Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Dana Kelolaan Industri Reksa Dana Tumbuh 5,78%

Senin, 11 Januari 2021 | 22:58 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana sebesar Rp 573,54 triliun per Desember 2020. Dana kelolaan tersebut tumbuh 5,78% dibandingkan akhir Desember 2019 yang mencapai Rp 542,17 triliun.

Sepanjang tahun lalu, dana kelolaan terbesar tercipta pada bulan Desember. Sebelumnya, industri reksa dana juga mencatat dana kelolaan yang cukup besar pada November 2020 sebesar Rp 547,84 triliun.

Dari total dana kelolaan tersebut, reksa dana terproteksi menjadi kontributor utama sebesar Rp 145,26 triliun atau mencapai 25,33%. Kemudian, reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp 139,15 triliun atau sebesar 24,26%. Selain itu, reksa dana saham dan pasar uang juga mendominasi dana kelolaan pada Desember 2020 sebesar Rp 127,79 triliun dan Rp 94,54 triliun.

Jika dilihat dari sisi produk, Reksa Dana Ashmore Obligasi Nusantara dari PT Ashmore Asset Management Indonesia menjadi produk dengan dana kelolaan terbesar, yakni mencapai Rp 4,7 triliun. Selanjutnya, Schroder Dana Prestasi dari PT Schroder Investment Management Indonesia juga membukukan dana kelolaan yang besar senilai Rp 4,66 triliun.

Selanjutnya, produk reksa dana pasar uang dan exchange traded fund (ETF) dari PT Bahana TCW Investment Management. Produk reksa dana pasar uang, Bahana Dana Likuid dan reksa dana ETF ABF Indonesia Bond Index Fund, masing-masing membukukan dana kelolaan sebesar Rp 4,6 triliun dan Rp 4,58 triliun.

Sementara itu, Danareksa Research Institute mencatat, masyarakat tetap menyisihkan pendapatannya untuk berinvestasi selama pandemi. Dalam investasi tersebut, reksa dana dan saham menjadi pilihan yang diambil masyarakat.

Menurut data Danareksa Research Institute, meski pendapatan masyarakat menurun, namun mereka tetap menyisihkan pendapatannya untuk tabungan atau investasi. Tercatat, sebanyak lebih dari 80% responden yang berpenghasilan di bawah Rp 3 juta hingga di atas Rp 40 juta menyisihkan pendapatannya untuk investasi.

"Paling banyak adalah responden dengan penghasilan di antara Rp 20-30 juta, yakni sebanyak 97,06% dan responden berpenghasilan di antara Rp 30-40 juta sebanyak 100%," ungkap Danareksa Research Institute dalam laporannya.

Masyarakat juga dinilai lebih banyak yang mencairkan tabungan dan investasinya selama pandemi. Sekurangnya 55,94% dan 23,23% responden mencairkan dana tabungan dan investasinya selama pandemi Covid-19. "Dana ini dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi dana darurat, modal usaha, cicilan, dan dipindahkan ke instrumen investasi lainnya," jelas Danareksa Research Institute.

Dari berbagai instrumen investasi, reksa dana dan saham menjadi pilihan instrumen responden selama pandemi, yakni mencapai 21,28% dan 20,21%. Selain itu, responden memilih emas sebagai instrumen investasi, yakni sebanyak 31,91%, deposito sebanyak 11,7%, valas sebanyak 5,32% dan lainnya 9,57%.

Danareksa Research Institute juga mencatat, instrumen investasi baik emas, reksa dana dan saham mengalami peningkatan dibandingkan sebelum pandemi, yakni masing-masing mencapai 27,23%, 17,41% dan 16,07%. Sementara deposito, valas dan instrumen lainnya menurun, yakni masing-masing 16,07%, 9,82% dan 13,39%.

Pasar Saham

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini bisa menembus level 6.700. Kondisi tersebut bisa menjadi faktor pendorong kinerja Panin AM. Sebab, dengan target IHSG tersebut, return semua reksa dana kecuali reksa dana indeks bisa meningkat 2% di atas kenaikan IHSG.

Dengan melihat potensi peningkatan IHSG tersebut, Panin AM mencoba masuk ke saham-saham undervalued. Saham-saham tersebut ada di segmen medium cap dan kombinasi big cap.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan meluncurkan produk lima produk reksa dana terproteksi tahun ini. Selain itu, perseroan akan meluncurkan produk lain sesuai permintaan konsumen. Tahun ini, Panin AM menargetkan dana kelolaan sebesar Rp 16,3 triliun, meningkat dibandingkan akhir 2020 yang melebihi Rp 14 triliun.

Sementara itu, PT Bahana TCW Investment Management memproyeksikan IHSG hingga akhir 2021 mencapai level 6.800. Karena itu, Bahana TCW menyarankan para investor hendaknya memperhatikan tiga indikator utama dalam berinvestasi di pasar modal.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, penguatan IHSG akan dipicu berbagai hal mulai dari pengangkatan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru hingga pembentukan sovereign wealth fund (SWF) yang dapat mendorong penguatan ekonomi dalam negeri.

Setidaknya, kata dia, ada tiga indikator yang bisa dicermati para investor dalam berinvestasi pada 2021. Poin pertama, yakni dengan adanya rotasi kelas aset yang relatif positif ke negara berkembang atas kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS yang baru.

“Kemenangan Biden diyakini mengurangi daya tarik bursa saham negara maju yang selama 10 tahun terakhir menikmati outperformance terhadap negara berkembang,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Budi menambahkan, isyarat rotasi regional global ini ditunjukkan oleh indeks bursa saham negara berkembang (MXAPJ) yang tahun lalu naik sekitar 20%, diikuti oleh indeks dua negara seperti Sensex India melonjak 16% dan Shcomp China menguat 13,9% yang memiliki digital economy yang lebih baik ketimbang negara berkembang lainya. “IHSG juga telah bangkit 51,8% dari titik terendahnya,” ujar dia.

Kemudian, indikator likuiditas global yang saat ini sedang mengalami oversupply ditandai dengan suku bunga Libor yang terus turun hingga hanya 0,25% dan indeks dollar DXY yang melemah 7% tahun atau sekitar 13% dari titik terkuat 102,8 pada 20 Maret 2020.

Dia juga merujuk pada data dari Bloomberg Financial Condition Index untuk Amerika Serikat (BFCIUS) sebagai indikator utama yang menunjukkan pasar uang, fixed-income dan saham AS kembali positif setelah sebelumnya minus 6,3% pada 24 Maret 2020.

Lebih lanjut, dari dalam negeri indikator currency risk rupiah diperkirakan menguat di bawah Rp 13.500, lalu harga sejumlah komoditas ekspor seperti CPO, nikel, batu bara, dan karet juga meningkat. Namun, harga komoditas minyak diproyeksikan masih negatif.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN