Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dana Pensiun

Dana Pensiun

2021, Hasil Investasi Dana Pensiun Diprediksi Naik Menjadi 7%

Selasa, 10 November 2020 | 19:16 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Industri dana pensiun pemberi kerja (DPPK) menargetkan pertumbuhan hasil investasi menjadi 7% tahun depan, dibandingkan perkiraan tahun ini mencapai 5-6% tahun ini. Pertumbuhan tersebut didukung atas ekspetkasi mulai membaiknya perekonomian.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi mengatakan, hasil investasi industri dana pensiun tahun ini tidak bisa mencapai target atau kemungkinan hanya berada di level 5-6%. "Penyebabnya karena nilai pasar saham dan obligasi masih terkontraksi," ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Selasa (10/11).

Sejauh ini, menurut dia, kebanyakan investasi dana pensiun pemberi kerja ditempatkan di surat berharga negara (SBN). Kemudian, pelaku industri juga menempatkan investasi di obligasi perusahaan BUMN, BUMN, dan BUMD yang hasil dari emisinya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. "Selain itu, investasi lainnya ditempatkan di saham sekitar 12-15%. Sementara investasi di deposito ditempatkan sesuai kebutuhan," terang dia.

Meski demikian, Bambang melanjutkan, pihaknya optimisis hasil investasi akan lebih baik tahun 2021. Hal ini didukung pulihnya perekonomian, sehingga hasil investasi industri DPPK bisa bertumbuh 7% pada 2021.

Adapun berdasarkan data OJK, total investasi industri dana pensiun, termasuk DPPK dan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK), mencapai Rp 284,02 triliun per September 2020. Nilai tersebut meningkat 3,42% dari September 2019 yang mencapai Rp 274,61 trilun.

Dari total investasi tersebut, sebanyak Rp 70,93 triliun ditempatkan di surat berharga negara (SBN). Alokasi investasi di SBN ini meningkat 8,68% dari periode sama tahun sebelumnya sebanyak Rp 65,26 triliun.

Industri dana pensiun juga mencatat peningkatan alokasi investasi di obligasi korporasi sebesar 8,4%, yakni dari Rp 57,62 triliun pada September 2019 menjadi Rp 62,46 triliun pada September 2020. Sementara investasi di saham tercatat turun hingga 22,65% dari Rp 30,64 triliun pada September 2019 menjadi Rp 23,7 triliun pada September 2020. Penurunan alokasi investasi juga terjadi di reksa dana menjadi Rp 14,38 triliun dari Rp 15,22 triliun pada September 2020.

Dari alokasi investasi tersebut, industri dana pensiun mencatat penurunan pendapatan investasi sebesar 14,13%, yakni menjadi Rp 14,28 triliun. Sebelumnya, pada September 2019, pelaku industri bisa meraih pendapatan investasi sebesar Rp 16,63 triliun.

Setelah dikurangi beban transaksi dan beban lainnya, hasil investasi industri juga menurun menjadi Rp 13,76 triliun pada September 2020 dari Rp 16,07 triliun pada September 2019.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (PDPLK) Nur Hasan Kurniawan mengatakan, hasil pengembangan investasi dana pensiun di Indonesia masih rendah, dibandingkan negara lain. Hal ini disebabkan pilihan investasi dana pensiun di Indonesia masih terbatas.

Di industri DPLK, ujar Nur Hasan, investasi masih banyak ditempatkan di deposito berjangka sebanyak 60,84%, apabila merujuk data per Agustus 2020. Alokasi lainnya banyak ditempatkan di SBN sebanbyak 17,02%, obligasi korporasi 11,33%, reksa dana 6,2%, saham 2,6% dan instrumen lainnya.

Menurut Nur Hasan, dengan melihat masih konvensionalnya pilihan investasi tersebut, pelaku industri harus mengedukasi peserta DPLK untuk melakukan diversifikasi investasi. Dalam hal ini, DPLK juga perlu memberikan pilihan investasi baru kepada para peserta.

Berdasarkan data OJK, per September 2020, pelaku industri dana pensiun mencapai 216 perusahaan. Pelaku industri ini terdiri dari DPPK-Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) sebnyak 149 perusahaan, DPPK-Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) sebanyak 44 perusahaan dan 23 DPLK.

Peserta dana pensiun paling banyak berinvestasi di DPLK sebanyak 3,01 juta peserta. Kemudian di DPPK-PPMP sebanyak 971,83 ribu peserta dan di DPPK-PPIP sebanyak 405,66 ribu peserta.(git)

 

 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN