Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas layanan sebuah perusahaan pembiayaan menjelaskan kepada pelanggan perihal kredit kepemilikan kendaraan bermotor, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Relaksasi Tambahan OJK untuk 'Multifinance' Bisa Percepat Pemulihan Ekonomi

Rabu, 11 November 2020 | 22:23 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana memberikan relaksasi tambahan bagi perusahaan pembiayaan (multifinance). Selain membangkitkan gairah pembiayaan, kebijakan itu diyakini bisa menimbulkan efek domino guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman menyampaikan, pihaknya meyakini bahwa relaksasi tambahan yang sudah disetujui di rapat Dewan Komisioner OJK akan membawa dampak positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi nasional.

"Segmen nasabah di sektor produktif menengah ataupun kecil adalah penopang dari ekonomi di Indonesia. Jadi dengan memberikan relaksasi tambahan di sektor produktif di segmen tersebut, dengan catatan relaksasi diberikan terhadap profil nasabah yang tepat sudah pasti akan memberikan efek domino yang sangat positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi di Indonesia," kata Ristiawan kepada Investor Daily, Rabu (11/11).

Namun demikian, kata dia, sejauh ini CNAF hanya memiliki pembiayaan multiguna untuk pembiayaan kendaraan roda 4 dan fasilitas dana. Sehingga belum dapat memanfaatkan secara maksimal relaksasi tersebut.

Dihubungi terpisah, Direktur Keuangan PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Armendra mengatakan, pihaknya pun menyambut baik kebijakan OJK dalam rangka mempercepat program PEN. "Ini langkah yang baik untuk mendorong para pelaku usaha segera bangkit. Ada sebagian yang memerlukan modal baru untuk recovery. Tapi ini tetap dikembalikan pada business model dari masing-masing multifinance," ucap dia.

Dia menerangkan, tantangan multifinance saat ini adalah terkait likuiditas. Kondisi itu salah satunya dipengaruhi kondisi ekonomi yang belum pulih dan menjadi kendala tersendiri dalam menjaga kualitas pembiayaan. Sebab, jika kualitas pembiayaan melorot, maka pendapatan pun ikut anjlok yang kemudian mengganggu kondisi likuiditas.

Selanjutnya, supply side dari lini bisnis utama multifinance yakni pembiayaan kendaraan bermotor belum sempat terpukul hebat. Bahkan penjualan kendaraan roda empat yang diproyeksi oleh Gaikindo baru mampu pulih pada tahun 2021. Hal itu turut mengganggu likuiditas karena pembayaran belum pulih.

Oleh karena itu, kata dia, multifinance perlu menjaga likuiditasnya dengan mencari dana. Maka salah satu relaksasi tambahan bagi multifinance yang bakal diberikan OJK adalah terkait penerbitan surat utang. "Kebijakan relaksasi tambahan ini sebagai salah satu solusi bahwa untuk mencari dukungan dana itu mungkin bisa multifinance menerbitkan surat utang. Tidak perlu enam bulan pengajuannya, bisa dipersingkat menjadi dua bulan," ungkap Armendra.

Kendati demikian, sambung Armendra, kebijakan relaksasi penerbitan surat utang masih perlu dikritisi lebih lanjut. Pertama, penerbitan surat utang perlu dilihat daya tariknya bagi investor. Kalau bunga yang ditawarkan tinggi, maka menjadi dilematis, karena akan menggerus pendapatan multifinance.

Dia menambahkan, mungkin OJK bisa memberi threshold atau keeping terkait dengan tingkat bunga. Walaupun penerbitan surat utang berupa obligasi itu tergantung dari obligasi pemerintah ditambah risk premium dari masing-masing multifinance yang pada akhirnya menghasilkan rate dari obligasi, berikut dengan pengaturan terkait risk premium.

Kedua, terkait dengan penyerapan obligasi yang akan diterbitkan multifinance. Diharapkan ada imbauan untuk memiliki obligasi yang diterbitkan oleh multifinance. Di sisi lain, mungkin bisa dibantu oleh asset management dengan memasukkan ke produk-produknya. Meskipun pada akhirnya hal itu akan kembali pada asset management membungkus obligasi multifinance menjadi sesuatu yang menarik.

Adapun diketahui, guna mendukung penguatan pendanaan bagi multifinance, OJK akan memberikan relaksasi efek yang bersifat utang kepada multifinance tapi tidak melalui penawaran umum. Dengan persyaratan multifinance wajib memiliki ekuitas lebih besar Rp 100 miliar. Pada ketentuan sebelumnya ekuitas multifinance paling rendah sebesar Rp 200 miliar.

Rencana penerbitan surat utang multifinance mesti disampaikan lebih cepat kepada OJK. Rencana penerbitan disampaikan dua bulan sebelum penerbitan, atau lebih singkat dibandingkan ketentuan sebelumnya yakni enam bulan. Adapun efek yang akan diterbitkan kurang atau lebih dari Rp 100 miliar tetap harus melakukan pemeringkatan minimal BBB (triple B).

Kemudian, relaksasi tambahan lainnya adalah memperbesar plafon penyaluran pembiayaan modal kerja, modal usaha ke sektor produktif menjadi paling banyak Rp 10 miliar. Serta relaksasi terkait pembiayaan modal kerja dengan cara fasilitas modal usaha di bawah paling banyak Rp 25 juta, dikecualikan untuk memiliki agunan. Adapun juga diketahui, bahwa sejumlah relaksasi tambahan itu sudah disetujui pada rapat dewan komisioner OJK pada pekan lalu.

Minimalkan Kerugian

Masih menanggapi relaksasi tambahan itu, Armendra mengemukakan, multifinance yang bukan bagian dari suatu bank atau grup tertentu akan melakukan upaya meminimalkan kerugian secara maksimal. Jadi kebijakan relaksasi tambahan dari OJK bisa bagus untuk multifinance dengan ekuitas kecil yang kesulitan dalam menyalurkan pembiayaan.

"Multifinance bisa lebih lincah, bisa masuk ke segmen plafon Rp 25 juta tanpa agunan atau bahkan kalau mau bisa menggarap segmen dengan plafon Rp 10 miliar. Ruang gerak multifinance diberi kebebasan. Yang penting supply-nya sudah dibuka dulu, tinggal mengolah demand-nya," jelas dia.

Bagi MTF, Armendra menuturkan, pihaknya akan mengkaji lebih lanjut terkait relaksasi OJK itu terhadap rencana bisnis perseroan. Tapi pihaknya pastikan akan memanfaatkan seluruh kebijakan yang ada. Meski begitu, pihaknya memproyeksi pembiayaan belum kembali sepenuhnya pada tahun depan. Tapi kebijakan itu bisa mempercepat pemulihan ekonomi.

"Kita harapkan dengan kebijakan seperti ini ada percepatan pemulihan. Secara konservatif di 2021 MTF bisa mencapai kinerja 70% seperti di tahun 2019. Karena walaupun vaksin ditemukan, masyarakat juga masih butuh waktu untuk kembali ke aktivitas normal," ujar dia.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN