Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri saat acara Reksa Dana Terbaik 2021 live di Beritasatu TV pada Selasa (30/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri saat acara Reksa Dana Terbaik 2021 live di Beritasatu TV pada Selasa (30/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Dua Hal Ini Sebabkan Porsi Dana Pensiun di Reksa Dana Turun

Selasa, 30 Maret 2021 | 21:20 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id -- Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri mengungkapkan, porsi dana pensiun di reksa dana pada 2020 mengalami penurunan. Suheri melihat penurunan ini disebabkan oleh masih adanya rasa trauma karena ada beberapa produk reksa dana yang bermasalah di tahun-tahun sebelumnya, dan juga kurangnya transparansi.

“Untuk dana pensiun total, dari tahun 2019 sampai 2020 reksa dana itu hanya meningkat sekitar Rp 2 triliun, dan ini menurut saya peningkatannya lebih karena meningkat value-nya atau nilai pasarnya. Karena secara komposisi, di 2019 itu 5,37%, sementara di 2020 turun jadi 5,16%. Jadi ada satu penurunan porsi dari dana pensiun terhadap reksa dana,” kata Suheri di acara penghargaan Reksa Dana Terbaik 2021 yang digelar Majalah Investor bekerja sama dengan Infovesta Utama, disiarkan Beritasatu TV, Selasa (30/3/2021).

Suheri juga mengungkapkan, jumlah investasi dana pensiun di reksa dana yang Rp 17,2 triliun hanya sekitar 3% dari total aset reksa dana yang sebesar Rp 573,5 triliun.

“Kira-kira apa yang menyebabkan kondisi ini? Di institusi, khususnya dana pensiun, saya tidak melihat ada satu perubahan yang signifikan komposisi investasi dari institusi ini masuk ke dalam reksa dana. Mungkin ada beberapa pertimbangan, yang pertama mungkin masih ada sedikit traumatis dengan apa yang terjadi pada tahun-tahun lalu, di mana ada reksa dana yang kemudian menjadi masalah. Sehingga ini menjadi salah satu PR buat industri untuk me-recover ini, supaya kepercayaan itu kembali,” kata Suheri.

Hal berikutnya terkait transparansi, di mana selama ini untuk penempatan aset yang dibuka hanya lima portopolio besar saja.

“Saya pernah mengusulkan kepada OJK dan industri, kenapa tidak semuanya dibuka, sehingga orang bisa menilai underlying-nya seperti apa. Kalau saya investasi di sana, saya tidak seperti beli kucing dalam karung. Jadi ke depan transparansi ini bagaimana, jangan-jangan yang dimunculkan hanya lima yang besar, tetapi yang lain-lain yang buat kita menderita. Ini harus disikapi oleh industri kalau kita ingin reksa dana ini betul-betul menjadi salah satu investasi yang diminati masyareakat,” kata Suheri.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN