Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jamkrindo. Foto ilustrasi: jamkrindo.co.id

Jamkrindo. Foto ilustrasi: jamkrindo.co.id

Perum Jamkrindo Raup Laba Rp 615 Miliar

Minggu, 9 Februari 2020 | 12:13 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Perum Jamkrindo mencatatkan perolehan laba bersih pada 2019 sebesar Rp 615 miliar. Nilai itu tumbuh 54,52% secara tahunan (year on year/yoy) atau 4% lebih tinggi dari proyeksi rencana kerja dan anggaran perusahan (RKAP) sebesar Rp 592 miliar tahun 2019.

Berdasarkan data perseroan, perolehan itu disokong oleh total pendapatan sebesar Rp 3,4 triliun pada 2019. Capaian tersebut meningkat 33,86% dari perolehan tahun sebelumnya Rp 2,54 triliun. Sejak tahun 2015 sampai 2019, laba bersih tercatat hanya menurun pada 2018 akibat adanya perubahan metode pencatatan IJP Accrual.

Secara rinci, laba bersih sebesar Rp 625 miliar pada 2015, naik menjadi Rp 692 miliar pada 2016, lalu pada 2017 sebesar Rp 802 miliar. Kemudian anjlok menjadi Rp 398 miliar pada 2018, dan kembali meningkat pada 2019 mencapai Rp 615 miliar.

Perubahan pencatatan akuntansi itu juga berdampak pada pencatatan total pendapatan pada 2018 yang terlihat menurun. Pada 2015 total pendapatan perseoan mencapai Rp 2,18 triliun atau naik menjadi Rp 2,47 triliun pada 2016, lalu kembali naik menjadi Rp 2,74 triliun pada 2017. Namun pada 2018 merosot menjadi Rp 2,54 triliun dan membaik menjadi Rp 3,4 triliun pada akhir 2019.

Direktur Utama Perum Jamkrindo Randi Anto menuturkan, peningkatan pendapatan sejalan dengan meningkatnya volume penjaminan perseroan. Dia memastikan, lini itu naik diiringi peningkatan kualitas dari penjaminan.

“Kami menjadi lebih ekspansif sekaligus lebih selektif. Artinya secara volume kami menjadi besar tapi karena lebih selektif, kualitasnya menjadi semakin bagus, klaim saya menjadi lebih turun. Itu juga yang mendorong pendapatan kami,” kata Randi Anto di Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Dia menuturkan, sejak 2016, pihaknya secara konsisten menjaga pertumbuhan hingga dua digit. Secara beruntutan pertumbuhan volume penjaminan sejak 2016 sampai 2019 sebesar 81%, 18%, 17%, dan 17%.

Pada 2015 volume penjaminan hanya sebesar Rp 69,56 triliun atau naik signifikan menjadi Rp 125,97 triliun pada 2016, dan meningkat menjadi Rp 148,76 triliun pada 2017.

Selanjutnya pada 2018 melonjak menjadi Rp 174,74 triliun, kemudian tembus menjadi Rp 203,99 triliun pada akhir 2019.

Randi Anto menjelaskan, bisnis yang perseroan jalankan masih dan tetap pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada 2019, sebesar 29% dari total penjaminan atau setara Rp 59 triliun dikontribusikan untuk menjamin Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Untuk lini binis non-KUR tercatat sebesar Rp 144,9 triliun atau sebesar 61% dari total volume penjaminan.

“Sedangkan (jumlah) KUR yang dijamin sebesar 2,1 juta UMKM, yang non-KUR itu mencapai 5,5 juta UMKM. Total UMKM yang dijamin pada 2019 mencapai 7,6 juta,” tambah dia.

Sejak Perum Jamkrindo berdiri, Randi Anto menyatakan, akumulasi KUR yang sudah dijamin sampai saat ini adalah sebesar Rp 310 triliun. Dengan jumlah UMKM yang telah dijamin adalah sebesar 17,2 juta UMKM. Jumlah itu menyerap sekitar 26 juta tenaga kerja.

Randi Anto menjelaskan, dalam strateginya Perum Jamkrindo masih perlu menggambarkan semua penugasan dari pemerintah, termasuk penjamianan KUR. Kemudian, lebih intensif untuk memanfaatkan adanya sinergi antar-BUMN.

Selain itu, melakukan penetrasi lebih pada lini non KUR dengan teknologi informasi (TI) yang telah dikembangkan.

“Saya harus mendiversifikasi produk. Tidak hanya kepada yang KUR tapi juga yang non-KUR. Yang non- KUR inilah yang saya akan intensifkan juga, diluar bahwa KUR saya porsinya naik karena pemerintah naik. KUR sekarang (2020) Rp 195 triliun. Kalau dibagi dua dengan Askrindo saja sudah bisa sekitar Rp 95 triliun,” ungkap dia.

Di sisi lain, sampai akhir 2019 catatan kurang memuaskan hanya ditorehkan oleh kinerja investasi perseroan. Pendapatan investasi (yield on investment/ YoI) tahun lalu sebesar 7,21%, lebih rendah dari RKAP 2019 perseroan sebesar 7,38%. Dana investasi mencapai Rp 11 triliun.

Secara portofolio, deposito mencapai Rp 6,3 triliun atau 57% dari total investasi. Sebesar 82% di antaranya ditempatkan pada deposito Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), sisanya ada pada bank pembangunan daerah (BPD) dan beberapa bank swasta rekanan. Kemudian Rp 1,3 triliun atau sebesar 11,5% ditempatkan pada instrument obligasi pemerintah.

Selanjutnya, penempatan investasi ada pada obligasi korporasi sebesar 10% atau mencapai Rp 1 triliun, 90% di antaranya merupakan korporasi BUMN. Kemudian untuk reksa dana sebesar Rp 1,7 triliun dan Rp 250 miliar pada instrumen saham.

Terakhir, yakni penyertaan saham Rp 475 miliar pada anak perusahaan Jamkrindo Syariah. “Risk and return memang bertolak belakang, kami harus mencari jalan tengah. Kami mempertimbangkan kalau untuk industri penjaminan itu saya harus menyiapkan investasi yang dengan cepat harus bisa dicairkan. Menjaga kalau ada klaim besar pada penjaminan itu,” papar dia.

Sampai akhir 2019, Perum Jamkrindo membukukan total aset sebesar Rp 17,57 triliun atau tumbuh 8,18% (yoy). Sementara ekuitas sebesar Rp 11,97 triliun atau meningkat sebesar 5,93% (yoy). Adapun perseroan masih menunggu keputusan pemerintah untuk menyetorkan persentase nilai dividen.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN