Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan pembayaran cicilan di sebuah perusahaan pembiayaan otomotif di Jakarta, Rabu (15/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan pembayaran cicilan di sebuah perusahaan pembiayaan otomotif di Jakarta, Rabu (15/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Laba Tumbuh 109 Persen

Mei, Outstanding Penjaminan Kredit Capai Rp 273,68 Triliun

Minggu, 11 Juli 2021 | 21:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Industri perusahaan penjaminan membukukan outstanding penjaminan kredit/pembiayaan mencapai Rp 273,68 triliun atau tumbuh 18,25% secara tahunan (year on year/yoy) per Mei 2021. Tren positif tersebut turun mendongkrak perolehan laba bersih industri yang tumbuh hingga 109% (yoy) menjadi Rp 387 miliar.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan outstanding penjaminan dipacu dari lini penjaminan kredit/pembiayaan produktif. Lini tersebut tumbuh 37,28% (yoy) menjadi sebesar Rp 177,81 triliun. Sedangkan penjaminan kredit non produktif susut 5,93% (yoy) menjadi sebesar Rp 95,87 triliun. Adapun jumlah terjamin tumbuh 39,05% (yoy) menjadi sebanyak 18,26 juta orang.

Seiring dengan tren tersebut, industri penjaminan berhasil membukukan imbal jasa penjaminan (IJP) mencapai Rp 1,79 triliun atau tumbuh 112,55% (yoy) per Mei 2021. Sementara klaim yang dibayar cenderung menurun 53,20% (yoy) menjadi Rp 723 miliar.

Namun demikian, laporan laba rugi menunjukkan bahwa perusahaan penjaminan terus meningkatkan cadangan klaim sejak medio tahun lalu hingga Mei 2021. OJK mencatat, cadangan klaim menjadi Rp 280 miliar per Mei 2021. Nilai itu naik 124% tahun berjalan (year to date/ytd) dari akhir Desember 2020 sebesar Rp 125 miliar. Sedangkan pada Mei 2020, perusahaan penjaminan mencatatkan penurunan klaim sebesar Rp 19 miliar.

Dengan sejumlah catatan tersebut, pendapatan penjaminan bersih Rp 661 miliar atau meningkat 160,23% (yoy). Pendapatan operasional lain seperti dari hasil investasi mencapai Rp 481 miliar atau tumbuh 69,36% (yoy). Adapun beban operasional tumbuh 46,87 (yoy) menjadi Rp 376 miliar. Alhasil, perusahaan penjaminan berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp 387 miliar atau tumbuh 109,18% (yoy) per Mei 2021.

Pada saat yang sama, terdapat total 20 perusahaan penjaminan dengan satu perusahaan berlabel BUMN, satu perusahaan penjaminan swasta, dan sebanyak 18 perusahaan penjaminan daerah. Adapun total aset mencapai Rp 15,80 triliun, dengan 86,67% atau sebesar Rp 13,69 triliun merupakan aset dari satu perusahaan BUMN.

Praktisi industri penjaminan Diding S Anwar menyoroti peran perusahaan penjaminan terhadap pemulihan ekonomi nasional dan kontribusinya bagi UMKM. Menurut dia, perusahaan penjaminan tidak bisa berjalan sendiri sehingga pendekatan kolaborasi mesti gencar dilakukan.

Hal itu tercermin dari alokasi kredit usaha rakyat (KUR) tahun 2021 sebesar Rp 253 triliun yang didominasi sektor perdagangan dan pertanian. Diding menerangkan, kurang dari Rp 1 triliun disalurkan pada sektor konstruksi dan infrastruktur. Padahal, banyak dari UMKM yang bergantung pada perkembangan sektor tersebut.

"Kita kan sedang genjot sektor infrastruktur. Nah ini mungkin bisa bagi perusahaan penjaminan untuk juga belajar seperti perusahaan asuransi umum untuk melakukan konsorsium, meminta restu OJK, dialog dengan Kemen-PUPR untuk juga melayani sektor infrastruktur," kata Diding, pekan lalu.

Dia meyakini, industri penjaminan memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang. Meski begitu, setiap perusahaan penjaminan juga harus berkontribusi lebih bagi keberlangsungan bisnis UMKM. Sehingga diharapkan keputusan pemberian kredit dari bank atau pembiayaan dari multifinance tidak hanya sekadar karena ada penjaminan, tapi juga melihat prospek UMKM terkait bisa terjamin.

"Harusnya prospek perusahaan penjaminan itu sangat baik, tinggal bagaimana political will saja. Hadirnya perusahaan penjaminan, jangan para Jamkrida itu melihat terbaik, hanya melihat kesuksesan perusahaan tapi dengan kajian akademis untuk memajukan UMKM. Namun dengan tata kelola yang baik. Perusahaan penjaminan harus saling melengkapi dengan perusahaan asuransi," tegas dia.

Diding mengungkapkan, perekonomian Indonesia tumbuh minus 0,74% di kuartal I-2021. Kondisi global dan pandemi Covid-19 tentu memberikan risiko dan dampak bagi keberlangsungan UMKM. Belum lagi pembatasan-pembatasan sosial yang memaksa UMKM harus menyesuaikan diri dan secara tidak langsung memangkas pendapatannya.

"Ada penurunan terhadap tenaga kerja, baik pendapatan atau kegiatan usaha terkait rantai pasok. Tentu kegiatan usaha terganggu, misalnya dari sektor pariwisata dan akomodasi. Hal itu akan berdampak pengurangan tenaga kerja dari UMKM, kesulitan likuiditas, sektor UMKM pulihnya juga bisa lambat. Saya mengajak industri penjaminan untuk berkontribusi lebih," ujar dia.

Diding menambahkan, sebanyak 99% unit usaha merupakan UMKM yang menyerap 119% tenaga kerja nasional. Segmen tersebut terbukti berkontribusi 60,51% PDB Indonesia pada 2019. Dengan fokus mengembangkan UMKM, pihaknya meyakini perusahaan penjaminan juga bakal mendapatkan dampak positif di masa mendatang.

(pri)


 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN