Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut PT. Pegadaian (Persero) Kuswiyoto. Investor Daily / Emral Firdiansyah

Dirut PT. Pegadaian (Persero) Kuswiyoto. Investor Daily / Emral Firdiansyah

Semester I, Laba Bersih Pegadaian Rp 1,53 Triliun

Rabu, 29 Juli 2020 | 23:18 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Pegadaian (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,53 triliun sampai semester I-2020, nilai tersebut relatif stagnan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi imbal hasil (yield) yang menurun, karena sejumlah program yang dijalankan saat pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto menyampaikan, bahwa pandemi turut memberi dampak pada kinerja laba sampai paruh pertama tahun ini.

"Laba bersih secara year on year (yoy) hampir sama, walaupun ada kondisi pandemi ini. Salah satunya karena kita melakukan relaksasi. Per Juni 2020 ini laba bersih tetap Rp 1,5 triliun," ungkap dia saat paparan kinerja semester I-2020 secara virtual, Rabu (29/7).

Direktur Keuangan Pegadaian Ninis Kesuma Adriani menerangkan, sepanjang semester I-2020 Pegadaian mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 10,1 triliun, naik 27,8% dibanding periode sama tahun 2019 sebesar Rp 7,9 triliun. Meski meningkat, imbal hasil atau pendapatan bunga perseroan merosot menjadi 25,64% dibanding akhir tahun lalu sebesar 27,13%.

"Tren laba, ini memang laba stagnan karena yield-nya turun. Kenapa yield turun? Pertama, kita tidak bisa bertahan pada yield yang sama maka kita menurunkan yield untuk bisa bersaing di pasar. Kedua, kita punya Program Gadai Peduli. Itu kita bebaskan bunga ke nasabah selama tiga bulan, ini kan pasti berpengaruh. Ketiga, restrukturisasi, ini juga kan nasabah diberikan keringanan pembayaran bunga selama tiga bulan. Jadi yield-nya turun," papar dia.

Selain dari sisi pendapatan yang belum bisa maksimal karena sejumlah program, laba bersih perseroan turut tergerus karena pembentukan cadangan. Hal tersebut tercermin dari peningkatan sebesar 8,8% untuk rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Pegadaian, dari 73,94% para semester I-2019 menjadi 80,46% di semester I-2020.

Ninis menjelaskan, pencadangan naik signifikan karena sejumlah hal seperti implementasi PSAK 71 di 2020. Kemudian kebijakan perseroan untuk lebih konservatif terhadap risiko pembiayaan saat pandemi Covid-19. Menurut dia, pencadangan yang sudah dilakukan sudah sangat cukup untuk menyerap berbagai risiko pembiayaan di masa mendatang.

"Coverage-nya sudah sangat cukup, sekarang kita punya NPL kurang lebih Rp 1,2 triliun, cadangan kita Rp 1,5 triliun. Itu sudah termasuk di bisnis gadai yang sebetulnya tidak perlu kita bentuk cadangan. Ini sudah sangat aman, meski coverage-nya hampir 90%, tapi kalau kita mengeluarkan gadai, coverage kita itu sudah di 128%," tutur dia.

Melihat perkembangan kinerja tersebut, Ninis mengungkapkan, bahwa target laba bersih Pegadaian tahun ini bakal direvisi. Hanya saja, dia enggan untuk menyampaikan proyeksi terbarunya. Namun yang pasti, target penyaluran pembiayaan tidak berubah meskipun di masa mendatang risiko pembiayaan diproyeksi meningkat.

Sampai semester I-2020, pembiayaan Pegadaian masih tumbuh positif sebesar 18,8% atau menjadi sebesar Rp 80,4 triliun. Sedangkan tingkat pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) tercatat sebesar 2,37%, naik 5 basis poin (bps) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 2,32%.

Kuswiyoto menuturkan, bahwa dari pinjaman yang disalurkan tersebut, sekitar 60% bersifat produktif, sedangkan sisanya 40% bersifat konsumtif. Karena itu perseroan berperan aktif membantu masyarakat bangkit dari krisis. Jika ditilik dari outstanding loan (OSL) sampai Juni 2020, perseroan mencatatkan peningkatan sebesar 21,3% (yoy) menjadi sebesar 53,0 triliun. Adapun omset juga turut tumbuh sebesar 18,8% (yoy) menjadi sebesar Rp 80,4 triliun.

"Sebagai BUMN, Pegadaian terus konsisten mendukung program pembangunan ekonomi, apalagi saat ini masyarakat tengah menghadapi ketidakpastian akibat pandemi Covid-19. Kami juga bersyukur, meskipun kondisi global kurang bersahabat, penyaluran pinjaman perseroan masih relatif aman," ungkap dia.

Lebih lanjut, Kuswiyoto mengatakan, performa kinerja Pegadaian juga mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 22,0% (yoy) menjadi Rp 68,4 triliun. Peningkatan tersebut mendorong perseroan terus meningkatkan kinerja produk gadai sebagai bisnis utamanya.

"Kami terus meningkatkan sistem layanan kepada nasabah-nasabah kami di seluruh wilayah Indonesia. Hingga Juni 2020 ini, jumlah nasabah perseroan tercatat sebanyak 15 juta orang. Tumbuh sebesar 26,6% dibanding Juni 2019 sebesar 11,9 juta orang, “ papar dia.

Sementara itu, untuk meningkatkan layanan bisnis Pegadaian, Kuswiyoto mengungkapkan bahwa menggandeng berbagai mitra sinergi untuk memperluas kanal distribusi menjadi pondasi yang kuat untuk perseroan menjaga keberlangsungan kinerja perusahaan. Saat ini, tercatat sebanyak 716 mitra sinergi dari berbagai instansi yang sudah menjalin kerjasama dengan Pegadaian.

Perseroan juga terus memperluas basis nasabah melalui sistem keagenan, hingga Juni 2020 tercatat perseroan memiliki sebanyak 10.385 agen aktif. Program keagenan yang semula bersifat perorangan, saat ini dikembangkan menjadi agen komunitas dan agen prioritas, hal tersebut dimaksudkan agar semakin banyak segmen masyarakat yang dapat dijangkau dan dilayani.

Kuswiyoto menjelaskan bahwa untuk mencapai target bisnis Pegadaian di tengah kondisi pandemi ini, perseroan terus menyusun strategi dengan menetapkan berbagai regulasi keringanan-keringanan kepada nasabah. Regulasi yang disusun oleh Pegadaian seperti penurunan tarif bunga dari 1,2% menjadi 1% per 15 hari untuk roll over kredit gadai, guna membantu nasabah dan menjaga hubungan (engagement).

Di samping itu, Ninis menambahkan, sampai akhir tahun 2020 perseroan tidak memiliki masalah berarti terkait pendanaan. Dana segar yang didapat dari pasar modal sebesar Rp 2,5 triliun melalui surat utang di tahun ini, serta fasilitas kredit dari perbankan yang sewaktu-waktu bisa digunakan masih mampu menutup proyeksi pembiayaan sampai akhir tahun.

Adapun per semester I-2020, return of asset (ROA) Pegadaian tercatat sebesar 4,47%. Return of equity (ROE) tercatat sebesar 12,64%. Serta debt to equity ratio (DER) tercatat sebesar 1,8 kali.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN