Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi dan keuangan.

Ilustrasi investasi dan keuangan.

REKSA DANA PASAR UANG JADI PILIHAN

Atur Keuangan Selama Pandemi, Manulife Sarankan 3 Hal

Gita Rossiana, Senin, 13 April 2020 | 17:23 WIB

JAKARTA, investor.id - Kebijakan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah memberi keuntungan tersendiri bagi karyawan yang selama ini harus berkutat dengan kemacetan dan biaya transportasi yang mahal. Pasalnya, karyawan bisa menghemat biaya transportasi dan menggunakannya untuk keperluan lain.

Meski demikian, tidak semua karyawan bisa mengelola kelebihan dana tersebut dengan baik. Karena itu, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menyarankan tiga hal ini dalam mengelola kelebihan penghasilan selama WFH akibat wabah virus corona (Covid-19).

Pertama, memanfaatkan penghasilan tersebut untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dimas mengatakan, pandemi Covid-19 telah merenggut nyawa dan menghilangkan mata pencaharian sebagian masyarakat. Bagi masyarakat lain yang saat ini masih menerima penghasilan utuh, sebaiknya mendonasikan rezekinya untuk membantu saudara yang kehilangan penghasilan ataupun untuk tenaga medis yang menangani pasien Covid-19.

Kedua, menyiapkan dana darurat. Dimas mengungkapkan, saat ini tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Bagi karyawan yang saat ini masih memiliki pekerjaan dan menerima gaji secara utuh, sebaiknya segera mungkin untuk menambah pos dana darurat.

Dalam kondisi normal, umumnya dana darurat disiapkan untuk menutupi biaya hidup atau pengeluaran selama tiga hingga enam bulan. Namun, saat ini, kondisinya sedang dalam keadaan tidak normal, sehingga sebaiknya siapkan dana darurat untuk kebutuhan hidup selama enam bulan hingga satu tahun.

"Caranya adalah dengan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup selama enam bulan hingga satu tahun. Jika memiliki dana darurat yang cukup, karyawan bisa lebih tenang dalam menghadapi segala ketidakpastian yang mungkin terjadi di depan," kata Dimas dalam keterangan resmi, Senin (13/4).

Untuk menyiapkan dana darurat, karyawan bisa memanfaatkan beberapa sumber penghasilan. Salah satunya meningkatkan porsi dana darurat dari penghasilan bulanan, yakni dari 5-10% menjadi 30-40% dari penghasilan.

"Untuk menambah porsi pos dana darurat, masyarakat bisa mengambil dari pos transportasi, pos gaya hidup (makan di luar, nonton bioskop, liburan, kumpul bareng teman), dan lain-lain," tutur dia.

Selain itu, memanfaatkan tunjangan hari raya (THR). Menurut Dimas, setelah karyawan mendapatkan dana THR, sebaiknya alokasikan sebagian besar dana THR untuk mengisi pos dana darurat. Hal ini bisa dilakukan apabila karyawan tidak melakukan mudik, tidak membeli baju baru atau kue lebaran, dan merayakan lebaran secara sederhana.

Kemudian, saran ketiga, memanfaatkan instrumen yang likuid untuk menyimpan dana darurat. Dimas menyarankan untuk menyimpan dana darurat pada reksa dana pasar uang. Sebab, reksa dana pasar uang memiliki kelebihan di antaranya nilai investasi dengan harga terjangkau, instrumennya likuid, tidak ada biaya masuk dan keluar, bukan objek pajak, dan memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan atau deposito.

"Kelebihan lainnya adalah pembukaan rekening dan transaksi reksa dana saat ini juga sudah dapat dilakukan secara online tanpa harus tatap muka," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN