Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Lukas (Pexels)

Ilustrasi investasi. Foto: Lukas (Pexels)

Agustus, Dana Kelolaan Reksa Dana Rp 520,8 Triliun

Jumat, 11 September 2020 | 10:40 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, dana kelolaan investasi ( asset under management/AUM) reksa dana hingga Agustus 2020 mencapai Rp 520,84 triliun. Nilai ini menurun 3,25% dibandingkan agustus 2019 yang mencapai Rp 538,38 triliun.

Berdasarkan data tersebut, reksa dana terproteksi masih menjadi produk reksa dana yang mencatatkan AUM terbesar, yakni sebesar Rp 155,11 triliun atau sebesar 29,78% dari total AUM hingga Agustus 2020. Komposisi ini meningkat dibandingkan periode Agustus 2019 yang mencapai Rp 148,06 triliun atau sebesar 27,5% dari total AUM pada periode tersebut.

Selanjutnya, kontributor terbesar kedua adalah reksa dana pendapatan tetap dengan perolehan AUM sebesar Rp 120,17 triliun atau sebesar 23,07%. Kemudian, reksa dana saham dengan perolehan AUM sebesar Rp 108,24 triliun atau sebesar 20,78%.

Sementara sisanya berasal dari reksa dana pasar uang yang mencapai Rp 79,29 triliun, reksa dana campuran sebesar Rp 25,38 triliun, exchange traded fund (ETF) sebesar Rp 14,23 triliun, reksa dana global Rp 9,34 triliun. Lalu, kontributor lainnya adalah reksa dana indeks sebesar Rp 7,92 triliun dan reksa dana berbasis sukuk sebesar Rp 1,12 triliun.

Menurunnya dana kelolaan investasi juga dirasakan oleh para manajer investasi. Bahkan ada perusahaan yang akan merevisi targetnya tahun ini. Namun demikian, bukan berarti pelaku industri berdiam diri saja.

Direktur Pemasaran dan Produk  PT Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti mengatakan, pihaknya melihat masih ada ruang untuk pergerakan harga surat berharga negara (SBN) setelah The Fed memberikan pernyataan untuk menahan suku bunga rendah dalam waktu yang lama.

"Hal tersebut tentunya membuat investor mencari return dari tempat lain dan pilihannya adalah risky asset seperti obligasi dari negara emerging market dan kami melihat Indonesia menawarkan real yield yang masih menarik," kata dia, belum lama ini.

Dengan melihat peluang tersebut, Mandiri Investasi merekomendasikan produk reksa dana pendapatan tetap. Di Mandiri Investasi, produk yang bisa dipilih adalah Mandiri Investa Dana Optima 2 (MIDO2) yang berinvestasi pada obligasi pemerintah.

Selain itu, perseroan juga melihat potensi investasi ke pasar global. Endang menjelaskan, produk reksa dana global yang ada di Mandiri Investasi adalah Mandiri Global Syariah Equity Dollar (MGSED) yang berinvestasi pada saham-saham di luar negeri.

Dengan berbagai rekomendasi produk reksa dana tersebut, Endang optimistis Mandiri Investasi bisa meraih AUM sebesar Rp 57 triliun tahun ini. Perseroan pun juga akan meluncurkan produk baru, yakni reksa dana terproteksi untuk mendukung target tersebut.

Imbas Pandemi

Kemudian, Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management Indonesia Edward P Lubis mengatakan, pandemi Covid-19 memang mempengaruhi bisnis pengelolaan investasi, seperti halnya pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Dengan pengaruh tersebut, perseroan harus merevisi target pertumbuhan AUM dari sebelumnya yang ditargetkan bertumbuh 10% menjadi hanya bertumbuh 1-2%.

Untuk bisa mencapai target tersebut, perseroan akan fokus pada produk-produk yang lebih defensif. Hal ini dilakukan sambil melihat perkembangan penanganan wabah dan pemulihan ekonomi.

Sementara itu, sampai pertengahan Agustus 2020, perseroan sudah mencatat perolehan AUM sebesar Rp 48,7 triliun. Perolehan AUM tersebut banyak berasal dari reksa dana pasar uang dan reksa dana terproteksi. Sementara produk reksa dana pendapatan tetap dan saham berkontribusi kecil.

Di sisi lain, Direktur PT Panin Aset Manajemen Rudiyanto mengungkapkan, adanya pandemi Covid-19 memang berdampak pada kegiatan operasional perusahaan. Pasalnya, perseroan tidak bisa melakukan kegiatan tatap muka saat memasarkan produk reksa dana.

Namun demikian, pihaknya masih optimistis bisa mencapai target perolehan AUM Rp 15 triliun tahun ini. Saat ini, perseroan sudah mengumpulkan AUM Rp 11,3 triliun. "Kami belum merevisi target AUM karena IHSG saat ini yang undervalued berpotensi rebound ke depannya," terang dia.

Sementara untuk mencapai target pertumbuhan AUM, Rudiyanto mengaku tidak memiliki strategi khusus. Pihaknya akan memasarkan produk seperti biasa dan akan meluncurkan dua hingga tiga produk reksa dana terproteksi hingga akhir tahun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN