Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Dana Kelolaan Reksa Dana Berpotensi Meningkat 15 Kali Lipat

Selasa, 27 Oktober 2020 | 11:46 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai industri reksa dana tetap akan bertumbuh dalam jangka panjang, meski dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana kini cenderung turun. Bahkan, dana kelolaan berpotensi meningkat 15 kali lipat.

Peneliti senior BEI Poltak Hotradero mengatakan, dana kelolaan industri reksa dana turun menjadi Rp 520,84 triliun per Agustus 2020 dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar Rp 538,38 triliun. "Meski terjadi penurunan, angka ini cukup besar jika dihitung sejak saya bekerja di bursa. Peningkatannya bisa mencapai lima kali lipat," kata dia di Jakarta, baru-baru ini.

Potensi terbukanya pertumbuhan AUM reksa dana ke depan, menurut Poltak, bakal didukung oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa. Saat ini, dana kelolaan industri reksa dana baru mencerminkan Rp 2 juta per kapita atau sekitar US$ 130 per kapita. Angka tersebut masih jauh di bawah pendapatan penduduk Indonesia yang sebesar US$ 4.000 per kapita.

Selain itu, AUM per kapita reksa dana Indonesia tergolong tertinggal dibandingkan Thailand. Di negeri 'Seribu Pagoda' tersebut, pendapatan kapita penduduknya mencapai US$ 7.000 per orang dengan dana kelolaan reksa dana penduduknya mencapai US$ 4.000 per orang. "Dengan hanya menyamai Thailand saja, AUM reksa dana Indonesia bisa bertumbuh 15 kali lipat," ungkap dia.

Untuk bisa mengejar pertumbuhan tersebut, menurut Poltak, penting bagi regulator untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri reksa dana. Selain itu, regulator harus membentuk infrastruktur agar masyarakat mudah bertransaksi melalui digitalisasi.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Manajemen Jemmy Paul Wawointana mengatakan, performa industri reksa dana memang sedang turun saat ini, seiring dengan penurunan harga unit penyertaan. Namun, dengan adanya kebijakan work from home (WFH) dan aktivitas yang tidak berjalan seperti biasa, orang akan lebih banyak waktu untuk berinvestasi. "Fintech yang menyediakan reksa dana juga makin banyak, sehingga mendorong transaksi reksa dana juga," ucap dia.

Investor Ritel

Tingginya potensi industri reksa dana juga disebabkan oleh banyaknya investor ritel. Jemmy mengungkapkan, meski dari segi dana kelolaan mengalami penurunan, namun investor reksa dana mengalami peningkatan.

Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Donny Hutabarat mengatakan, saat ini, jumlah investor ritel mencapai 4,16 juta orang atau meningkat dibandingkan 2019 yang mencapai 2,48 juta orang. Dari jumlah tersebut, investor ritel berkontribusi paling besar atau mencapai 2,44 juta orang. "Penambahan jumlah investor ritel ini disebabkan oleh kemudahan bertransaksi instrumen pasar keuangan yang bisa dilakukan melalui perbankan, sekuritas maupun fintech," kata dia.

Namun demikian, jumlah investor ritel ini, menurut Donny, masih jauh dibandingkan negara lain, seperti Malaysia yang berkontribusi 9% terhadap jumlah penduduknya. Bahkan, kontribusi investor ritel Indonesia yang di bawah 5% ini sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat (AS) yang mencapai 55%. Padahal investor ritel inilah yang bisa menahan gejolak di pasar modal saat masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. "Untuk memacu penambahan investor ritel, Bank Indonesia akan mendorong pendalaman pasar keuangan melalui digitalisasi dan pembentukan market infrastructure," ucap dia.

Lebih lanjut, Plt Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deny Ridwan mengungkapkan, pada masa pandemi seperti saat ini, jumlah investor baru meningkat tajam. Hal ini terlihat dari penerbitan surat berharga negara (SBN) ritel ORI017 dengan 42 ribu investor dan SR013 dengan 44 ribu investor. "Dari sisi transaksi juga signifikan, nilai penerbitan ORI017 mencapai Rp 18 triliun dan SR013 mencapai Rp 25 triliun," jelas dia.

Ke depan, untuk mendorong pendistribusian SBN ritel ini, pihaknya menurunkan minimal investasi dari Rp 5 juta menjadi Rp 1 juta. Kementerian Keuangan juga akan menambah mitra distribusi dengan menjadikan platform seperti Tokopedia untuk bisa menjual SBN ritel.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN