Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Asiantrust Asset Management, Armand Marthias.

Direktur Asiantrust Asset Management, Armand Marthias.

Simak, Cara Menangkal Investasi Bodong

Kamis, 30 Juni 2022 | 19:15 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Mati satu tumbuh seribu, kasus investasi bodong di Indonesia bukannya surut, malah makin menjamur. Seperti diberitakan, Satuan Tugas Waspada Investasi menyebutkan dalam 10 tahun terakhir investasi bodong di Indonesia telah menimbulkan kerugian sebesar Rp 117,5 triliun.

Direktur perusahaan pengelolaan investasi, Asiantrust Asset Management, Armand Marthias menilai bahwa kasus investasi bodong di Indonesia merupakan bentuk pelanggaran kode etik yang berulang kali terjadi di Indonesia. Seiring dengan kemajuan pasar modal dan kecanggihan infrastrukturnya, bentuk pelanggaran kode etik tersebut menjadi lebih kompleks dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Advertisement

“Semakin ke sini bentuk pelanggaran etika di pasar modal menjadi lebih advanced baik dari bentuk produk dan skemanya, cara penyebarannya maupun investor, dan para pelakunya. Hal ini juga tidak hanya terkait investasi bodong saja,” ujar Armand di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, hal itu dapat dipicu oleh tingginya permintaan akan keuntungan investasi yang lebih besar secara cepat dan semudah mungkin.

Baca juga: Ini Dia… 10 Prinsip Investasi Terbaik Sepanjang Masa

Secara sistemik, terdapat satu hal yang menjadi kunci kenapa banyak pelanggaran etika pasar modal terjadi, contohnya investasi yang bodong, karena banyak orang yang masuk pasar modal dengan tujuan untuk menjadi cepat kaya.

“Jadinya akan mencari segala cara untuk membuat kita kaya besok, nah ketika hal itu terjadi, maka seperti hukum supply dan demand pada umumnya, ketika ada demand untuk cepat menjadi kaya, maka supply-nya akan muncul dan karena itulah timbul berbagai macam struktur yang cenderung melanggar kode etik untuk memenuhi permintaan tersebut. Salah satunya adalah produk dan skema investasi yang di luar kewajaran,” bebernya.

Investasi seharusnya ungkap pria yang juga mengajar mata kuliah Etika Pasar Modal di salah satu perguruan tinggi ternama di Jakarta itu membutuhkan proses untuk bisa dirasakan hasilnya, selain membutuhkan waktu yang relatif panjang.

“Kita itu melihat bahwa investasi itu jangka panjang dan ada prosesnya, kita sebaiknya juga terus meningkatkan pengetahuan kita mengenai produk investasi yang kita pilih,” kata Armand. Selain itu, ia juga menyarankan bagi para calon investor untuk mengidentifikasi tujuan sebelum terjun ke dalam pasar modal.

“Di Asiantrust Asset Management, kami selalu menyarankan pendekatan goal based investment kepada para nasabah, sebenarnya tidak masalah apakah nasabah membeli reksa dana A, B, C, atau saham perbankan, pertambangan, telekomunikasi atau yang lainnya. Sebenarnya tidak masalah selama tujuan dan jangka waktu investasinya jelas. Misalnya, apabila dalam 5 tahun kita ingin mempersiapkan pernikahan, maka kita akan merancang portofolio produknya, aset apa yang akan kita beli, dan bagaimana porsi masing-masingnya sekarang, sehingga tujuan investasi dapat tercapai seoptimal mungkin dengan tingkat risiko yang terukur pula,” ucapnya.

Baca juga: 5 Jenis Investasi Menurut Para Ahli Finansial

Asiantrust Asset Management selaku manajer investasi, menurutnya, selalu memberikan informasi dan edukasi terkait kepada para nasabahnya. Hal itu merupakan kewajiban fiduciary kepada para nasabah bahwa portofolio mereka dikelola secara transparan dan akuntabel.

“Selain dari goal based investing, manajer investasi harus juga terbuka kepada investor, apa saja isi portofolio dan mengapa kita memilih aset tersebut, banyak konten yang kita berikan kepada investor ketika contoh memilih saham pertambangan lalu saham tersebut turun maka hal ini akan kita jelaskan kepada nasabah apa pandangan kita mengenai hal tersebut. Jika nasabah akhirnya berbeda pendapat dan tidak percaya dengan pandangan kami, ya tidak apa-apa, tetapi itu merupakan kewajiban kami untuk menjelaskan portofolio, karena pada akhirnya portofolio itu adalah dana investor, jadi kita harus memberikan informasi sedetail mungkin,” papar Armand.

Juga terkait risiko. Menurutnya calon investor juga harus menyadari bahwa dalam investasi selalu ada risiko. Agar tidak terjebak dalam investasi bodong, ia menyarankan agar menimbang return yang normal dari produk investasi yang ditawarkan.

“Sederhananya itu begini, untuk investasi yang risikonya tinggi ya return-nya tinggi dan yang risikonya rendah ya rendah juga return-nya, nah sekarang pertanyaannya persentase return yang normal itu seperti apa? Hal ini bisa dilihat dari return rata-rata jangka panjang pasar saham Indonesia. Saham dengan return di atas itu, tentu risikonya juga lebih besar. Dapat juga dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi, misalnya bentuk investasi yang di atas itu, tentu memiliki risiko yang lebih tinggi pula,” jelasnya.

Baca juga: 7 Manfaat Investasi Bagi Hidupmu, Sudah Mulai Belum?

Secara umum, menurut Armand, pilihan investasi itu beragam. Tetapi lazimnya bertambah usia seseorang, maka aset akan semakin besar. Di sisi lain, semakin kecil pula orang ingin mengambil risiko dalam investasi.

“Nah di level mana investor comfortable dengan pilihan produk investasinya. Hal itu tergantung pada usia, financial literacy, dan sebagainya. Hal-hal yang kita sebut risk profile. Sebenarnya persoalannya seberapa kita siap mental untuk membeli suatu produk investasi? Apabila produk investasi nilainya turun, apa lantas disebut bodong?” tutur Armand.

Menurut dia, tidak bisa melihat satu sisi saja, lagipula apabila produk investasi itu menguntungkan, juga belum tentu hal itu kredibel dan tidak ada pelanggaran etika di dalamnya.

Ke depan, dia berharap semakin terceliknya masyarakat Indonesia akan literasi keuangan, peran seluruh pihak dapat lebih ditingkatkan melalui digitalisasi dan sentralisasi informasi produk investasi.

“Saya rasa pasar modal kita melalui OJK, para Self Regulatory Organization (SRO), dan sistem perbankan akan lebih banyak menggalakkan transparansi informasi untuk diberikan kepada publik terkait produk-produk investasi dan segala turunannya. Apabila hal ini terjadi, maka pasar modal kita akan makin diminati oleh lebih banyak lagi investor dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN