Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

2021, Momentum Diversifikasi Investasi ke Reksa Dana Saham

Kamis, 11 Februari 2021 | 18:30 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, Investor.id – Tahun 2021 adalah momentum bagi para investor yang ingin melakukan diversifikasi investasi ke reksa dana saham. Walau indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Januari ditutup melemah 1,95%, bursa saham pada Februari kembali bangkit.

"Bahkan, jika dihitung sejak awal tahun hingga 9 Februari 2021, IHSG telah menguat 3,39% ke level 6.181,67," kata Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Freddy Tedja dalam artikel edukasi MAMI bertajuk 'Kapan Saatnya Diversifikasi Investasi ke Reksa Dana Saham?' yang dipublikasikan Kamis (11/2).

Freddy mengakui, volatilitas pasar masih akan tetap terjadi pada 2021. Dinamika dan sentimen pasar, baik yang positif maupun negatif, akan selalu ada. Contohnya setelah meroket pada Desember 2020, sepanjang Januari lalu IHSG justru melemah 1,95% hingga menyentuh level 5.862,35.

Menurut dia, pergerakan pasar dapat dilihat dari dua sisi, yakni sebagai penghalang atau peluang. “Sebagai investor, kita harus melihat fundamental jangka menengah-panjang, bukan hanya dinamika jangka pendek. Mari kita fokus pada fakta-fakta dan katalis yang ada, setidaknya untuk kuartal pertama tahun ini,” papar dia.

Apalagi, kata Freddy Tedja, valuasi pasar saham Indonesia masih relatif murah dibandingkan kawasan lain, seperti Filipina atau Thailand. Selain itu, kepemilikan asing di pasar saham Indonesia masih berada di salah satu level terendah sejak 2013. "Pemulihan ekonomi juga akan mendorong pertumbuhan earnings perusahaan-perusahaan di Indonesia," tutur dia.

Dia menjelaskan, sejak kuartal IV-2020 mulai terjadi perbaikan ekonomi global secara gradual, ditopang pertumbuhan di negara-negara berkembang kawasan Asia. Pemulihan ekonomi dan perdagangan yang terjadi pada 2021 akan ditopang oleh ketersediaan vaksin dan normalisasi aktivitas ekonomi.

Kecuali itu, kebijakan yang akomodatif akan berperan penting, seperti suku bunga rendah, pelonggaran moneter (quantitative easing/QE), dan stimulus fiskal yang masih akan berlanjut tahun ini. Potensi keunggulan perekonomian negara-negara berkembang pun akan mendorong arus dana mengalir ke Asia, termasuk Indonesia, yang menawarkan potensi kinerja menarik.

Proyeksi tahun 2021 sebagai tahun pemulihan, menurut Freddy Tedja, juga tercermin pada kinerja reksa dana saham yang mulai bangkit. Contohnya reksa dana Manulife Saham Andalan (MSA), pada akhir Januari 2021 mencetak return 6 bulan sebesar 33,15%.

Adapun sejak awal 2021 hingga akhir Januari 2021, reksa dana MSA yang fokus pada emiten-emiten di sektor siklikal, membukukan return 1 bulan sebesar 0,63%, melampaui underlying-nya, IDX80, yang minus 2,55%. MSA diuntungkan potensi pemulihan ekonomi domestik.

“Walaupun sekarang saat yang baik untuk memanfaatkan peluang di tahun pemulihan, profil risiko investor dan horizon investasi menjadi kunci dalam menentukan pilihan kelas aset dalam berinvestasi,” kata Freddy.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN