Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Plaza Mandiri di Jakarta. Foto: Bank Mandiri

Plaza Mandiri di Jakarta. Foto: Bank Mandiri

MCI Jajaki Tambah Investasi di Privy.ID dan Crowde

Minggu, 16 Mei 2021 | 23:48 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perusahaan modal ventura PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) tengah menjajaki kembali menyuntikkan modal terhadap dua perusahaan rintisan (startup). Di antaranya perusahaan tanda tangan digital (digital signature) Privy.ID dan penyelenggara fintech p2p lending Crowde.

Chief Executive Officer MCI Eddi Danusaputro mengatakan, tahun ini pihaknya menyiapkan dana investasi langsung (direct investment) lebih dari Rp 100 miliar. Dana itu akan dibagi dua kantong, investasi terhadap portofolio baru dan bagi portofolio yang sudah ada.

Dia mengatakan, setidaknya dana sebesar Rp 50 miliar disiapkan khusus bagi portofolio yang kini sudah dicatatkan perusahaan.

"Tahun ini ada dua perusahaan. Ada beberapa yang fundraising. Kita lagi penjajakan juga Privy.ID dan Crowde. Kita udah punya anak 15 masa nggak kita perhatiin, nyari yang baru terus," kata Eddi di Jakarta, baru-baru ini.

Meski begitu, Eddi menyatakan, pihaknya berencana untuk menambah portofolio dengan menyasar perusahaan financial technology (fintech) di bidang insurance technology (insurtech). Sayangnya, dia masih enggan untuk membeberkan nama perusahaan yang dimaksud.

"Kita kalau (insurtech) marketplace gak terlalu tertarik. Lebih ke inovasi di bidang proses atau produk, kan ada tiga model insuterch. Nah, kita kalau yang marketplace gak terlalu tertarik. Saya gak bisa sebut nama, kalau saya sebut, nanti nawar harganya mahal," ujar dia.

Belum lama ini, sambung Eddi, MCI ikut dalam putaran pendanaan terhadap e-commerce Bukalapak dan fintech p2p lending Amartha. Dia mengaku, pihaknya menyiapkan dana lebih dari Rp 50 miliar atau sekitar Rp 70-100 miliar menyangkut pendanaan pada portofolio baru. Dengan demikian, memungkinkan bagi MCI untuk menggelontorkan dananya hingga Rp 150 miliar sepanjang tahun 2021.

Dia menuturkan, MCI mulai melirik fintech yang masuk dalam ekosistem syariah. Fintech yang dimaksud tentu tidak harus sepenuhnya berbasis syariah. Salah satu penjajakan sudah dilakukan pada fintech p2p lending ALAMI. Namun demikian, saat ini perusahaan tersebut dinilai belum sesuai dengan kriteria yang diinginkan MCI. Pihaknya terus memantau perkembangan perusahaan itu.

"Ada, ALAMI misalnya, masih penjajakan. Tapi sepertinya  mereka masih baru. Kita sukanya yang lebih matang, ya. Kita lebih suka yang bukan early stage banget ya, lebih ke series A atau B, bukan seed stage. Kalau perusahaan tahap awal sekali, kita perlu lebih melihat track record mereka sustainable atau tidak," ungkap dia.

Sampai saat ini, MCI sudah menggelontorkan dana menyangkut investasi langsung senilai Rp 1 triliun. Adapun portofolio MCI diantarnaya adalah Mekari, Cashlez, Amartha, Privi.ID, PTEN, GoJek, Halofina, Bukalapak, Koinworks, ISeller, Investree, LinkAja, Crowde, dan Yokke.

Dia mengemukakan, portofolio investasi yang dimiliki MCI tidak terlepas dari perusahaan-perusahaan yang juga dibutuhkan induk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk untuk memperluas cakupan nasabah hingga menyederhanakan proses bisnis. Amartha misalnya, karena cakupan Bank Mandiri yang kurang kuat untuk merambah segmen nasabah mikro di desa. Kemitraan yang dijalin memungkinkan bank tidak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk membuka jaringan pada segmen tersebut.

Eddi yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama Amartha mengungkapkan, saat ini MCI menggenggam sekitar 10% saham Amartha. MCI terus mendorong Amartha memperluas jangkauan dan layanannya. Upaya tersebut bisa saja dilakukan Amartha dengan mengakuisisi startup di bidang teknologi informasi dan lainnya untuk mendukung proses bisnis. Ke depan, perluasan layanan Amartha akan terus disesuaikan dengan ekosistem di desa.

"Sesuai dengan ekosistem di sana, seperti pertanian, peternakan, atau misalnya sekarang ini kan Amartha masih group lending, ke depan bisa individual. Kalau sudah sukses di group lending, bisa naik kelas mengajukan secara individu, begitu-lah. Misal, dia sudah beberapa kali grup lending, sukses dan lancar, dia pasti suatu saat akan datang lagi untuk pinjam di luar kelompok," ucap dia.

Khusus bagi Amartha, kata dia, perluasan layanan lebih mungkin dilakukan secara horizontal. Meski memungkinkan para peminjam (borrower) naik kelas dan plafon pembiayaannya meningkat, hal itu tidak mendorong Amartha untuk gegabah mengakuisisi secara vertikal. Penetrasi layanan secara horizontal seperti menyiapkan diversifikasi investasi bagi pemberi pinjaman (lender) atau penawaran asuransi bagi borrower lebih cocok dilakukan saat ini.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN