebih dari Rp 100 miliar tetap harus melakukan pemeringkatan minimal BBB (triple B)

“Perpanjangan kebijakan ini adalah satu tahun ke depan atau akan berakhir pada 2022. Kita harapkan bisa dimanfaatkan. Mudah-mudahan sedikit banyak bisa mendorong bisnis multifinance ada gairah dan positive growth. Tentunya yang dikeluarkan ini ujungnya adalah penguatan sektor jasa keuangan dan OJK senantiasa mendukung percepatan program PEN,” kata Bambang dalam acara Dialog Bisnis Multifinance dengan tema Urgensi Relaksasi Kebijakan Guna Mendorong Kinerja secara virtual, Selasa (10/11).

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan
Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan

Dalam hal ini, sambung dia, OJK siap mengeluarkan kebijakan stimulus lanjutan yang diperlukan secara terukur dan tepat waktu untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Pihaknya pun meyakini kerja sama antarsegenap pihak dari industri pembiayaan, baik dari sisi pelaku bisnis, regulator dan pemangku kepentingan lainnya bisa membuat tantangan yangdihadapi saat ini menjadi batu loncatan bagi multifinance.

Utamanya agar multifinance lebih tangguh terhadap krisis keuangan dan tumbuh secara berkualitas.

Dia mengemukakan, relaksasi tambahan tersebut didasarkan setelah melihat kebijakan atas POJK 14/2020 terkait countercyclical atas dampak pandemic Covid-19 berbuah positif bagi aktivitas multifinance. Pihaknya juga memberlakukan kebijakan batas waktu penyampaian laporan berkala.

Kemudian, melanjutkan perhitungan kualitas pembiayaan yang terdampak dan telah direstrukturisasi ditetapkan menjadi kolektibilitas lancar.

Lalu, membebaskan kewajiban pemenuhan biaya pengembangan dan pelatihan pegawai. Bambang menuturkan, pihaknya turut memberi relaksasi tambahan lain yakni ruang lingkup yang menjadi objek dari pada ketentuan POJK 14/2020 yakni bakal menambahkan  fintech P2P lending serta lembaga keuangan mikro.

“Itu kami masukkan untuk menambah ruang lingkup yang harus di relaksasi di dalam konteks relaksasi,” ucap dia.

Bambang menegaskan, pihaknya menyadari bahwa perkembangan Covid-19 berdampak langsung dan tidak langsung kepada konsumen ataupun multifinance. Hal itu berpotensi menimbulkan permasalahan bagi multifinance. Sampai September 2020, jelas dia, outstanding restrukturisasi pembiayaan di multifinance sebesar Rp 162,6 triliun dengan bunga pembiayaan senilai Rp 42,8 triliun.

Adapun restrukturisasi yang masih diproses mencakup 5,5% piutang pembiayaan atau sebanyak 301 ribu kontrak, dengan outstanding pembiayaan sebesar Rp 11 triliun.

Sebanyak 89% pengajuan restrukturisasi telah disetujui multifinance atau total 3,8 juta kontrak. Namun demikian, terdapat 303 ribu kontrak yang tidak disetujui multifinance dengan outstanding pembiayaan sebesar Rp 9,9 triliun.

“Dalam kondisi seperti ini masih banyak debitur yang tidak terdampak (Covid-19) tapi tetap mengajukan restrukturisasi,” ujar Bambang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN