Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/DAVID

Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Hingga 26 Agustus, Restrukturisasi Pembiayaan Capai Rp 176,3 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2020 | 12:18 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat restrukturisasi yang dilakukan oleh 182 perusahaan pembiayaan sudah mencapai Rp 176,3 triliun per 26 Agustus 2020, nilai tersebut meningkat dari realisasi restrukturisasi pada 19 Agustus yang sebanyak Rp 162,34 triliun.

"Sampai 19 Agustus perusahaan pembiayaan restrukturisasi 4,34 juta kontrak yang nilainya Rp 162,34 triliun, ini terus berkembang di 26 Agustus realisasinya 4,5 juta kontrak dengan total nilai Rp 176,3 triliun," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Riswinandi dalam konferensi pers virtual, Kamis (27/8).

Riswinandi, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero).
Riswinandi.

Riswinandi mengungkapkan, di tengah pandemi Covid-19, perusahaan pembiayaan juga mengalami permasalahan dari rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross yang meningkat ke level 5,5% pada Juli 2020, namun untuk NPF net masih terjaga rendah 1,8% karena multifinance tetap membentuk cadangan.

"Jadi memang perusahaan pembiayaan tetap konsisten membentuk pencadangan untuk mengantisipasi risiko yang ada," tutur dia.

Adapun, pihaknya terus meminta perusahaan pembiayaan untuk melakukan restrukturisasi kepada debitur yang terdampak Covid-19. Nasabah diminta proaktif untuk mengajukan relaksasi tersebut kepada perusahaan pembiayaan.

"Kami terus imbau wilayah-wilayah terbuka terima nasabah, tapi memang ada kendala tidak semua mau datang mereka merasa tidak memenuhi kriteria. Karena yang banyak itu nasabah konsumtif daripada kegiatan usaha," terang Riswinandi.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN