Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) / Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing. Sumber: BSTV

Suwandi Wiratno - Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) / Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing. Sumber: BSTV

Piutang Pembiayaan Multifinance Diprediksi Menyusut 15%

Senin, 30 November 2020 | 14:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memprediksi piutang pembiayaan pada tahun ini akan ditutup menyusut 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, perusahaan pembiayaan (multifinance) secara perlahan mampu memasuki periode pemulihan (recovery).

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno menyampaikan, booking pembiayaan di multifinance mulai meningkat. Pembiayaan penjualan mobil baru yang sebelumnya hanya menyentuh 10% dari situasi normal, kini mampu mendekati 50% dari situasi normal. Hal serupa juga dicatatkan pada penjualan motor baru.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan kendaraan bermotor baik baru atau bekas menjadi portofolio pembiayaan terbesar multifinance. Per September 2020, lini tersebut mencakup 63% dari total piutang pembiayaan. Oleh karena itu, tren penjualan kendaraan bermotor menjadi salah satu acuan melihat perkembangan pembiayaan pada multifinance.

"Tahun ini pembiayaan kurang lebih minus 15%. Pembiayaan kan belum recovery normal, yang lunas juga banyak. Kan kemarin (September 2020) sudah turun 14%. Prediksinya sesuailah sekitar minus 14-15%," kata Suwandi kepada Investor Daily, Senin (30/11/2020).

Prediksi piutang pembiayaan tersebut juga mengacu pada proyeksi Asosiasi Kendaraan Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang memaparkan penjualan motor akan ditutup pada kisaran 3,9 juta unit. Jumlah itu turun sekitar 40% dibandingkan penjualan motor pada 2019 sebanyak 6,4 juta unit.

Sementara itu, kata Suwandi, realisasi dan proyeksi penjualan mobil pun mirip. Hasil diskusi APPI dengan sejumlah produsen penjual mobil, awalnya memperkirakan penjualan akan ditutup mencapai 600 ribu unit tapi jumlah lebih realistis diperkirakan sebanyak 520 ribu unit pada tahun ini. Pada keadaan normal, produsen mobil bisa menjual sampai 1,1 juta unit. Selain itu, penjualan mobil bekas pun diprediksi akan terperosok 80-90%.

Suwandi berharap momentum perbaikan bisa terus berlangsung sampai akhir tahun ini seiring dengan pemulihan ekonomi nasional. "Kita juga perlu melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 juga sepertinya lebih baik dibandingkan kuartal III-2020. Semoga pada bulan Desember ada pengumuman vaksin yang lebih jelas. Itukan semua mengarah ke sana (recovery), semoga situasi tidak kembali memburuk," imbuh dia.

Di samping itu, dia mengakui, multifinance memang kesulitan untuk mendapatkan pendanaan pada masa pandemi Covid-19. Fenomena tersebut mendorong ketatnya likuiditas pada multifinance. Rata-rata gearing ratio industri multifinance hingga Oktober 2020 sebesar 2,28%, lebih rendah dibandingkan posisi September 2020 sebesar 2,35%. Gearing ratio masih tercatat di posisi aman dari ketentuan maksimal.

"Gearing ratio kita masih bagus, ini berhubungan pendanaan. Bagaimana utang perusahaan pembiayaan mau naik kalau sekarang beberapa bank likuiditas yang diperuntukan bagi multifinance masih ketat. Mudah-mudahan pada Januari 2021 ada kabar baik dari perbankan," ungkap dia.

Suwandi mengemukakan, fasilitas kredit dari perbankan belum sepenuhnya disalurkan oleh multifinance. Berdasarkan kabar dan perkembangan yang diterima APPI, fasilitas kredit bagi multifinance bakal mulai banyak dikucurkan pada Januari 2021. Tapi tentu dengan syarat yakni perkembangan ekonomi mesti berjalan lebih baik.

Hal serupa juga diharapkan terjadi pada pendanaan melalui surat utang. Pihaknya optimistis situasi pasar modal kian membaik dan surat utang bisa multifinance lebih menggeliat. Dengan sejumlah faktor tersebut, pada akhirnya likuiditas multifinance bisa lebih memadai guna menyalurkan pembiayaan baru di masa mendatang.
 

NPF Membaik

Sementara itu, OJK juga mencatat, piutang pembiayaan multifinance sampai Oktober 2020 tercatat Rp 379,9 triliun atau menyusut 15,7% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan per 17 November 2020, multifinance telah melakukan restrukturisasi pembiayaan mencapai Rp 181,33 triliun atau setidaknya mencakup 47,73% dari total piutang pembiayaan. Total nilai restrukturisasi diberikan kepada 4,87 juta kontrak.

Menurut OJK, peran restrukturisasi sangat besar dalam menekan tingkat (non performing financing/NPF) bank dan permodalan bank. Namun demikian, hal yang sama tentu turut dirasakan multifinance. Sehingga stabilitas sektor jasa keuangan dapat terjaga dengan baik.

Per Oktober 2020, rasio NPF multifinance menguat di level 4,7%. Posisi itu secara konsisten membaik sejak terakhir kali menyentuh 5,60% di Juli 2020. Suwandi menilai, membaiknya NPF multifinance juga menunjukkan bahwa portofolio pembiayaan telah memasuki periode pemulihan.

"Kita sebetulnya sudah recovery, NPF kita terus mengecil. Kalau kita belum recovery, tentu NPF kita terlihat ada peningkatan. NPF (tahun 2020) semoga ditutup 4%, kita maunya begitu, membaik terus. Tapi kan kembali lagi, situasi belum kembali normal," jelas Suwandi.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN