Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bank Utama Fiance  saat menggelar  pameran digital otomotif  MUF Online Autoshow 2020.

PT Bank Utama Fiance saat menggelar pameran digital otomotif MUF Online Autoshow 2020.

Relaksasi Pajak Kendaraan 0% Bisa Kerek Permintaan Pembiayaan di Multifinance

Selasa, 15 September 2020 | 04:27 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Perusahaan pembiayaan (multifinance) menyambut positif usulan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengenai relaksasi pajak pembelian kendaraan bermotor menjadi 0%. Jika usulan itu disetujui, harga kendaraan yang lebih murah bakal mengerek permintaan pembiayaan di multifinance.

Presiden Direktur PT Mandiri Utama Finance Stanley Setia Atmadja menilai, usulan Menperin sangat baik dan akan mendukung produsen menjual kendaraan bermotor. Selain itu, realisasi usulan itu pun mendorong konsumen untuk memiliki kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau.

"Untuk saat ini, pendekatan ini sangat tepat karena akan memberikan multiplier effect terhadap keseluruhan supply chain dari pabrikan sampai dengan kesehatan dealer sebagai retailer. Sekaligus menambah kemampuan cicil konsumen dengan harga mobil yang lebih murah," kata dia kepada Investor Daily, Senin (14/9).

Stanley mengemukakan, pastinya jika usulan relaksasi pajak pembelian kendaraan itu terimplementasi, diharapkan akan meningkatkan penjualan dan dengan sendirinya permintaan pembiayaan akan bertumbuh.

"MUF akan memanfaatkan support ini dengan membuat program-program financing yang menarik untuk mendukung program ini," tandas dia.

PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menggelar kegiatan edukasi dan literasi Keuangan kepada mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya pada Kamis (25/10) di Kampus Jayabaya, Jakarta.
PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menggelar kegiatan edukasi dan literasi Keuangan kepada mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya pada Kamis (25/10) di Kampus Jayabaya, Jakarta. Foto ilustrasi: IST

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman mengemukakan, pihaknya sangat menyambut baik gagasan dari pemerintah tersebut, dalam hal ini yang diwakili oleh Menperin. Bila dilihat dari kacamata CNAF, usulan Menperin itu akan serta merta menurunkan harga kendaraan bermotor. Kemudian, akan memberi efek domino positif dalam merangsang masyarakat memiliki unit kendaraan baru.

"Dampak dari meningkatnya rangsangan masyarakat untuk membeli mobil baru akan secara otomatis pula meningkatkan permintaan akan pembiayaan kendaraan di perusahaan pembiayaan, khususnya CNAF," ungkap Ristiawan.

Untuk sementara ini, sambung dia, CNAF melihat rencana tersebut dapat meningkatkan geliat ekonomi khususnya di dalam ekosistem industri otomotif di Indonesia. Apalagi sekarang ini industri tersebut dalam kondisi menantang sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Ristiawan mengungkapkan, jika nantinya kebijakan tersebut disetujui, pihaknya pun mesti ikut serta berkontribusi.

"Relaksasi ini secara makro akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dengan pertumbuhan ekonomi positif tersebut, CNAF sebagai bagian dari pelaku bisnis akan juga merespon dengan positif, salah satunya adalah akan lebih agresif dalam mempenetrasi pasar," pungkas dia.

Target BCA Finance
Target BCA Finance

Sedangkan, Direktur Utama PT BCA Finance Roni Haslim juga menyambut positif usulan relaksasi pajak pembelian kendaraan bermotor menjadi 0% tersebut. Dia menilai, rencana itu sudah sangat tepat dan akan berimplikasi positif terhadap kinerja pembiayaan multifinance, terutama BCA Finance.

"Kalau bisa disetujui, akan sangat bagus. Industri mobil dan juga multifinance bisa bangkit kembali. Volume (pembiayaan) pasti akan baik, akan sangat bagus," ucap dia.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total piutang pembiayaan multifinance tercatat terus terkoreksi sepanjang pandemi Covid-19. Sampai Juli 2020, piutang pembiayaan tercatat terkontraksi 8,49% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp 423,84 triliun.

Penurunan itu utamanya dipengaruhi penurunan pembiayaan barang konsumsi sebesar 7,85% (yoy) menjadi Rp 286,76 triliun. Dengan rincian, pembiayaan kendaraan roda dua baru dan bekas turun 8,31% (yoy) menjadi sebesar Rp 102,74 triliun. Serta pembiayaan kendaraan kendaraan roda empat baru dan bekas turun 7,42% (yoy) menjadi Rp 178,54 triliun. Penurunan juga dicatatkan pada pembiayaan barang konsumsi lainnya.

Agus Gumiwang Kartasasmita. Sumber: IST
Agus Gumiwang Kartasasmita. Sumber: IST

Sementara itu, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pihaknya telah mengusulkan relaksasi pajak pembelian mobil baru sebesar 0% atau pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB). Upaya ini diharapkan dapat menstimulasi pasar sekaligus mendorong pertumbuhan sektor otomotif di tengah masa pandemi Covid-19.

"Kami sudah mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk relaksasi pajak mobil baru 0% sampai bulan Desember 2020", kata Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan tertulis, Senin (14/9).

Menperin meyakini, upaya pemangkasan pajak pembelian mobil baru tersebut diyakini bisa mendongkrak daya beli masyarakat. Tujuannya yakni untuk memulihkan penjualan produk otomotif yang tengah turun selama pandemi.

Agus mengatakan, kinerja industri otomotif pada semester pertama 2020 terbilang melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini terjadi karena dampak pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020. Namun, perkembangan positif mulai terjadi pada semester kedua tahun ini.

"Aktivitas industri otomotif memiliki multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja yang besar hingga memberdayakan pelaku usaha di sektor lainnya. Industri otomotif itu mempunyai turunan begitu banyak. Ada tier 1, tier 2 yang begitu banyak,” imbuh dia.

Seperti diketahui, masyarakat yang membeli mobil dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 73 tahun 2019, yakni sebesar 15-70% untuk kendaraan bermotor angkutan orang. Besaran tarif disesuaikan dengan jumlah maksimal muatan setiap kendaraan, dan juga isi silinder.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN