Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Ananta Wiyogo dalam sambutannya pada workshop series Community Tourism Development di Solo, Selasa (23/3/2021). Foto: Beritasatu.com/Aditya L Djono

Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Ananta Wiyogo dalam sambutannya pada workshop series Community Tourism Development di Solo, Selasa (23/3/2021). Foto: Beritasatu.com/Aditya L Djono

SMF Bukukan Laba Bersih Rp 470 Miliar

Senin, 5 April 2021 | 17:57 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF membukukan laba bersih (audited) sebesar Rp 470 miliar atau lebih rendah 0,63% secara tahunan (year on year/yoy) di akhir tahun 2020. Kendati begitu, realisasi laba bersih lebih tinggi dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2020 sebesar Rp 318 miliar.

Direktur SMF Trisnadi Yulrisman menyampaikan, perseroan secara umum masih mencatatkan realisasi kinerja yang positif. Hampir seluruh indikator keuangan mampu melampaui target yang dipatok pada RKAP tahun 2020.

"Laba bersih perseroan mencapai Rp 470 miliar di 2020, ini di atas RKAP 2020 sebesar Rp 318 miliar. Laba ini dihasilkan dari pendapatan sebesar Rp 2,34 triliun, lebih tinggi dari RKAP Rp 2,17 triliun. Lalu dikurangi beban, pajak, dan CKPN seperti di PSAK 71 yaitu sebesar Rp 1,87 triliun, ini diatas RKAP sebesar Rp 1,78 triliun," ujar Tris saat paparan kinerja SMF secara virtual, Senin (5/4).

Selain itu, total aset tumbuh 21,98% (yoy) menjadi Rp 32,56 triliun, atau lebih tinggi dari RKAP 2020 sebesar Rp 31,38 triliun. Begitupun liabilitas dan dana syirkah temporer naik 21,49% (yoy) menjadi Rp 21,07 triliun atau lebih tinggi dari RKAP 2020 sebesar Rp 20,09 triliun. Sedangkan ekuitas meningkat 22,26% (yoy) menjadi Rp 11,42 triliun, atau lebih tinggi dari RKAP 2020 sebesar Rp 11,28 triliun.

Pada saat yang sama, secara total akumulasi dana yang telah dialirkan SMF ke sektor pembiayaan perumahan dari tahun 2005 mencapai Rp 69,15 triliun. Kinerja tersebut ditopang akumulasi 14 kegiatan sekuritisasi sebesar Rp 12,78 triliun, penyaluran pinjaman sebesar Rp 56,21 triliun, serta akumulasi pembelian KPR sebesar Rp 156 miliar.

Lebih lanjut, Direktur SMF Heliantopo memaparkan, kegiatan usaha SMF seperti sekuritisasi sepanjang 2020 tercatat sebesar Rp 631 miliar, lebih rendah dari pencapaian tahun sebelumnya Rp 2 triliun. Sedangkan penyaluran pinjaman tercatat sebesar Rp 6,42 triliun atau lebih rendah 48,28% (yoy), tapi sedikit lebih baik dari target RKAP sebesar Rp 6,08 triliun. Pembiayaan dilakukan atas kerja sama dengan Bank Umum, Bank Syariah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan perusahaan pembiayaan.

Topo menerangkan, pihaknya belum terlalu optimis kinerja penyaluran pinjaman akan lebih moncer di tahun ini. "Saat ini perbankan belum terlalu agresif untuk menyalurkan pembiayaan KPR, dibanding tahun-tahun sebelum pandemi. Demikian juga terkait dengan SMF. Tentu pembiayaan mengikuti pendanaan dari perbankan, maka jumlahnya belum bisa kami bagikan," terang dia.

Namun demikian, sambung dia, penyaluran KPR FLPP sampai dengan April 2021 berjalan cukup baik dibandingkan pembiayaan bersifat komersial. SMF meyakini target penyaluran pembiayaan KPR FLPP di 2021 bisa tercapai jika tren saat ini bisa dipertahankan sampai akhir tahun.

Dari aspek pendanaan, SMF telah menerbitkan surat utang sebesar Rp 7,27 triliun serta fasilitas dari perbankan senilai Rp 1,2 triliun. Total pendanaan mencapai Rp 8,47 triliun itu mencakup 98% dari RKAP 2020. Pada saat yang sama, posisi outstanding surat utang SMF mencapai Rp 18,16 Triliun dan outstanding pendanaan jangka panjang dari bank sebesar Rp 1,5 triliun.

Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan, dari seluruh dana yang telah dialirkan, SMF telah membiayai kurang lebih 1,08 juta debitur KPR (termasuk KPR Program FLPP) yang terbagi atas 84,20% wilayah barat, 15,12% wilayah tengah, dan sisanya sebesar 0,68% wilayah timur Indonesia. Selain itu SMF juga aktif merealisasikan beberapa program penugasan khusus dari Pemerintah diantaranya Program Pembiayaan Homestay di Destinasi Pariwisata Prioritas, dan Program Peningkatan Kualitas Rumah di Daerah Kumuh.

Di tahun 2021, SMF menerima dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 2,5 triliun yang seluruh dananya akan disalurkan bagi KPR program FLPP. Nan itu akan dikombinasikan dengan surat utang terbaru perseroan untuk memenuhi kebutuhan dana sebesar Rp 6,37 triliun.

"Bersama PPDPP, kita harus menyalurkan 157.500 unit rumah. Dimana butuh Rp 25 triliun, SMF menyumbang 25% atau sebesar Rp 6,37 triliun, sedangkan PPDPP sebesar 75% atau senilai Rp 19,12 triliun. Tapi suku bunga dipatok yang harus sampai ke debitur adalah 5% selama umur KPR FLPP tersebut," demikian jelas Ananta.

Ananta mengungkapkan, dalam mendorong PEN di sektor perumahan, SMF juga merealisasikan amanat pemerintah sebagai Wakil Pelaksana Investasi kepada Perum Perumnas yang telah dilakukan tahap pertama di tahun 2020 sebesar Rp 200 miliar dari total Rp 650 miliar. Hal itu bertujuan untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan melalui sinergi, transformasi, dan reposisi peran Perumnas dalam ekosistem perumahan nasional.

Melalui perluasan mandatnya, SMF akan memperkuat fungsi dan perannya dalam mendukung peningkatan kapasitas penyaluran pembiayaan perumahan yang berkesinambungan baik dari sisi supply dan demand. Dalam melengkapi perannya untuk memajukan ekosistem perumahan Indonesia, SMF berencana untuk menjalankan program kredit mikro perumahan yang lebih down to earth kepada masyarakat. Dalam merealisasikan hal tersebut, saat ini SMF tengah menjajaki sinergi dengan para pemangku kepentingan.

Sinergi BP Tapera

Di sisi lain, Ananta menerangkan, sinergi dan komunikasi intens dilakukan dengan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Misalnya dalam rangka pemupukan dana, BP Tapera bertindak sebagai pembeli surat utang dan EBA milik SMF.

Selanjutnya, potensi kerjasama lain seperti proses pemanfaatan dana juga bisa dilakukan. "Nanti kan harusnya BP Tapera itu menyalurkan dananya untuk penyalur KPR, disitu SMF bisa berperan untuk menjembatani. Karena pada pemanfaatan dana adalah penyaluran BP Tapera harus diimbangi dengan pengeluaran surat utang dari penerima dana tersebut," ucap Ananta.

Dia menambahkan, kerjasama juga diperuntukan terkait KPR bagi ASN, TNI, dan Polri. KPR bagi peserta dengan pendapatan Rp 4-8 juta diserahkan pada BPR Tapera. Sedangkan peserta dengan pendapatan lebih dari Rp 8 juta akan ditangani oleh SMF.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN