Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OJK. Foto: IST

OJK. Foto: IST

Januari, NPF Multifinance Berlanjut Membaik di Level 3,87%

Senin, 8 Maret 2021 | 05:16 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Upaya perusahaan pembiayaan (multifinance) untuk menekan tingkat pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) terus berlanjut di awal 2021. Per Januari 2021, rasio kualitas pembiayaan itu konsisten menurun menjadi 3,87%.

Berdasarkan pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPF multifinance memang mulai bergerak naik pada Januari 2020 di level 2,56%. Posisi itu terus merambat naik hingga klimaksnya pada Juli 2020 sebesar 5,60%. Pandemi Covid-19 yang memukul ekonomi debitur multifinance menjadi faktor utamanya. Karena dalam hal ini kemampuan bayar angsuran para debitur terus menurun.

Berlanjut pada Agustus 2020 dan seterusnya, lonjakan NPF baru berhasil dikendalikan. Faktornya adalah pelonggaran PSBB yang membuat collection multifinance mulai gencar dilakukan dan pembiayaan mulai kembali disalurkan. Meski belum kembali pulih sepenuhnya, multifinance mampu menutup tahun 2020 dengan NPF 4,01%. Upaya itu berlanjut di Januari 2021 dengan NPF dijaga pada posisi 3,87%.

Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) / Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing. Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Sumber: BSTV

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan, program restrukturisasi pembiayaan masih berjalan. Hal itu menjadi faktor utama NPF bisa menurun. Meski belum diketahui jumlah debitur yang tidak lagi memanfaatkan program itu, kedepan diharapkan para debitur sudah kembali menunjukkan kemampuan bayarnya ketika program berakhir.

"Yang saya dengar dari beberapa teman-teman perusahaan pembiayaan, 60-70% (restrukturisasi pembiayaan) bahkan ada yang lebih, sudah kembali membayar normal. Ini sudah bagus, tapi dimasing-masing perusahaan kan berbeda. Ini akan menjadi suatu kesuksesan dari program restrukturisasi yang diberikan oleh OJK dalam rangka relaksasi terhadap debitur yang terkena dampak Covid-19," ujar dia kepada Investor Daily, Minggu (7/3).

Namun demikian, kata Suwandi, potensi NPF meningkat di masa mendatang selalu terbuka untuk terjadi. Restrukturisasi pembiayaan di multifinance tercatat mencapai Rp 193 triliun terhadap sekitar 5 juta kontrak.

"Kita masih menunggu sampai ini selesai, ujungnya yang menjadi pertaruhan kita bersama adalah pada Maret 2022 saat program restrukturisasi selesai," ucap dia.


Suwandi mengatakan, faktor eksternal memang sangat berpengaruh untuk multifinance menekan NPF. Faktor yang dimaksud dapat seperti perusahaan-perusahaan yang diharapkan masih bisa menjalankan bisnisnya sehingga para karyawan tetap mendapatkan penghasilan dan tidak terkena pemutusan hubungan kerja. Karena hal itu dia meyakini, kualitas pembiayaan multifinance akan secara konsisten membaik.

Dia juga menuturkan, keberhasilan multifinance menekan NPF sejak Agustus 2020 hingga Januari 2021 juga berkat credit scoring yang semakin mumpuni pada periode-periode sebelumnya. Terutama sejak Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) turut diperkenankan pada multifinance pada April 2019. Sejak saat itu, industri jasa keuangan non bank (IKNB) termasuk multifinance bisa melihat kualitas dari setiap debitur yang mengajukan pembiayaan.

"Kenapa NPF semakin baik? Perusahaan pembiayaan sekarang sudah semakin rapi dalam memilih debiturnya, karena sudah ada akses ke SLIK. SLIK itu kan data setiap orang yang mempunyai pinjaman ke industri keuangan. Dulu kan SLIK itu hanya data pinjaman di perbankan saja, sejak April 2019 SLIK itu bisa digunakan di IKNB," tutur dia .

Suwandi mengungkapkan, secara umum kini portofolio pembiayaan multifinance diisi para debitur baik. Didukung data debitur dari Rapindo dan  Pefindo Biro Kredit, serta tentunya SLIK, memungkinkan hanya debitur dengan kualitas baik yang dapat diberikan pembiayaan oleh multifinance. Hal itu juga yang membuat pihaknya yakin ke depan NPF bisa terus ditekan. Apalagi kabarnya penyedia profil para debitur itu terus memperluas data jenis transaksi, sehingga credit scoring juga semakin terukur.


Penyaluran Pembiayaan
Sementara itu, Suwandi mengungkapkan, multifinance masih terus berharap daya beli masyarakat bisa meningkat. Seiring dengan kondisi itu, saat ini multifinance cenderung selektif untuk bisa menyalurkan pembiayaannya. Fenomena tersebut juga yang membuat pembiayaan belum beranjak naik.

"Ketika risiko sudah semakin terukur dan segala macam pendekatan lain, maka perusahaan pembiayaan juga akan semakin percaya diri untuk menyalurkan pembiayaan. Memang sekarang lebih selektif, selain untuk menjaga kualitas pembiayaan juga karena berbagai sektor ekonomi sedang melakukan pemulihan. Ini masih perlu dilihat potensi dan risiko kedepannya," papar dia.

Merujuk pada data OJK per Januari 2021, total pembiayaan turun 1,09% (month to month/mtm) dan 18,62% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 365,72 triliun. Dipengaruhi penurunan pembiayaan multiguna 1,01% (mtm) dan 19,61% (yoy), juga pembiayaan investasi 1,77% (mtm) dan 18,11% (yoy).

Khusus lini pembiayaan multiguna, perlambatan dipengaruhi lini kendaraan bermotor yang belum mampu beranjak naik. Per Januari 2021, pembiayaan kendaraan roda dua baru dan bekas masih stagnan di posisi Rp 81,27 triliun. Sedangkan pembiayaan kendaraan roda empat baru dan bekas masih melambat 1,37% (mtm) menjadi Rp 167,27 triliun.

Di samping itu, pembiayaan modal kerja mampu naik sedikit 1,29% (mtm), tapi masih lebih rendah 5,3% (yoy). Selain itu, sayangnya kontribusi pembiayaan tersebut masih relatif kecil yakni sebesar Rp 24,95 triliun.

Adapun tren positif pembiayaan modal kerja didorong salah satunya melalui lini barang produktif berupa rumah toko baru yang naik 6,03% (mtm) dari Rp 3,57 triliun di Desember 2020 menjadi Rp 3,79 triliun di Januari 2021. Serta barang produktif apartemen baru naik 21,09% (mtm) menjadi Rp 155 miliar.

Ditilik dari sektor ekonomi, hanya sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor yang mampu meningkat di Januari 2021. Sektor itu naik tipis 0,39% (mtm) menjadi dari Rp 88,40 triliun. Adapun sektor ekonomi bukan lapangan usaha tumbuh 12,26% (mtm) menjadi Rp 28,53 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN