Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
kredit mobil

kredit mobil

OJK Diminta Terapkan Aturan DP Mobil 0%

Jumat, 12 Februari 2021 | 08:00 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor. id - Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melonggarkan ketentuan kredit uang muka (DP) kendaraan bermotor menjadi 0% dan menurunkan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR).

Jika perusahaan pembiayaan (multifinance) dan perbankan mendapat relaksasi tersebut, pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) mobil yang segera diberlakukan pemerintah bakal efektif meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan begitu pula, permintaan otomotif bertumbuh, sehingga roda perekonomian bakal berputar.

"Insentif PPnBM kendaraan bermotor memang perlu dukungan revisi kebijakan OJK, yaitu melalui pengaturan DP 0% dan penurunan ATMR," ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (11/2).

Pemerintah, menurut Menko Perekonomian, bakal memangkas PPnBM kendaraan bermotor hingga 100%. Peniadaan PPnBM akan mengerek turun harga mobil baru. Penghapusan PPnBM dilakukan bertahap selama sembilan bulan.

Masing-masing tahap berlangsung tiga bulan. Riciannya, pemangkasan PPnBM 100% (menjadi 0%) pada Maret-Mei, PPnBM 50% pada Juni-Agustus, dan PPnBM 25% pada September-November 2021. "Kebijakan ini dapat meningkatkan produksi hingga mencapai 81.752 unit," kata dia.

Dia menjelaskan, kebijakan PPnBM 0% untuk mobil baru berlaku bagi kendaraan 1.500 cc ke bawah dan memiliki kandungan lokal sampai 70%. Kebijakan tersebut diterbitkan sebagai stimulus untuk memulihkan sektor otomotif yang terpukul akibat pandemi.

Saat ini, mobil-mobil bermesin di bawah 1.500 cc sampai 2.500 cc dikenai PPnBM sebesar 10-40%. Jika skenario pemerintah berjalan sesuai harapan, berarti mobil berkapasitas 1.500 cc yang saat ini dibanderol Rp 200 juta, bisa mendapat kortingan harga Rp 20 juta setelah PPnBM-nya dihapus.

Menko Perekonomian menambahkan, insentif tersebut bakal dievaluasi setiap tiga bulan. Instrumennya akan menggunakan PPnBM DTP (PPnBM ditanggung pemerintah) melalui revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK). "Targetnya berlaku mulai 1 Maret 2021," tutur Airlangga.

Dia menegaskan, lewat insentif bagi kendaraan bermotor tersebut, konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah atas diharapkan terdongkrak. Kebijakan itu juga bakal meningkatkan utilisasi industri otomotif dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pemasukan Rp 1,4 Triliun

Airlangga Hartarto mengungkapkan, dengan skenario relaksasi PPnBM dilakukan bertahap, produksi mobil bakal meningkat hingga mencapai 81.752 unit. Tambahan output industri otomotif itu diperkirakan menyumbang pemasukan negara sebesar Rp 1,4 triliun.

“Kebijakan ini juga akan berpengaruh pada pendapatan negara yang diproyeksi terjadi surplus penerimaan sebesar Rp 1,62 triliun,” ujar dia.

Airlangga menjelaskan, pulihnya produksi dan penjualan otomotif akan berdampak luas terhadap sektor industri lainnya. Itu karena dalam menjalankan bisnisnya, industri otomotif memiliki keterkaitan dengan banyak industri lainnya (industri pendukung). "Industri bahan baku saja berkontribusi sekitar 59% dalam industri otomotif," tandas dia.

Menurut Menko Perekonomian, dalam melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada masa pandemi Covid, pemerintah terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan cara memacu industri manufaktur yang kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 19,88%.

Dia mengakui, industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi Covid-19 paling berat. “Industri pendukung otomotif sendiri menyumbang lebih dari 1,5 juta orang dengan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp 700 triliun," ujar Airlangga.

Kecuali itu, kata dia, industri otomotif merupakan industri padat karya. Kini, lebih dari 1,5 juta orang bekerja di industri otomotif yang mencakup lima sektor, yaitu pelaku industri tier II dan tier III (terdiri atas 1.000 perusahaan dengan 210 ribu pekerja), pelaku industri tier I (terdiri atas 550 perusahaan dengan 220 ribu pekerja), perakitan (22 perusahaan dan dengan 75 ribu pekerja), dealer dan bengkel resmi (14 ribu perusahaan dengan 400 ribu pekerja), serta dealer dan bengkel tidak resmi (42 ribu perusahaan dengan 595 ribu pekerja).

PPnBM Mobil Listrik

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya mengusulkan relaksasi PPnBM kendaraan bermotor dengan alasan industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi paling berat.

Selain itu, untuk menggairakan kembali industri otomotif dan meningkatkan investasi, Kemenperin mengusulkan penyesuaian terhadap tarif PPnBM dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBM.

Airlangga mengemukakan, kedua usulan tersebut telah disetujui. Alhasil, untuk menyelaraskan insentif PPnBM, pemerintah juga akan merevisi PP 73/2019 sebagai salah satu upaya menurunkan emisi gas buang kendaraan bermotor. Langkah ini akan mengakselerasi pengurangan emisi karbon yang diperkirakan mencapai 4,6 juta ton CO2 pada 2035.

“Perubahan PP ini diharapkan dapat menaikkan pendapatan pemerintah, menurunkan emisi gas buang, dan mendorong pertumbuhan industri kendaraan bermotor nasional,” papar dia.

Usulan perubahan PP 73/2019, menurut Airlangga, bakal memberikan dampak positif. Kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) menjadi satu satunya yang mendapatkan preferensi maksimal PPnBM 0%.

Selain itu, usul tarif PPnBM untuk kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) sebesar 5% sejalan dengan prinsip bahwa semakin tinggi emisi CO2 maka semakin tinggi pula PPnBM-nya.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN