Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bank Commonwealth. Foto ilustrasi: commbank,co.id

PT Bank Commonwealth. Foto ilustrasi: commbank,co.id

Bank Commonwealth Ajak Nasabah Tambah Porsi Reksa Dana Saham

Rabu, 26 Januari 2022 | 11:37 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Commonwealth merekomendasikan para nasabah dan investor untuk menyesuaikan portofolio reksa dana saham. Hal itu seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi domestik dan global, meskipun varian baru Omicron mulai merebak.

Head of Investment and Liabilities Bank Commonwealth Ivan Kusuma mengatakan, ada beberapa hal yang patut diwaspadai dalam berinvestasi pada kuartal I-2022, yakni penyebaran Covid-19 varian Omicron yang dapat menyebabkan pengetatan yang lebih jauh. Kemudian rencana pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih agresif dari perkiraan pasar.

Kendati demikian, Bank Commonwealth masih merekomendasikan untuk overweight portofolio reksa dana saham. Dengan turut melihat berlanjutnya pemulihan ekonomi, baik global maupun domestik di samping adanya varian baru Omicron.

“Potensi hadirnya lebih banyak lagi emiten sektor teknologi di bursa saham Indonesia pada tahun ini juga akan memberikan sentimen positif, serta ada potensi meningkatnya bobot Indonesia di dalam indeks acuan global. Hal tersebut dapat memicu aliran dana asing yang lebih deras,” jelas Ivan, Selasa (25/1).

Dia memaparkan, strategi investasi yang bisa dilakukan investor untuk kuartal I adalah menambah porsi reksa dana saham di dalam portofolio investasinya. Investor dengan profil risiko balanced adalah 30% di reksa dana pasar uang, 35% reksa dana pendapatan tetap, 35% reksa dana saham.

Sedangkan untuk investor dengan profil risiko growth adalah 15% di reksa dana pasar uang, 20% reksa dana pendapatan tetap, dan 65% reksa dana saham.

Ivan menyampaikan, salah satu pilihan reksa dana saham yang menarik untuk dikoleksi adalah Reksa Dana Batavia Disruptive Equity. Produk tersebut berinvestasi pada saham-saham disruptif yang memiliki potensi pertumbuhan di atas rata-rata industri, karena saham disruptor tumbuh berkembang bersama new economy dan semakin banyak digunakan oleh masyarakat luas serta menjangkau untapped market.

“Kita sebenarnya baru meluncurkan produk reksa dana saham bernama Reksa Dana Batavia Disruptive Equity. Ini adalah saham-saham yang memiliki strategi untuk mendisrupsi kondisi terkini dengan potensi pertumbuhan yang besar. Jadi, di dalamnya ada saham teknologi, nonteknologi dengan potensi yang growth-nya besar,” kata dia.

Ivan menambahkan, produk tersebut bisa jadi pilihan di samping reksa dana lain yang secara umum lebih banyak menggenggam saham big cap. Kehadiran Reksa Dana Batavia Disruptive Equity dinilai dapat menjadi pelengkap dalam strategi portofolio investasi reksa dana saham bagi para nasabah.

Pada kesempatan itu, Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi menuturkan, secara teori, ketika GDP meningkat, biasanya kelas aset saham akan menarik. Karena pada saat outlook ekonomi tinggi secara keseluruhan, outlook perusahaan akan lebih tinggi dan laba perusahaan juga akan meningkat. Hal itu akan membuat pasar saham lebih menarik.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN