Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Di tengah momentum tumbuhnya IHSG saat ini, investor bisa mulai melirik ke pasar reksa dana saham, salah satunya. Danareksa Mawar Fokus 10

Di tengah momentum tumbuhnya IHSG saat ini, investor bisa mulai melirik ke pasar reksa dana saham, salah satunya. Danareksa Mawar Fokus 10

Bahana TCW: Tingkat Inflasi Stabil, Peluang Bagi Reksa Dana Saham

Selasa, 11 Januari 2022 | 13:13 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) menilai, tingkat inflasi Indonesia tahun ini akan bergerak stabil dan tidak akan mengalami tren peningkatan yang cukup tinggi seperti yang terjadi di negara maju. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk bisa berinvestasi di pasar saham dan juga reksa dana saham.

Kepala Ekonom Bahana TCW Budi Hikmat menjelaskan, tingkat inflasi tahunan pada 2021 mencapai 1,87%, meski meningkat dari 1,68% pada 2020, namun masih jauh berada di bawah target yang ditetapkan Bank Indonesia sekitar 3%. Rendahnya tingkat inflasi tahun 2021 dipengaruhi oleh permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih sebagai dampak pandemi Covid-19. Tingkat inflasi ini mayoritas didorong oleh kenaikan harga bahan pangan atau kelompok inflasi volatile food.

Baca juga: Permintaan Tinggi, Bahana TCW Tambah Kapasitas Unit Penyertaan Bahana Likuid Plus

Tahun ini, menurut Budi akan menjadi tahun inflasi global, termasuk bagi Indonesia. Berbagai negara maju mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi, bahkan ada yang masuk tahap terlalu tinggi dan mayoritas didorong oleh kenaikan harga energi serta komoditas.

“Namun, di Indonesia tidak akan terjadi hal serupa, karena Indonesia memiliki berbagai skema subsidi terkait dengan harga energi,” ujar dia dalam keterangan resmi, Senin (10/1).

Bahkan, tren kenaikan inflasi yang masih stabil ini bisa menjadi indikator bahwa pemulihan ekonomi Indonesia sedang berjalan. Sisi positif yang dapat dijadikan peluang dari tren kenaikan inflasi di 2022 adalah di pasar saham. Meski di satu sisi, naiknya angka inflasi akan berpengaruh kepada daya beli masyarakat, namun, di sisi lain para produsen dan emiten di beberapa sektor dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki margin usaha dengan menaikan harga jual produk mereka. Sehingga akan berpengaruh kepada pasar saham berkat kinerja emiten yang membaik seiring terkontrolnya tingkat inflasi.

“Kami perkirakan selama 2022, tingkat inflasi akan terjaga di level 3%. Kami melihat Bank Indonesia (BI) mampu mengendalikan inflasi dengan tools moneter-nya. Saat ini BI masih mempertahankan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5%, yang berarti BI masih memiliki ruang yang cukup untuk melakukan kebijakan untuk mengkontrol laju inflasi agar tetap berada dalam kisaran target,” ujar Budi.

Baca juga: Level PPKM Turun, Bahana TCW Proyeksi IHSG Tembus Level 6.500 pada Akhir 2021

Budi menambahkan bahwa sangat terbuka kemungkinan BI akan meningkatkan suku bunga acuan saat inflasi bergerak naik. Namun, kami memperkirakan BI berpotensi baru akan mulai menaikkan suku bunga di semester kedua 2022 sebanyak dua kali dengan besaran 25 basis poin (bps) untuk mengantisipasi kenaikan inflasi domestik.

Dengan demikian, Bahana TCW memproyeksikan reksa dana saham akan menjadi instrumen paling menarik selain reksa dana pasar uang yang akan kembali memberikan rate yang menarik seiring kenaikan suku bunga acuan BI. Sedangkan reksa dana obligasi diperkirakan akan memberikan return single digit, lebih rendah dibandingkan 2020 dan 2021.

Tingkat suku bunga acuan yang dijaga tetap rendah merupakan salah satu bentuk dukungan ekstra BI terhadap upaya pemulihan ekonomi. Jika melihat tren selama 10 tahun terakhir, dimana kisaran suku bunga acuan BI berada di angka 4% hingga 6%, tingkat suku bunga saat ini merupakan tingkat suku bunga terendah dalam sejarah. Jikalau tahun ini suku bunga naik, maka, Bahana TCW melihat hal itu bukan sebagai pengetatan tapi lebih kepada normalisasi kebijakan moneter BI. Sekaligus menjadi tanda perekonomian kita sudah sehat dan tidak lagi membutuhkan dukungan ekstra seperti sebelumnya.

“Seiring pemulihan ekonomi pasca pandemi, level inflasi domestik akan menunjukkan peningkatan, tapi secara fundamental, BI masih memiliki ruang untuk mengontrol tingkat inflasi ke level yang lebih sehat atau healthy inflation. Dengan demikian pemulihan ekonomi pasca pandemi dapat berjalan sebagaimana ditargetkan pemerintah,” kata Budi.

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN