Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor OJK/David Gita Rosa

Kantor OJK/David Gita Rosa

Pasca Diakuisisi, KDB Tifa Finance Kantongi Izin Usaha OJK

Rabu, 14 Oktober 2020 | 05:12 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT KDB Tifa Finance Tbk –sebelumnya bernama PT Tifa Finance Tbk-- mengantongi izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal itu sehubungan The Korea Development Bank (KDB) yang telah resmi mengambil alih atau mengakuisisi saham perseroan sebesar 80,65%.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 1A OJK Dewi Astuti menyampaikan, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan telah memberikan pemberlakuan izin usaha di bidang perusahaan pembiayaan sehubungan perubahan nama PT Tifa Finance Menjadi PT KDB Tifa Finance Tbk. Pemberlakuan izin usaha tersebut mulai berlaku sejak tanggal ditetapkannya Keputusan Anggota Dewan Komisioner atas perusahaan tersebut.

"Dengan diberikannya pemberlakuan izin usaha perusahaan, PT KDB Tifa Finance Tbk diwajibkan agar dalam menjalankan kegiatan usaha selalu menerapkan praktik usaha yang sehat dan senantiasa mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku," demikian tulis Dewi melalui pengumuman di laman resmi OJK, Selasa (13/10).

Pemberian izin usaha itu ditandai melalui Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-270/NB.11/2020 tanggal 30 September 2020.

Adapun kantor pusat dari perusahaan pembiayaan itu beralamat di Gedung Tifa Lantai 4, Jl. Kuningan Barat Nomor 26, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan 12710.

Sebelumnya, KDB yang 100% dimiliki pemerintah Korea itu secara resmi mengambil mengambil alih 80% kepemilikan saham PT Tifa Finance Tbk, emiten berkode TIFA. Diketahui total nilai dari akuisisi tersebut mencapai Rp 452,79 miliar.

Rencana Bisnis
Berdasarkan rencana bisnis yang dilampirkan pada keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), belum lama ini, TIFA berencana untuk menambah modalnya hingga Rp 1 triliun secara pro-rata oleh KDB dan PT Dwi Satrya Utama (DSU) yang kini memiliki 15% saham. Sepanjang tahun 2020, TIFA mendapat komitmen suntikan modal sebesar Rp 636,06 miliar.

Suntikan modal tambahan akan dipertimbangkan setelah meninjau lingkungan bisnis dan kinerja TIFA. Tujuan utama dari injeksi modal adalah untuk meningkatkan total ekuitas TIFA sehingga dapat berpartisipasi dalam pembiayaan infrastruktur, sesuai POJK 35/2018.

Mempertimbangkan jumlah injeksi modal, TIFA harus agresif dalam memperluas asetnya untuk beberapa tahun ke depan. Tifa akan terus fokus pada keuangan perusahaan, memperluas basis pelanggannya ke perusahaan Korea yang berinvestasi di Indonesia dan perusahaan mitra lokal.

Selain itu, TIFA akan maju ke bidang pembiayaan proyek atau pembiayaan infrastruktur, yang melibatkan evaluasi kelayakan bisnis dan kredit perusahaan. Untuk mencerminkan strategi itu, rasio portofolio produk yang ada dengan portofolio produk baru diharapkan 2:1 di tahun pertama dan 1:2 di tahun ketiga.

Pada rencana pendanaan,pihak KDB dan bank induk akan mendukung kegiatan pendanaan TIFA. Diantaranya dengan memberikan jaminan atau/dan pinjaman pemegang saham untuk meningkatkan daya saing di pasar dengan biaya dana yang lebih rendah dan mempertahankan profil pendanaan yang stabil.

"Akhirnya, rencana jangka panjang utama kami adalah untuk mendukung Tifa Finance mewujudkan kemandirian sebagai penerbit obligasi tunggal di pasar MFC. Kami tentu berupaya mendapatkan peringkat kredit dari lembaga pemeringkat global untuk meningkatkan kegiatan pendanaannya," demikian ditulis dalam rencana bisnis TIFA.

Di samping rencana penambahan modal dan pendanaan, perseroan juga berencana mengembangkan organisasi dan sumber daya manusia (SDM). Termasuk meramu strategi digitalisasi, terutama meningkatkan tiga elemen utama modul TIK dalam hal infrastruktur, peningkatan aplikasi bisnis, dan tata kelola TIK.

Sedangkan dari sisi penghasilan bersih, dengan mempertimbangkan profitabilitas portofolio pinjaman yang ada, berkisar antara 2,4% hingga 3,2% dari ROA dan tingkat keuntungan perusahaan, yaitu sekitar 2,5% dari ROA. TIFA diharapkan meraup laba bersih US$ 2 juta di 2020, US$ 5 juta di 2021, dan US$ di 2022.

Selanjutnya, KDB mengharapkan 3 tahun untuk menginvestasikan modal baru sepenuhnya ke dalam bisnis pinjaman yang disebutkan di atas dan perlu mengelola kelebihan dana dengan berinvestasi pada instrumen keuangan di Indonesia. Dalam 1-2 tahun pertama, ROA diturunkan dan NIM lebih tinggi, yang merupakan efek peningkatan modal.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN