Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur PT Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha (Uthan A Rachim/Majalah Investor)

Direktur PT Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha (Uthan A Rachim/Majalah Investor)

Edukasi Investor, Ashmore: Tidak Tepat Bandingkan Saham dengan Kripto   

Jumat, 22 April 2022 | 09:27 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Minat masyakarat berinvestasi di pasar modal sedang mengalami tren meningkat. Tercermin pada pertumbuhan pesat jumlah investor dalam beberapa tahun terakhir.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyampaikan jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 8,3 juta per akhir Maret 2022. Angka tadi menunjukan peningkatan 12,13% dari posisi akhir tahun 2021 lalu.

Tingginya minat pada instrumen pasar modal disambut baik oleh Manajer Investasi (MI), tentu saja karena fenomena ini membuat dana kelolaan MI meningkat, juga jumlah nasabah. Tapi pada lain sisi kondisi ini mendatangkan tantangan baru sebab tuntutan investor ritel telah bergeser, dari sebelumnya terbilang konservatif menjadi lebih agresif.

Direktur PT Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha mengatakan pergeseran kebutuhan investor ritel disebabkan munculnya instrumen-instrumen alternatif perdagangan baru berbasis digital, seperti cryptocurrency maupun Non Fungible Token (NFT).

Sebagian masyarakat memandang, aset digital bisa menghasilkan return sangat tinggi dengan jangka waktu yang sangat singkat. Kondisi ini membuat ekspektasi investor khususnya ritel pada industri reksa dana dan pasar saham secara keseluruhan menjadi tinggi.

“Padahal investasi saham dengan kripto atau NFT tidak apple to apple,” ujar Steven saat ditemui majalah Investor di kantornya belum lama ini.

Sayangnya, sebagian MI menurut dia berupaya mengakomodir appetite baru investor ritel tadi dengan berinvestasi pada saham-saham yang volatilitasnya tinggi, namun fundamentalnya rapuh demi mengejar return secara instan.

“Ada tendensi sejumlah MI untuk mencari saham-saham yang memang risikonnya cukup tinggi, kapitalisasi pasarnya sangat kecil, likuiditasnya hampir tidak ada, tetapi mudah sekali digerakan oleh mekanisme pasar yang sederhana, harga sahamnya naik luar biasa demi memenuhi keinginan investor,” ujarnya.

Menurutnya langkah sejumlah MI tadi tidak bisa dikatakan salah atau benar, dan nanti waktu yang akan menjawab, tapi bagi Ashmore hal itu tidak akan dilakukan. “Kami lebih cenderung memberikan edukasi pada investor untuk berinvestasi secara proper dan mengedepankan tata kelola ketimbang mengejar keuntungan instan,” papar Steven.

Strategi investasi konservatif yang diusung Ashmore menurut Steven tidak membuatnya khawatir bakal kalah bersaing, sebab dia yakin segmen investor yang mengedepankan tata kelola dan kehati-hatian berinvestasi juga tidak sedikit. “Jadi dengan prinsip ini kami tetap menemukan segmen kami,” imbuhnya.

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN