Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).  Foto: B1-Ruth Semiono

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019). Foto: B1-Ruth Semiono

Kinerja Industri Multifinance Terpengaruh Perilaku Milenial

Nurjoni, Kamis, 7 November 2019 | 15:23 WIB

JAKARTA, investor.id -- Industri multifinance mencatatkan rapor merah per kuartal III-2019. Penyaluran pembiayaan melambat dan hanya mampu menorehkan pertumbuhan sebesar 3,53% secara tahunan (year on year/yoy). Salah satu penyebabnya adalah fenomena perubahan perilaku konsumen, khususnya generasi milenial.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, perubahan perilaku konsumen salah satunya dipengaruhi hadirnya tranportasi daring (dalam jaringan).

Pelayanan transpor tasi tersebut menawarkan kemudahan dan efisiensi lebih dibandingkan harus menggunakan kendaraan pribadi. Hal tersebut menjadi tantangan industri multifinance saat ini.

“Itulah perubahan perilaku yang sama-sama harus kita sikapi. Itu nyata terjadi. Dulu pemikiran saya lulus kuliah itu kerja harus punya mobil dan rumah. Kalau anak sekarang tidak begitu,” ujar Suwandi di sela acara Pertemuan Anggota & Apresiasi APPI (APPI Award) 2019 di Hotel Sheraton, Gandaria City, Jakarta, Rabu (6/11).

Suwandi menyampaikan, fenomena tersebut pun akhirnya mendorong masyarakat untuk mengurungkan niat membeli kendaraan bermotor. Padahal, lini bisnis tersebut berkontribusi hingga 66,05% terahap total pembiayaan

Alhasil, secara tidak langsung pembiayaan multifinance terperosok dan hanya mampu mencapai Rp 451,12 triliun atau tumbuh 3,53% (yoy) per kuartal III-2019.

Berdasarkan pembagian usia generasi mengacu pada Spague (2008), Casey and Denton (2006), generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1980-2000 atau berusia 19-39 tahun.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan kendaraan bermotor roda empat (mobil) hanya mampu menorehkan pertumbuhan 4,36% (yoy) atau sebesar Rp 193,98 triliun. Dengan rincian, pembiayaan mobil baru tumbuh 4,24% (yoy) atau mencapai Rp 136,09 triliun dan mobil bekas sebesar Rp 57,89 triliun atau naik 4,63% (yoy).

Kemudian, untuk kendaraan bermotor roda dua (motor) bekas pun terlihat lebih diminati, dengan kenaikan sebesar 15,19% (yoy) atau menjadi sebesar Rp 20,89 triliun. Sedangkan motor baru menorehkan kinerja yang cukup baik dengan mencatatkan pertumbuhan 7,16% (yoy) atau mencapai Rp 83,09 triliun.

Dengan kinerja tersebut, pembiayaan motor menyumbang Rp 103,98 triliun atau naik 8,68% (yoy). Melihat hal tersebut, OJK meminta kepada setiap perusahaan multifinance untuk berbenah meningkatkan kinerja secara moderat. Utamanya, yakni mulai menyusun rencana bisnis berkelanjutan (sustain) dan perbaikan pada infrastruktur proses bisnis.

Kepala Departemen Pegawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W Budiawan mengemukakan, rencana bisnis perusahaan multifinance mesti adaptif. Artinya, bisa cermat untuk memproyeksi ekonomi nasional, mampu menyesuaikan lini bisnis dengan segmen prioritas pemerintah, hingga adaptif terhadap berbagai fenomena di masyarakat.

“Yang penting realistis dan adaptif. Jangan masuk ke segmen yang tidak kita kuasai secara infrastruktur. Realistis juga diikuti indikator makro. Tidak perlu agresif tapi harus tetap tumbuh positif,” ungkap dia.

Bambang menilai, dengan pendekatan tersebut tentu akan berimplikasi terhadap model bisnis dari perusahaan multifinance. Kendati demikian, langkah antisipatif juga perlu disiapkan supaya rencana bisnis perusahaan bisa bertahan dan tetap adaptif dengan situasi yang ada.

Solusi Lain

Di sisi lain, sambung Bambang, dalam merespons situasi perekonomian yang masih sangat dinamis seperti saat ini, langkah konsolidasi menjadi opsi yang cukup beralasan. Selain fokus pada aspek collection, tentunya diharapkan perusahaan pembiayaan mulai memikirkan inovasi-inovasi produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia menambahkan, dengan opsi itu perusahaan multifinance bisa memperluas diversifikasi portofolio pembiayaan. Apalagi pilihan lini bisnis yang digarap merupakan sektor produktif, selain menunjang perekonomian nasional, industri pun memiliki alternatif pembiayaan yang berkelanjutan.

“Namun demikian, proses transformasi produk pembiayaan ini perlu dikaji secara matang dan terukur risikonya. Karena masing-masing jenis produk pembiayaan memiliki karakteristik risiko yang berbeda-beda sehingga diperlukan SDM (sumber daya manusia) yang memiliki kompetensi di bidang tersebut,” jelas Bambang.

Suwandi menambahkan, solusi diversifikasi juga telah disediakan oleh regulator melalui kehadiran Peraturan OJK Nomor 35/2018. Lewat regulasi tersebut perusahaan multifinance memiliki ruang untuk menyalurkan pembiayaan tunai.

Meski belum ada catatan yang signifikan, lini bisnis tersebut bisa dipakai sebagai alternatif pembiayaan yang potensial untuk digarap. “Itu salah satu yang bisa kita pergunakan dan menyebabkan agar multifinance masih tumbuh,” kata dia.

Solusi Pelaku Usaha

PT Mandiri Tunas Finance (MTF). Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim
PT Mandiri Tunas Finance (MTF). Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim

Sementara itu, Direktur Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo mengatakan, tantangan utama sepanjang 2019 yakni adanya situasi ekonomi global yang tidak mendukung dan bertepatan dengan tahun politik di Indonesia.

Hal tersebut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang kemudian secara paralel berdampak kepada beberapa lini bisnis industri multifinance.

Sembari berharap kondisi bisa lebih baik, pihaknya pun melakukan diversifikasi lini bisnis dari portofolio pembiayaan kendaraan bermotor sebesar 80%, kemudian digeser ke segmen lain. Pergeran tersebut digiring ke pembiayaan mobil baru komersial dan multiguna.

Hingga kuartal III-2019, pembiayaan multiguna MTF bisa tumbuh 70% (yoy) atau sebesar Rp 1,2 triliun. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 5,8% dari total pembiayaan Rp 20,67 triliun. Kemudian, pembiayaan mobil baru komersial juga akan terus didorong perusahaan untuk mencapai portofolio sebesar 25%.

“Diversifikasi dilakukan untuk beberapa tahun ke depan juga. (Melihat) Yang potensial ke depan itu, pembiayaan mobil baru komersial, modal kerja, dan multiguna,” sebut Harjanto saat dihubungi Investor Daily, Senin (4/11).

Selanjutnya, Presiden Direktur WOM Finance Djaja Suryanto Sutandar mengaku, pihaknya memilih melakukan konsolidasi guna memperbaiki proses bisnis. Yakni dengan menggarap core system sebagai sentralisasi pembiayaan. Sehingga pembiayaan dapat lebih cepat, efisien, dan diharapkan ke depannya produktivitas bisa meningkat.

WOM Finance
WOM Finance

“Walupun di market (penjualan motor) itu relatif stabil, kita ada perbaikan proses bisnis akuisisi. Jadi banyak hal yang kita lakukan. Perbaikan itu juga walaupun dampaknya pada pembiyaaan yang kecil tapi nantinya prudent,” ujar dia.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut langsung bisa dirasakan dengan perbaikan kualitas pembiayaan. Per September 2019, pembiayaan bermasalah (non performance financing/ NPF) tercatat 2,43%, turun dari periode sama tahun lalu sebesar 2,77%.

Poisis tersebut lebih baik dari posisi industri di periode sama sebesar 2,66%. Dengan adanya perbaikan proses bisnis tersebut, perseroan mengklaim bisa meraup laba bersih Rp 156 miliar atau tumbuh 2% (yoy) dari periode sama tahun lalu Rp 152 miliar. “Laba masih naik karena perbaikan kualitas yang baik. Walaupun pembiayaan turun 22% (yoy) tapi itu masih terjaga bahkan membaik dari pada tahun lalu,” imbuh dia.

Dihubungi terpisah, Marketing Division Head Astra Financial Service (TAF) mengemukakan, tantangan terbesar bagi industri pembiayaan adalah supaya pasar Indonesia tetap dapat bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global dan turunnya harga komoditas ekspor utama Indonesia.

Hal itu dinilai bisa berdampak lebih bagi sektor pembiayaan berbasis otomotif. Ia menjelaskan, pihaknya terus berupaya untuk menunjang penjualan Toyota dan Daihatsu di Indonesia, khususnya memperluas pelayanan ke sejumlah dealer yang selama ini belum dilayani oleh kantor cabang TAF.

“Strategi untuk meningkatkan pelayanan di indirect dealer Toyota dan Daihatsu diharapkan dapat membantu TAF untuk mencapai rencana penjualan yang dibuat awal tahun (2019),” tambah Budi.

Prediksi Akhir 2019 dan 2020

Setelah memandang kinerja yang telah ditorehkan industri multifinance, beberapa pihak pesimistis bisa memperoleh kinerja yang sesuai dengan proyeksi awal tahun. APPI misalnya, memperkirakan akhir tahun ini pembiayaan masih sulit menggapai pertumbuhan 4% (yoy). Padahal di awal tahun, APPI mematok pembiayaan bisa tumbuh 7-8% (yoy).

“Kita di awal tahun memproyeksikan (pembiayaan) bisa tumbuh 7-8% (yoy). Tapi dengan catatan (penjualan) alat berat bisa naik 15%, mobil bisa flat. Tapi nyatanya tidak seperti itu, malah terbalik,” ungkap Suwandi.

Begitu juga untuk prediksi 2020, kesan pesimisme turut disampaikan. Suwandi mengatakan, tahun depan diperkirakan kondisi industri multifinance masih akan bergelut dengan pertumbuhan moderat.

“Tahun depan pertumbuhannya masih sama dengan tahun ini, karena semua juga memprediksi (beberapa lini bisnis) tidak ada kenaikan. Alat berat juga malah diprediksikan masih turun. Tapi belum tahu berapa penurunannya,” kata dia.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).  Foto: B1-Ruth Semiono
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019). Foto: B1-Ruth Semiono

Begitu pun OJK, Bambang menilai,pertumbuhan akhir tahun 2019 dan tahun 2020 sangat dipengaruhi oleh perkembangan industri riil. Hal tersebut berkaca pada data market outlook heavy equipment tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Trakindo, pertumbuhan pembiayaan alat berat diproyeksikan akan meningkat dari 17.000 unit di tahun 2018 menjadi 18.700 unit, atau tumbuh 10%.

Lebih lanjut, kenaikan pembiayaan alat berat tersebut diasumsikan berdasarkan kondisi industri agriculture, konstruksi, kehutanan, dan pertambangan yang menunjukkan tren peningkatan. Antara lain peningkatan penanaman kembali minyak palm di sebesar 190.000 Ha dari 90.000 Ha di tahun 2018. Serta produksi batubara pada tahun 2019 diproyeksikan meningkat sebesar 5% dibandingkan 2018.

“Pada pertengahan tahun 2019, kami memproyeksikan pertumbuhan moderat piutang pembiayaan sebesar 4-6% (yoy) pada akhir Desember 2019. Dengan sisa waktu yang tersisa sekitar 2 bulan, semoga pertumbuhan piutang pembiayaan bisa di atas 4% (yoy),” terang dia.

Laba Bersih Tumbuh 15%

Meski dihadapkan dengan pembiayaan yang melandai, laba bersih industri multifinance tercatat masih moncer. Mengutip data OJK, hingga kuartal III-2019 laba bersih tercatat tumbuh 15,69% (yoy). Nilai tersebut naik dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 12,07 triliun menjadi Rp 13,96 triliun.

Suwandi menilai, tren positif tersebut merupakan dampak dari perbaikan infrastruktur proses bisnis bagi industri multifinace. Sejak April 2019, perusahaan- perusahaan multifinance telah terkoneksi dengan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari OJK. “Secara infratruktur kita ada bantuan- bantuan dari OJK. Dimana semua informasi terkait konsumen atau debitur di Indonesia kita sudah saling tahu, catatannya seperti apa. Kalau dulu kan kita tidak tahu antar-leasing belum mau buka data,” ujar dia.

Suwandi menjelaskan, SLIK memungkinkan perusahaan dengan mudah menyeleksi calon konsumennya, sehingga risiko pembiayaan dapat terukur dan kualitas bisa lebih baik. Adapun sampai kuartal III-2019, pembiayaan bermasalah (non performing financing/ NPF) pun tercatat di posisi 2,66% atau turun 51 basis point (bps) dari periode sama tahu lalu 3,17%.

Dari pandangan regulator, Bambang menejelaskan, dalam situasi laju pertumbuhan pembiayaan yang sedang melambat, perusahaan multifinance cenderung mengambil kebijakan yang bersifat konsolidatif dengan fokus pada collection. Sehingga, kata dia, hal tersebut berdampak pada perbaikan kualitas piutang pembiayaan dan penurunan NPF. Pada akhirnya beberapa perusahaan melakukan reversal atas kelebihan pencadangan yang telah dibentuk sebelumnya.

“Hasil dari intensifikasi collection dan reversal ini yang mendorong perbaikan sisi rentabilitas (hasil investasi) perusahaan pembiayaan,” tegas Bambang.

Beberapa perbaikan rasio pun ditorehkan industri multifinance hingga kuartal III-2019. Untuk rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 79,32% dari periode sama sebelumnya sebesar 80,63%. Return of asset (ROA) hingga Sptember 2019 tercatat 4,80%, naik dari periode sama tahun lalu 4,35%. Adapun aset industri multifinance meningkat tipis sebesar 1,03% (yoy) menjadi 516,73 triliun. Untuk return of equity (ROE) berada di posisi 14,87%, juga naik dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 14,03%.

Kesulitan Modal

Hingga Oktober 2019, OJK mencatat terdapat 10 perusahaan yang belum siap memenuhi ketentuan modal minimal Rp 100 miliar. Regulator mematok batas pemenuhan modal sampai tahun ini berakhir sesuai dengan POJK Nomer 29/2014.

“Yang masih gelap (tidak melapor) itu ada 10, belum datang ke kita. Yang lain banyak yang bagus. Sepertiga lah yang belum berproses. Bukan tidak jelas, mereka sedang proses tapi belum lapor saja,” ucap Bambang.

Bambang menambahkan, sejumlah perusahaan yang tidak melapor tersebut diperkirakan terkendala untuk menambah modal. Adapun rata-rata perusahaan tersebut masih memiliki modal di bawah Rp 50 miliar.

Sebelumnya, OJK juga telah melakukan audiensi kepada perusahaan yang masih menemui kendala permodalan. Di samping itu, regulator pun mengaku sudah tiga kali menyurati sejumlah perusahaan itu.

“Kita kasih opsi kok, kita paggil mereka. Kita tidak ada paksaan, kita menunggu kerelaan mereka. Kalau ada yang berjodoh (merger) di ruangan itu silakan,” ujar dia. (c04)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA