Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Kiprah Manulife Aset Manajemen Selama 25 Tahun Bermodalkan Kepercayaan Investor dan Inovasi

Minggu, 3 Oktober 2021 | 23:46 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kunci utama sebuah perusahaan bisa bertahan lama adalah kepercayaan dari rekanan dan pelanggan. Kepercayaan ini juga tidak muncul dalam sekejap mata, namun dibangun dalam periode yang tidak sebentar dan didukung komitmen yang kuat.

Hal itulah yang dilakukan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) untuk bertahan selama 25 tahun setelah dihantam tiga kali krisis keuangan. "MAMI jual trust, itu yang membuat kami bisa dipercaya," jelas Legowo Kusumonegoro yang pernah menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Manulife Aset Manajemen Indonesia, yang dikutip dari siaran Youtube Manulife Aset Manajemen.

Di kala krisis, perusahaan lain merajut kembali kepercayaan dari para mitra dan pelanggan dengan mendatanginya satu per satu. Namun, Manulife Aset Manajemen berbeda, mereka menunjukkan komitmennya untuk bangkit dengan melakukan inovasi. Mereka mempercayai inovasi ini adalah bukti perusahaan masih bertahan dan memiliki keinginan untuk maju.

Pada 1998, Manulife Aset Manajemen yang dulunya bernama Dharmala Manulife Aset Manajemen meluncurkan tiga produk sekaligus untuk menghadapi krisis saat itu. Ketiga produk itu adalah Phinisi Dana Saham, Phinisi Dana Campuran, dan Phinisi Dana Kas. Nama Phinisi diambil dari kapal Phinisi yang kokoh dalam menghadapi terjangan ombak.

Inovasi itu berbuah hasil. Berkat dukungan berbagai pihak, termasuk Manulife Group, Manulife Aset Manajemen mulai menambah produk reksa dananya. Pada tahun 2006, Manulife Aset Manajemen sudah memiliki sembilan produk reksa dana dan bermitra dengan tujuh bank. Bahkan Manulife Aset Manajemen mendapatkan penghargaan pertamanya melalui produk Phinisi Dana Tetap dari majalah Investor.

Meski demikian, perjalanan belum usai, Manulife Aset Manajemen kembali menghadapi krisis keuangan global pada tahun 2008. Kali ini, Manulife Aset Manajemen tetap fokus melakukan inovasi dan memegang teguh kepercayaan para stakeholder. Manajer investasi tersebut mulai membidik investor muda yang selama ini belum dilirik manajer investasi lain.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menjelaskan, sampai saat ini, pihaknya sudah melalui tak kurang dari tiga kali periode krisis, yakni krisis keuangan Asia pada tahun 1997, krisis keuangan global pada 2007-2008, dan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. “Kami sangat bersyukur dapat melewati masa-masa sulit tersebut dengan baik dan keluar dalam keadaan yang lebih tangguh," kata dia dalam sebuah konferensi pers.

Afifa menilai, kepercayaan investor memang menjadi kunci utama Manulife Aset Manajemen sukses bertahan di tengah krisis. Sampai saat ini, pihaknya memiliki lebih dari 1,18 juta investor, baik ritel maupun institusi.

Edukasi Investor

Peningkatan jumlah investor, menurut Afifa, tidak bisa tercapai tanpa adanya edukasi yang masif dari Manulife. Afifa mengungkapkan, Manulife Aset Manajemen memiliki modul edukasi finansial 3i, yakni insyaf, irit, dan invest yang sudah digunakan sejak 2013. Modul ini mengajarkan masyarakat untuk memiliki kesadaran (insyaf) terlebih dahulu terhadap investasi. Kemudian, bersikap irit sehingga bisa mengalokasikan dananya untuk investasi dan terakhir baru melakukan investasi.

Jalur distribusi yang kuat juga menopang kesuksesan Manulife Aset Manajemen selama ini. Afifa mengungkapkan, pihaknya bermitra dengan 32 pihak yang terdiri dari 20 bank dan 12 non bank. Manulife Aset Manajemen juga mendistribusikan produknya secara langsung kepada segmen ritel serta melalui institutional sales.

Di tengah kemajuan zaman seperti saat ini, Manulife Aset Manajemen tidak lupa untuk melakukan pemasaran digital. Saat ini sudah memiliki platform, yakni klikMami.com. Platform ini diluncurkan sejak 2016 dan tidak hanya melayani pemasaran produk, namun juga transaksi digital lainnya. "KlikMami.com menjadikan Manulife Aset Manajemen sebagai pelopor fully online digital transaction platform," terang Afifa.

Berkiprah lebih dari 25 tahun tentunya membuat Manulife Aset Manajemen mempunyai wawasan yang lebih mumpuni terhadap industri reksa dana. Selain menjadi pelopor dalam transaksi digital, Manulife Aset Manajemen juga menjadi pelopor produk reksa dana dengan konsep multi share class di Indonesia. Produk reksa dana ini menawarkan beberapa tipe kelas bagi investor.

Kekuatan produk juga menjadi faktor kesuksesan. Selain produk multi share class itu, pihaknya kini sudah memiliki 28 produk reksa dana, 40 kontrak pengelolaan dana, dan satu perjanjian penasihat investasi.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan Manulife Aset Manajemen adalah dukungan berbagai pihak seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organization (SRO) yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta pihak lainnya. "Faktor lainnya adalah tata kelola perusahaan yang kuat," ucap Afifa.

Memimpin Industri

Berkiprah selama 25 tahun sepertinya tidak cukup hanya sekedar dibuktikan dengan eksistensi. Manulife Aset Manajemen juga berambisi untuk bisa menjadi perusahaan manajemen investasi (MI) terkemuka dan terbesar di Tanah Air. Apalagi, pasar modal Indonesia sangat mendukung dengan jumlah investornya yang sudah mencapai 5,82 juta orang per Juli 2021.

Sementara dari sisi dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana di Indonesia masih rendah sekali, yakni baru 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Begitupun dengan jumlah investornya yang tidak sampai 2% dari jumlah penduduk. "Karenanya, masih banyak penduduk yang belum terjamah," kata Afifa. Cita-cita Manulife Aset Manajemen untuk menjadi MI terkemuka sudah terlihat pada kinerja Agustus 2021.

AUM Manulife Aset Manajemen.

Berdasarkan data Bareksa, Manulife Aset Manajemen tercatat sudah 9 bulan berturut-turut, sejak Desember 2020 hingga Agustus 2021 menjadi perusahaan MI terbesar dari sisi jumlah dana kelolaan reksa dana. Pada periode tersebut, dana kelolaan Manulife Aset Manajemen mencapai Rp 59,79 triliun atau hampir menembus Rp 60 triliun. Padahal, kinerja MI lainnya cukup tertekan akibat pandemi Covid-19.

Peningkatan kinerja Manulife Aset Manajemen tidak terlepas dari peningkatan kinerja produk-produk reksa dana yang dikelolanya. Bareksa mencatat, Manulife Aset Manajemen memiliki 46 produk reksa dana dengan empat produk reksa dana campuran, sembilan produk reksa dana pasar uang, 12 reksa dana pendapatan tetap, 17 reksa dana saham dan empat reksa dana pendapatan terproteksi.

Adapun dua produk reksa dana Manulife Aset Manajemen yang mencatat dana kelolaan terbesar adalah reksa dana pendapatan tetap, Manulife Pendapatan Bulanan II. Produk ini diluncurkan pada 23 Januari 2009 dan sudah membukukan dana kelolaan Rp 8,68 triliun.

AUM Manulife Aset Manajemen.

Manulife Saham Andalan juga menjadi produk yang mencatat kinerja cukup baik. Reksa dana saham ini diluncurkan sejak 1 November 2007 dan sudah mencatat dana kelolaan Rp 5,03 triliun.

Saham Andalan

Director, Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham memang menjadi produk unggulan dari Manulife Aset Manajemen. Tahun ini, kinerja kedua jenis reksa dana tersebut diprediksi akan meningkat.

Dari reksa dana saham, Ezra melihat adanya peluang peningkatan indeks harga saham gabungan (IHSG) dari mulai pulihnya perekonomian. Pemulihan ekonomi ini pula, menurut Ezra yang menjadi kesempatan untuk berinvestasi di saham yang menawarkan peluang pertumbuhan. 

Salah satunya adalah saham dari sektor ekonomi digital karena sektor teknologi bisa meningkatkan bobot indeks atau MSCI Indonesia di tingkat Asia Tenggara. Kemudian, saham yang termasuk dalam 45 saham berkapitalisasi besar (LQ 45). Menurut Ezra, saham ini nantinya akan unggul ketika situasi pandemi sudah berakhir.

"Kalau kita melihat, LQ45 saat ini memang sedang tertekan karena perekonomian Indonesia memang sedang melambat akibat pandemi yang berkepanjangan," jelas dia.

Sementara untuk reksa dana pendapatan tetap, Ezra melihat potensi penurunan imbal hasil (yield) obligasi negara tenor 10 tahun di bawah 6%. Penurunan yield ini ditopang oleh pasar obligasi yang masih positif karena adanya dukungan burden sharing dari Bank Indonesia (BI).

Selain itu, kebijakan fiskal juga cukup akomodatif dengan fokus utama mendorong pertumbuhan dan menjaga nilai tukar. Meski, masih ada sentimen negatif dari perkembangan kasus Covid-19, namun adanya vaksinasi dan likuiditas domestik yang melimpah bisa mengimbangi dampak negatif tersebut.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN