Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu berfoto bersama dengan Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Ananta Wiyogo serta jajaran manajemen SMF dan redaksi saat kunjungan PT SMF ke BeritaSatu Media Holdings di Jakarta, Selasa (20/8/2019). Foto: Investor Daily/Emral

Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu berfoto bersama dengan Dirut PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Ananta Wiyogo serta jajaran manajemen SMF dan redaksi saat kunjungan PT SMF ke BeritaSatu Media Holdings di Jakarta, Selasa (20/8/2019). Foto: Investor Daily/Emral

SMF Telah Biayai 775 Ribu Unit Rumah

Aris Cahyadi, Rabu, 21 Agustus 2019 | 20:43 WIB

JAKARTA, investor.id -Selama 13 tahun beroperasi, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF telah membiayai 775 ribu unit rumah di berbagai daerah di Tanah Air. Untuk mempercepat penurunan defisit (backlog) rumah yang mencapai 11,4 juta unit dan memenuhi kebutuhan rumah 800 ribu unit per tahun, SMF akan menggandeng tiga bank untuk sekuritisasi aset dengan target Rp 2,2 triliun hingga akhir tahun.

“Kami telah manjajaki kerja sama dengan tiga bank untuk melaksanakan sekuritisasi aset pada semester II-2019 melalui skema Efek Beragun Aset-Surat Partisipasi (EBA-SP). Target sekuritisasi hingga akhir tahun ini Rp 2,2 triliun,” kata Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo ketika berkunjung ke Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Selasa (20/8).

Menurut Ananta, hingga paruh pertama tahun ini, SMF belum melaksanakan sekuritisasi aset. Namun, dengan menggandeng tiga bank, sekuritisasi aset diharapkan terlaksana pada akhir kuartal III-2019.

“Sekarang kami sedang jajaki bersama tiga bank, namun saya tidak bisa disclose dulu. Kurang lebih nilai totalnya Rp 2 triliun hingga Rp 2,5 triliun. Target kami sih Rp 2,2 triliun,” ujar dia.

Ananta Wiyogo menjelaskan, sekuritisasi aset merupakan model transaksi bagi penyalur kredit pemilikan rumah (KPR) yang ingin memperbaiki struktur modal. Sekuritisasi dilakukan dengan mentransformasi aset yang tidak likuid menjadi likuid melalui pembelian aset keuangan dari kreditor asal dan penerbit efek beragun asset (EBA) berupa tagihan KPR yang dipilih melalui 32 kriteria seleksi.

“Berbagai efek diterbitkan sebagai hasil transaksi sekuritisasi tagihan KPR, di mana investor dapat berinvestasi dalam bentuk EBA-SP,” tutur dia.

Ananta mengakui, sekuritisasi aset menjadi tantangan tahun ini bagi SMF yang didirikan pada 22 Juli 2005 dan resmi beroperasi sejak 2006. Buktinya, hingga semester I-2019, program sekuritaisasi yang direncanakan perseroan belum terealisasi. Meski demikian, Ananta optimistis target sekuritisasi senilai Rp 2,2 triliun hingga akhir tahun ini tercapai, bahkan bisa lebih tinggi.

“Diharapkan sekuritisasi aset ini bisa mempercepat penyaluran dana bagi pembiayaan perumahan demi menyukseskan Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah,” tegas dia.

Ananta Wiyogo juga mengungkapkan, hingga akhir semester I-2019, SMF telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 5,33 triliun, tumbuh 23,95% dibandingkan semester I-2018 yang senilai Rp 4,3 triliun. “Tahun ini SMF menargetkan penyaluran pinjaman Rp 10 triliun. Artinya, sampai enam bulan pertama telah tersalurkan 53,3% dari target,” papar dia.

Dari seluruh dana yang telah disalurkan untuk program refinancing sepanjang semester I-2019, BUMN tersebut telah membiayai kurang lebih 40 ribu debitur KPR yang mayoritas terdistribusi di wilayah barat Indonesia.

“Ke depan kami akan tingkatkan wilayah timur Indonesia,” ucap dia.

Secara kumulatif, menurut Ananta, realisasi dana yang dialirkan dari pasar modal ke sektor pembiayaan perumahan sejak 2006 sampai 30 Juni 2019 mencapai Rp 52,8 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp 42,69 triliun di antaranya merupakan akumulasi penyaluran pinjaman perseroan. Selebihnya atau Rp 10,15 triliun adalah nominal transaksi sekuritisasi KPR yang difasilitasi perseroan.

“Dana yang telah dialirkan itu telah membiayai 775 ribu debitur KPR yang tediri atas 76% pembiayaan dan 24% sekuritisasi,” ujar dia.

Ananta Wiyogo memaparkan, sampai semester I-2019, SMF mencetak laba bersih Rp 241,03 miliar, meningkat 9,56% dibandingkan periode sama tahun silam sebesar Rp 219,99 miliar. Sedangkan pendapatan yang dibukukan perseroan mencapai Rp 866 miliar atau 48,93% dari target pendapatan tahun ini senilai Rp 1,77 triliun. Adapun beban dan pajak mencapai Rp 626 miliar.

“Laba per Juni 2018 mencapai Rp 219,99 miliar, sedangkan laba Juni 2019 sekitar Rp 241,03 miliar. Kalau melihat RKAP (rencana kerja dan anggaran perusahaan) tahun ini berarti sudah tercapai 53,21% dari target Rp 453 miliar,” tutur dia.

Ananta mengemukakan, hingga akhir semester I-2019, total aset SMF tercatat Rp 21 triliun, naik 25,13% dari posisi sama tahun sebelumnya Rp 16,79 triliun. Adapun target tahun ini Rp 24,27 triliun. “Kinerja keuangan kami sejak resmi beroperasi atau sejak 2006 terus naik setiap tahunnya,” tandas dia.

Obligasi Rp 2 Triliun

Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan SMF Heliantopo sebelumnya menyebutkan, pada akhir Agustus atau awal September 2019, SMF akan kembali menerbitkan surat utang berupa obligasi tahap II senilai Rp 2 triliun. Obligasi itu diterbitkan guna mendukung pendanaan SMF demi menyalurkan pinjaman kepada bank penyalur KPR.

“Kami sedang siapkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) V Tahap II senilai Rp 2 triliun. Pada Juli lalu, kami baru terbitkan PUB Tahap I senilai Rp 2,1 triliun, itu belum masuk pada semester I. Target pendanaan kami tahun ini Rp 9,2 triliun,” papar pria yang akrab disapa Topo tersebut.

Menurut dia, SMF juga telah merealisasikan penerbitan surat utang melalui PUB IV dan medium term note (MTN). Total obligasi yang diterbitkan sampai Juni 2019 mencapai Rp 4,86 triliun. Hingga periode itu, perseroan telah 36 kali menerbitkan surat utang.

Untuk PUB IV Tahap VII, kata Topo, SMF merilis tiga seri obligasi, yakni obligasi seri A yang memiliki nilai pokok Rp 677 miliar, dengan tingkat bunga tetap 8,00% berjangka waktu 370 hari sejak tanggal emisi. Sedangkan obligasi seri B memiliki nilai pokok Rp 784,5 miliar, dengan tingkat bunga tetap 8,80% berjangka waktu tiga tahun.

Adapun obligasi seri C bernilai pokok Rp 425 miliar, dengan bunga tetap 9,25% berjangka waktu lima tahun. “Untuk MTN VIII, nilainya Rp 500 miliar berjangka waktu lima tahun sejak tanggal emisi,” tutur dia.

Penerbitan obligasi tersebut, menurut Topo, bertujuan mendukung Program Satu Juta Rumah melalui penyaluran pinjaman (refinancing atas KPR). Hal tersebut merupakan bentuk dukungan SMF untuk memperluas akses ketersediaan rumah yang layak dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

“Pada semester I kami juga sudah mendapatkan pendanaan offshore sebesar Rp 500 miliar dan sudah disalurkan kepada penyalur KPR,” ujar Topo.

Dia mengungkapkan, SMF bisa mencari pendanaan lebih dari Rp 9,2 triliun apabila pembiayaan KPR melebihi target Rp 10 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA