Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jamkrindo Syariah. Sumber: bumn.go.id

Jamkrindo Syariah. Sumber: bumn.go.id

Volume Penjaminan Pembiayaan Program PEN Jamsyar Rp 591,39 Miliar

Kamis, 17 September 2020 | 21:03 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Anak perusahaan PT Jamkrindo yakni PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) sampai 27 September 2020 mencatatkan volume penjaminan pembiayaan modal kerja sebesar Rp 591,39 miliar pada program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Selain itu, perseroan masih mampu mencatatkan kinerja positif sampai Agustus 2020.

Direktur Utama Jamsyar Gatot Suprabowo menuturkan, penjaminan pembiayaan itu diberikan kepada 129.084 terjamin pada 10 bank syariah penyalur pembiayaan PEN. Adapun rata-rata pembiayaan atau terjamin sebesar Rp 4,5 juta.

"Sejak 27 Juli 2020 hingga hari ini, Jamsyar telah bekerja sama dengan 10 bank penyalur dan telah menjamin 129.084 UMKM dengan volume penjaminan pada program PEN sebesar Rp 591,39 miliar," kata Gatot dalam suatu seminar daring, Kamis (17/9).

Dia menjelaskan, penjaminan pembiayaan modal kerja PEN memiliki plafon sebesar Rp 10 miliar dengan jangka waktu maksimal selama 3 tahun. Tipe penjaminan dibagi dua menjadi conditional automatic cover (CAC) dengan maksimal penjaminan sebesar Rp 1 miliar dan tipe case by case (CBC) dari Rp 1 miliar sampai Rp 10 miliar. Penjaminan yang menjadi bagian dari program PEN itu akan ditutup pada 30 November 2021.

"Pelaksanaan  penjaminan modal kerja PEn imbal jasa kafalah dibayarkan pemerintah. Risiko kerugian yang dijaminkan 80% dari tunggakan pembayaran saat melakukan klaim, dengan status pembiayaan itu masuk pada kolektibilitas 4," imbuh Gatot.

Dia memaparkan, adapun persyaratan penerima jaminan diantaranya adalah bank umum, kategori peringkat komposit 1 atau 2, dan memiliki reputasi yang baik. Sedangkan penjaminan diperuntukan bagi nasabah yang terdampak Covid-19, merupakan UMKM, perorangan atau badan usaha, memiliki karakter yang baik dengan NPF call 1 dan II, tidak termasuk dalam DHN, serta memiliki legalitas usaha dan pinjaman dari jasa keuangan.

Gatot mengungkapkan, program penjaminan untuk mendukung program PEN itu diluncurkan pada 27 Juli 2020 dengan menggandengkan 10 bank syariah penyalur pembiayaan PEN. Diantaranya adalah BRI Syariah, Mandiri Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah, Bank Jatim Syariah, BTPN Syariah, Maybank Syariah, Bank Jateng Syariah, Bank NTB Syariah, dan Bank Aceh Syariah.

Bank-bank tersebut memiliki sejumlah keuntungan dengan dijaminkannya pembiayaan modal kerja oleh Jamsyar. Seperti bank bisa mengoptimalkan CAR, karena ATMR yang dijamin dihitung hanya 20%. Kemudian bisa meningkatkan loyalitas dari nasabahnya, serta turut berkontribusi mendukung pemulihan ekonomi.

"Risiko pembiayaan lebih terukur dan pricing lebih kompetitif atau lebih rendah untuk customer," ucap Gatot.

Dia menuturkan, program pembiayaan PEN sendiri memiliki tujuan melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku UMKM sektor riil. Hal itu menjadi penting saat situasi krisis akibat pandemi Covid-19. Tujuan yang sama juga dihadirkan penjaminan pembiayaan PEN guna meningkatkan kemampuan sektor jasa keuangan dalam menjalankan usahanya.

Dalam pelayanannya, sambung Gatot, Jamsyar turut melakukan digitalisasi aplikasi penjaminan. Hal itu dilakukan agar memudahkan proses penjaminan. Adapun sistem yang telah terintegarasi tersebut memungkinakan mitra dengan mudah dan real time melakukan proses permohonan hingga klaim secara digital.

Kinerja Agustus
Sementara itu, Gatot mengungkapkan, sampai Agustus 2020 volume penjaminan Jamsyar mencapai Rp 22,47 triliun. Sampai akhir tahun perseroan memprediksi volume penjaminan bisa mencapai Rp 33,56 triliun, atau tumbuh sebesar 16,60% dibandingkan capaian 2019 sebesar Rp 28,78 triliun. Jika ditilik sejak perseroan berdiri, rata-rata pertumbuhan volume penjaminan tumbuh diatas 60% secara tahunan (year on year/yoy).

Sedangkan imbal jasa kafalah yang diterima Jamsyar pun dari waktu ke waktu tumbuh dengan signifikan. Rata-rata pertumbuhan selama 5 tahun terakhir adalah 80% (yoy). Hingga Agustus 2020, imbal jasa kafalah tercatat sebesar Rp 280,22, miliar. Sedangkan proyeksi sampai akhir tahun sebesar Rp 378,13 miliar atau naik 13,26% (yoy).

Aset Jamsyar dari awal berdiri sebesar Rp 288 miliar, hingga ulang tahun keenam sudah tumbuh lima kali lipat menjadi Rp 1,25 triliun sampai Agustus 2020. Hal serupa terjadi pada ekuitas Rp 250 miliar pada awal berdiri menjadi Rp 628 miliar di Agustus 2020.

"Jamsyar terus bisa tumbuh dan memperoleh keuntungan atas usaha penjaminan yang dilakukan, bahkan di tengah pandmei yang sangat menyulitkan ini Jamsyar bisa meraup keuntungan mencapai Rp 20,87 miliar sampai Agustus 2020," Gatot.

Dia menambahkan, sampai akhir tahun laba bersih Jamsyar diproyeksi bisa mencapai Rp 44,6 miliar atau tumbuh sebesar 21,92% (yoy), dibandingkan laba bersih akhir tahun lalu sebesar Rp 36,58 miliar. Dengan sederet capaian tersebut, Gatot menyatakan pihaknya masih bisa terus eksis dan tumbuh bahkan di tengah pandemi Covid-19.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN