Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fintech. Foto ilustrasi: IST

Fintech. Foto ilustrasi: IST

OJK: Fintech Lending Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Nida Sahara, Selasa, 16 Juli 2019 | 13:13 WIB

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kehadiran perusahaan financial technology (fintech) peer to peer lending menjadi peluang menjangkau masyarakat unbankable di Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, risiko harus dimitigasi supaya tidak merugikan konsumen, seperti kejahatan siber (cybercrime).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memaparkan, potensi digital di Indonesia sangat tinggi, terlihat dari tingginya pengguna internet mencapai 150 juta orang atau 56 persen dari total 262 juta penduduk Indonesia. Sementara sebesar 49,52 persen pengguna internet berusia 19-34 tahun. Selain itu, Indonesia akan menikmati bonus demografi tahun 2030 sebanyak 74 juta penduduk. Sayangnya dari total pengguna internet,  yang mengakses layanan perbankan hanya 7,39 persen.

"OJK melihat ini peluang, fintech harus ikuti Peraturan OJK 77. Perusahaan fintech juga harus long term, tidak boleh hit and run. Apalagi UMKM banyak belum mendapat kredit bank," ucap Wimboh Santoso di sela diskusi bertema "Mencari Format Fintech yang Ramah Konsumen" di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Wimboh Santoso. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU
Wimboh Santoso. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU

Wimboh Santoso mencatat, sejumlah tantangan perkembangan fintech lending yakni, continuity business atau perusahaan fintech lending harus bisa bertahan dalam jangka panjang. Kemudian, risiko Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) dan cybercrime. Selain itu, produk yang borderless, serta tantangan data privacy. Hal lain produk jasa keuangan konvensional yang disediakan perusahaan nonjasa keuangan, serta perlindungan konsumen.

Wimboh Santoso menjelaskan, perusahaan fintech lending juga tidak boleh memberikan pricing yang terlalu tinggi seperti rentenir. Untuk itu, harus ada transparansi kepada nasabah.

OJK juga kata Wimboh Santoso, terus melakukan edukasi dan literasi pada masyarakat, agar meminjam dana pada fintech yang terdaftar OJK. Jika tidak terdaftar, fintech lending tersebut tergolong ilegal. "Jadi pilihlah fintech yang terdaftar, kenyataannya sekarang ada 193 fintech lending yang terdaftar OJK. Kami juga ingatkan yang belum untuk mendaftar ke OJK," kata Wimboh Santoso.

Berdasarkan data OJK, hingga Mei 2019 total akumulasi pinjaman fintech lending sebesar Rp 41,04 triliun, naik 81,06 persen year to date (ytd). Sementara outstanding pinjaman sebesar Rp 8,32 triliun, tumbuh 64,93 persen (ytd). Pinjaman tersebut disalurkan kepada 8,75 juta peminjam (borrower) yang meningkat 100,72 persen (ytd). Adapun jumlah investor sebanyak 480.300 investor (lender) atau naik 131,44 persen (ytd).

Wimboh menyebut, kolaborasi diperlukan di tengah perkembangan perekonomian digital. Menurut dia, manfaat kolaborasi lembaga jasa keuangan dan fintech antara lain, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Selain itu, mempermudah akses pendanaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kemudahan transaksi keuangan bagi masyarakat dengan penerapan teknologi. "Perbankan kami minta jangan sampai tidak berkolaborasi dengan fintech, agen saja cukup, karena bank tidak perlu buka cabang baru, fintech ini bisa membuat efisien bank," papar Wimboh Santoso.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN