Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Juni, Laba Bersih Multifinance Tumbuh 8,41%

Minggu, 23 Agustus 2020 | 20:27 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) mencatatkan laba bersih per Juni 2020 sebesar Rp 2,89 triliun atau meningkat 8,41% secara bulanan (month to month/mtm). Hal tersebut menjadi pencapaian tersendiri setelah laba bersih pada dua bulan sebelumnya sempat anjlok.

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada Maret 2020 multifinance mampu mencatatkan laba bersih mencapai Rp 4,23 triliun atau tumbuh sebesar 17,68% (mtm). Pada April 2020, laba bersih turun cukup dalam sebesar 21,95% (mtm) menjadi Rp 3,30 triliun. Berlanjut pada Mei 2020, laba bersih turun 19,46% (mtm) menjadi sebesar Rp 2,66 triliun.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, salah satu faktor laba bersih per Juni 2020 mampu meningkat secara bulanan karena adanya geliat pembiayaan baru yang disalurkan multifinance. Hal tersebut mendorong kemampuan industri untuk mulai kembali meningkatkan pendapatan. Di samping itu, multifinance ditengarai tidak lagi banyak melakukan pencadangan.

Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) / Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing. Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Sumber: BSTV

"Laba Juni bisa naik itu karena pendapatannya cenderung meningkat, kemudian portofolio pencadangan bisa jadi sudah cukup besar sehingga tidak ada pencadangan baru. Karena tidak banyak pembiayaan baru juga. Sederhananya laba bisa naik karena bisa jadi pencadangan sudah cukup," ucap dia kepada Investor Daily.

Statistik yang dipaparkan OJK memang tidak mencantumkan jumlah atau nilai pencadangan yang dilakukan multifinance. Namun demikian OJK mencatat, sejatinya total pendapatan multifinance secara bulanan mampu terus meningkat namun relatif melambat sepanjang kuartal II-2020.

Pada Maret 2020, pendapatan mampu tumbuh signifikan sebesar 50,75% (mtm) menjadi sebesar Rp 29,93 triliun. Pertumbuhan itu melambat menjadi 28,30% (mtm) pada April 2020 menjadi Rp 38,41 triliun.

Seiring meningkatnya volume pendapatan menjadi Rp 46,72 triliun per Mei 2020, nilai tersebut tercatat kembali tumbuh melambat sebesar 21,63% (mtm). Hal itu berlanjut pada Juni 2020 dengan pendapatan sebesar Rp 54,18 triliun atau tumbuh melambat sebesar 15,98% (mtm). Sekitar 85% pendapatan multifinance masih ditopang dari pendapatan bunga atau imbal hasil pembiayaan.

Sementara itu, total beban multifinance pun ikut tumbuh melambat sepanjang kuartal II-2020. Per Maret 2020 beban multifinance tercatat naik sebesar 57,45% (mtm) menjadi sebesar Rp 23,94 triliun. Kemudian meningkat tapi melambat pada April 2020 menjadi sebesar Rp 33,50 triliun atau naik 39,94% (mtm).

Sedangkan pada Mei 2020, total beban naik 26,61% (mtm) menjadi sebesar Rp 42,41 triliun. Berlanjut naik menjadi sebesar Rp 49,60 triliun atau naik 17,16% (mtm) pada Juni 2020. Adapun total beban disokong beban bunga dan beban penyusutan piutang pembiayaan.

Dengan demikian, laba bersih yang meningkat per Juni 2020 menjadi paradoks tersendiri karena sejatinya rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) multifinance cenderung meningkat. Per Maret BOPO tercatat sebesar 80,55%, per April sebesar 87,57%, per Mei sebesar 91,35%, dan per Juni kembali meningkat menjadi sebesar 92,50%.

"Laba naik itu oke, tapi belum mencerminkan kalau pendapatan itu sudah kembali ke normal. Mestinya BOPO industri itu kan di kisaran 80%, sedangkan sekarang kan 92%," terang Suwandi.

Dia mengatakan, laba bersih yang mampu meningkat pada Juni 2020 belum menandai bahwa kondisi industri multifinance sudah mulai membaik. Meski begitu, sejumlah perusahaan multifinance telah berupaya melakukan berbagai hal guna mempertahankan kelangsungan bisnisnya.

Diantaranya, sambung Suwandi, sedikit dari multifinance yang melakukan PHK, yang paling memungkinkan tidak melanjutkan kontrak dari karyawan. Selain itu, efisiensi juga dilakukan dengan mengurangi biaya-biaya tetap seperti menutup kantor cabang yang kurang produktif.

"Tapi kembali lagi setiap perusahaan punya strategi yang berbeda dengan tingkat risiko yang berbeda, maka prioritasnya juga akan berbeda. Efisiensi bagaimana dia melakukan penghematan biaya-biaya di tengah pendapatan turun akibat booking-an turun. Dengan demikian, kalau biaya-biaya bisa turun karena efisiensi kan secara laba bisa naik," papar dia.

Pembiayaan Motor Meningkat
Di sisi lain, statistik OJK memaparkan bahwa piutang pembiayaan multifinance menurun tajam sepanjang periode kuartal II-2020. Terakhir kali naik pada Maret 2020, piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp 472,85 triliun atau tumbuh tipis 0,36% (mtm) dibandingkan Februari 2020 sebesar Rp 471,15 triliun.

Sedangkan pada periode April-Juni 2020, piutang pembiayaan terus menyusut. Per Juni 2020, piutang pembiayaan mencapai Rp 431,67 triliun atau turun sebesar 2,96% (mtm), atau anjlok 8,7% secara kuartalan (qtq).

Penurunan itu khususnya dipengaruhi pembelian barang konsumsi yang menurun 7,23% (qtq), dari Rp 316,54 triliun di Maret 2020 menjadi sebesar Rp 293,65 triliun pada Juni 2020. Hampir seluruh objek pembiayaan tercatat berkontribusi terhadap penurunan nilai tersebut.

Namun per Juni 2020, pembiayaan kendaraan bermotor roda dua baru atau motor baru menunjukan geliat peningkatan. Sempat turun pada April-Mei 2020, pembiayaan motor kembali meningkat tipis menjadi sebesar Rp 76,15 triliun atau naik 1,39% (mtm).

Adapun kendaraan roda dua bekas dan kendaraan roda empat bekas yang sempat naik pada Mei 2020, per Juni 2020 tercatat kembali menurun. Sedangkan kendaraan roda empat baru tercatat terus menurun sejak Maret 2020 sampai Juni 2020.

Di samping itu, seiring dengan piutang pembiayaan yang menurun, total aset multifinance pun ikut menyusut. Sampai Juni 2020 total aset tercatat sebesar Rp 490,62 triliun atau turun 9,69% (qtq). Rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) sebesar 5,17%. Return on asset (ROA) turun menjadi 1,74% dan return on equity (ROE) pun menyusut menjadi sebesar 4,31%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN