Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama pembicara Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Ketua Asosiasi Manajemen Investasi Indonesia (AMII) Afifa, dan Co Founder & Director Tanamduit Muhammad Hanif, saat acara Zooming With Primus-Reksa Dana Online dan Milenial di Jakarta, Kamis (1/4/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama pembicara Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Ketua Asosiasi Manajemen Investasi Indonesia (AMII) Afifa, dan Co Founder & Director Tanamduit Muhammad Hanif, saat acara Zooming With Primus-Reksa Dana Online dan Milenial di Jakarta, Kamis (1/4/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Digitalisasi Tingkatkan Transparansi Pengelolaan Reksa Dana

Sabtu, 3 April 2021 | 19:55 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  -- Digitalisasi tidak saja mendorong pertumbuhan dana kelolaan atau asset under management (AUM) dan jumlah investor dari kalangan milenial, tapi juga meningkatkan transparansi dalam pengelolaan reksa dana. Dengan digitalisasi, para investor kini bisa mengetahui pertumbuhan investasinya setiap hari melalui aplikasi perangkat digital yang disediakan manajer investasi (MI) dan perusahaan agen penjual efek reksa dana (APERD). Bahkan informasi mengenai prospektus dan fund fact sheet reksa dana juga tersedia di platform digital.

Karena itu, transparansi saat ini tidak lagi menjadi isu di industri reksa dana. Permasalahan yang masih mencuat hingga kini adalah masih rendahnya literasi keuangan di Indonesia. Bankan, rendahnya tingkat literasi ini telah menyebabkan salah satu investor institusi tersandung permasalahan investasi di pasar saham.

Demikian rangkuman pandangan narasumber dalam diskusi Zooming with Primus bertajuk “Reksa Dana Online dan Milenial” yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (1/4/2021).

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu ini menghadirkan narasumber Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Afifa, Co-Founder & Director Tanamduit Muhammad Hanif, dan Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto.

Afifa menjelaskan, kemajuan teknologi saat ini mendorong transparansi dalam transaksi reksa dana. Pasalnya, nasabah bisa mengecek perkembangan portofolionya kapanpun dan dimanapun.

“Investasi saat ini memang dalam genggaman. Kondisi investasi bisa dicek kapanpun dengan bantuan digital,” jelas Afifa.

Apalagi, jika manajer investasi (MI) bekerja sama dengan APERD online yang lebih mahir dari sisi teknologi. Dengan bantuan APERD online ini, nasabah bisa memeriksa fund fact sheet dari reksa dananya setiap bulan.

Namun, Afifa menjelaskan, terlepas adanya dukungan digitalisasi, sejauh ini MI sangat transparan dalam menginformasikan portofolionya, misalnya 10 portofolio teratas disampaikan dalam fund fact sheet. Sementara untuk produk Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), MI membuka 100% isi portofolionya.

“Regulator juga cukup aktif, apabila ada kesalahan langsung ditanggapi supaya memberikan proteksi untuk investor,” ucap dia.

Menurut Afifa, yang menjadi permasalahan saat ini literasi di Indonesia. Rendahnya tingkat literasi ini juga yang menyebabkan salah satu investor institusi tersandung permasalahan investasi di saham. Afifa mengungkapkan, pihaknya akan meningkatkan literasi untuk semua kalangan.

“Literasi harus ke semua pelaku, termasuk institusi dan lembaga pemerintahan karena bagaimana mungkin investor institusi yang berinvestasi jangka panjang bisa meninggalkan saham, itu kemunduran,” terang dia.

Senada, Muhammad Hanif mengungkapkan, kemajuan teknologi membuat transparansi tidak lagi menjadi isu di industri reksa dana Pasalnya, semua informasi reksa dana melalui prospektus dan fund fact sheet tersedia di aplikasi.

“Setiap harinya, nasabah juga melihat perkembangan investasinya melalui platform,” papar dia. Dengan perkembangan teknologi ini, menurut Hanif, digitalisasi bisa saja mendominasi penjualan reksa dana. Hanif menyebutkan, pada 2016, jumlah rekening di reksa dana baru mencapai 450 ribu nasabah, baik ritel maupun institusi. Namun, saat ini jumlah rekening reksa dana sudah meningkat 7-8 kali lipat dari periode 2016.

Sedangkan dari sisi dana kelolaan khusus untuk APERD online, dia menjelaskan saat ini belum terlalu besar, baru sekitar Rp 5-10 triliun. “Mungkin ke depan lambat laun dana kelolaan investor reksa dana ritel bisa mengalahkan investor institusi. Hal ini ditopang oleh kemudahan pembukaan rekening dan bertransaksi,” kata dia.

Budi Hikmat menambahkan, digitalisasi ini memang memberikan akses yang luar biasa dari sisi pembukaan rekening dan proses rebalancing. Namun untuk pendekatan wealth, menurut Budi, memerlukan edukasi yang lebih luas lagi.

Sementara Rudiyanto berpendapat, Panin AM tidak hanya mengandalkan pemasaran secara digital, namun juga melakukan edukasi berkelanjutan. Oleh karena itu, masih diperlukan adanya tenaga pemasar yang andal untuk memberikan edukasi kepada nasabah.

“Di lain pihak, kami juga menyediakan produk yang beragam seperti ada jenis terproteksi, pasar uang dan disesuaikan dengan profil risiko,” terang dia.

Edukasi mengenai risiko ini, menurut Afifa, menjadi penting. Pasalnya, prinsip dalam berinvestasi tidak hanya menawarkan keuntungan, namun juga ada risiko yang perlu dikelola. Oleh karena itu, hal ini perlu menjadi fokus tidak hanya bagi asosiasi, namun juga regulator dan pelaku industri untuk memberikan informasi yang seimbang kepada masyarakat. Dengan informasi ini, diharapkan banyak masyarakat yang melek keuangan sehingga berdampak positif bagi jumlah investor dan dana kelolaan.

Investor Bertumbuh

Perkembangan NAB Reksa Dana dan IHSG
Perkembangan NAB Reksa Dana dan IHSG

Terciptanya transparansi membuat industri reksa dana bisa berkembang dengan leluasa. Hingga Februari 2021, industri reksa dana mencatat dana kelolaan (asset under management/ AUM) sebesar Rp 572 triliun.

Sementara jumlah investor di pasar modal pada periode yang sama mencapai 4,51 juta orang dengan 3,83 juta di antaranya merupakan investor reksa dana. Afifa menjelaskan, pertumbuhan jumlah investor yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan oleh kondisi pandemi Covid-19. Keberadaan platform digital dalam memberikan kemudahan, kenyamanan, dan lebih efisien bagi investor yang membuat jumlah investor membludak di tengah pandemi Covid-19.

Dia meyakini jumlah investor reksa dana akan terus meningkat karena penetrasi reksa dana terhadap penduduk Indonesia masih rendah sekali, yakni 1,4%. Ditambah pula tingkat dependency ratio sangat tinggi dan jumlah pengguna telepon pintar sangat tinggi sehingga peluang untuk pertumbuhan reksa dana ini bisa luar biasa ke depannya.

Budi Hikmat menjelaskan, berkembanngnya industri reksa dana di Indonesia ditopang oleh dua faktor. Pertama, adalah kondisi makro ekonomi pada saat pandemi Covid-19, berbeda jauh dengan krisis pada tahun 1998.

“Kondisi yang membedakan antara krisis pada tahun 2020 dan 1998 adalah jumlah uang yang beredar meningkat karena stimulus yang diberikan pemerintah masif sekali. Bank Indonesia juga tidak hanya menurunkan suku bunga, tapi juga melakukan quantitative easing,” jelas Budi.

Faktor pendukung lainnya adalah kemajuan teknologi dan kebangkitan pasar modal. Seiring dengan kemajuan teknologi, pemerintah juga mendorong penjualan surat berharga Negara (SBN) melalui platform digital.

Selain kondisi makro tersebut, kondisi demografis juga mendukung perkembangan industri reksa dana. Generasi milenial yang berusia 40 tahun ke bawah mulai berpikir untuk menyiapkan dana masa depannya. Pasalnya, mereka ingin memiliki tingkat kekayaan yang lebih baik dari orang tuanya, di sisi lain juga ingin mempersiapkan dana untuk anak-anaknya.

“Hal ini terlihat dari porsi investor domestik ritel yang sudah meningkat pesat mencapai 70% dari sisi trading value dan sudah mengalahkan investor asing,” terang dia.

Melihat momentum ini, Bahana TCW mencoba memanfaatkan peluang untuk menumbuhkan dana kelolaannya. Budi menjelaskan, sejauh ini, investor di Bahana ada yang berinvestasi melalui layanan private banking. Tipe investor ini cenderung ini lebih konservatif pada tahun lalu sehingga banyak masuk ke SBN.

Sementara investor baru langsung berinvestasi ke saham. Melihat dua tipe jenis investor ini, Bahana merangkulnya melalui salah satu produk reksa dana indeks dan reksa dana pendapatan tetap, yakni Bahana Asian Bond Fund yang pertumbuhannya cukup pesat tahun lalu.

Ke depan, seiring perkembangan jumlah uang beredar dan penanganan Covid-19 yang lebih baik, Bahana mulai meningkatkan aktivitas untuk mendorong reksa dana saham. Apalagi saat ini, reksa dana pendapatan tetap cukup terkoreksi karena penurunan harga SBN.

“Untuk ke depan, pertarungannya ada di reksa dana saham dan segmen ritel yang menjadi fokus tahun ini dan tahun depan,” papar dia.

Untuk mendukung penjualan produk ini, Bahana mulai memanfaatkan penjualan secara online. Tulang punggung bisnis Bahana sejauh ini memang masih nasabah institusi, namun perseroan akan lebih mengerahkan tenaga untuk mengembangkan platform demi menjaring investor ritel. Apalagi peluang untuk menumbuhkan reksa dana secara online ini cukup besar.

“Saat ini sekitar Rp 1.425 triliun dana individu yang ada di deposito dan suku bunga bank juga turun. Jika semua industri (reksa dana) dapat 10% saja, yakni sekitar Rp 140 triliun, maka potensinya sangat besar.

Sehingga yang paling penting saat ini adalah komitmen untuk memperbaiki sistem,” jelas dia.

Jumlah investir berbagai jenis reksa dana
Jumlah investir berbagai jenis reksa dana

Sementara itu, Rudiyanto menjelaskan, pihaknya masih mengandalkan tenaga pemasaran perorangan untuk menjaring nasabah baru. Namun sejak akhir tahun lalu, Panin AM mulai serius dalam pemasaran digital melalui kerja sama dengan agen penjual reksa dana (APERD) online.

Menurut Rudiyanto, Panin AM tidak bisa hanya sekadar mengandalkan pemasaran online karena nasabah yang memiliki dana besar masih ingin dilayani. Sementara kalangan yang menggunakan teknologi digital adalah kalangan milenial yang menginginkan kemudahan transaksi.

“Dan untuk penggunaan platform ini kami memang lebih mengandalkan APERD online karena mereka lebih jago dalam menawarkan kemudahan transaksi, layanan interface, user experience dan lainnya. Sehingga sembari menjalin kerja sama dengan APERD online, kami juga mengembangkan aplikasi sendiri,” terang dia.

Sementara untuk pemilihan produk, menurut Rudiyanto, tidak bisa hanya terfokus pada satu kelas aset saja. Pasalnya, ada investor yang bisa mendapatkan keuntungan tinggi dari saham karena masuk pada sekitar Maret atau Mei tahun lalu di saat harga saham turun. Namun ada juga yang belum balik modal karena masuk ketika sebelum pandemi Covid-19. 

Begitu juga dengan reksa dana pendapatan tetap (fixed income) yang tahun lalu sempat membukukan return sampai 11%, tapi sekarang harga SBN sedang turun.

“Oleh karena bukan hanya saham yang menjadi utama dari kelas aset, sudah campur-campur sehingga kami menekankan pada aset alokasi dan melakukan diversifikasi,” kata dia.

Di sisi lain, Hanif mengungkapkan, sebagai salah satu APERD online, pihaknya merasakan besarnya peran milenial dalam perkembangan reksa dana. Adapun sekitar 75-80% nasabah di Tanamduit adalah generasi yang berusia di bawah 39 tahun. Nasabah ini memanfaatkan fasilitas yang disediakan Tanamduit, yakni penjualan reksa dana, SBN, emas dan asuransi mikro secara online. Khusus untuk reksa dana, Tanamduit menyediakan sekitar 70-80 produk dari 14 manajer investasi.

Tren Produk Reksa Dana

Alokasi Portofolio
Alokasi Portofolio

Mengenai tren produk investasi sampai akhir tahun, Budi Hikmat melihat sangat tergantung dari profil risiko masing-masing investor.

Menurut dia, dalam proses berinvestasi, investor memulainya dengan instrumen berisiko rendah dulu seperti instrument pasar uang dan structured product (obligasi ataupun SBN). Kondisi saat ini, lanjut dia, tingkat kepemilikan SBN sudah meningkat dan ini menandakan hal positif. Pasalnya, orang mulai terbiasa dengan instrumen berisiko rendah Setelah itu, investor baru bisa beralih ke instrument berisiko tinggi.

“Namun ada baiknya risiko tinggi ini bisa dikendalikan dengan mengendalikan volatilitas yang ada,” saran Budi.

25 Manajer investasi dengan NAB reksa dana terbesar
25 Manajer investasi dengan NAB reksa dana terbesar

Cara untuk mengendalikan volatilitas bisa dengan mengalokasikan aset tidak hanya untuk bertumbuh, namun juga ada prinsip proteksi dan distribusi. Budi mengilustrasikan penggunaan instrumen properti dan saham untuk menumbuhkan aset. Sementara untuk proteksi bisa menggunakan SBN, sedangkan untuk distribusi aset bisa menggunakan SBN atau structured product.

Khusus di Bahana TCW, Budi mengungkapkan, pihaknya mengalokasikan aset sesuai dengan strategi bisnis. Bahana tidak terlalu banyak menempatkan dana di saham, namun juga berimbang dengan instrument lain. Adapun instrumen paling besar di Bahana sejauh ini adalah reksa dana pasar uang, fixed income, structured product, dan saham.

Berbeda dengan Bahana, Panin AM cenderung lebih agresif dalam menempatkan dananya. Rudiyanto menjelaskan, sekitar 60% bobot reksa dana di Panin AM banyak berada di saham dan campuran, sedangkan sisanya di reksa dana terproteksi dan pasar uang.

“Namun dalam merekomendasikan produk, kami tidak hanya berfokus pada satu kelas aset saja, namun beberapa jenis aset,” kata dia. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN