Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: Tumisu (Pixabay)

Inilah 10 Reksa Dana yang Beri 'Return' Tinggi

Senin, 12 Oktober 2020 | 09:36 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 10 reksa dana berbagai jenis mampu menorehkan tingkat pengembalian investasi (return) antara 9%-21% sejak awal tahun hingga akhir September 2020. Kinerja tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata return reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana berbasis obligasi pemerintah.

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja produk yang dikelola Samuel Aset Manajemen, SAM Mutiara Nusa Campuran mampu melesat 21,02% hingga akhir kuartal III-2020. Kinerja tersebut merupakan yang tertinggi di kelompok reksa dana campuran, sekaligus di antara reksa dana jenis lain.

Pada kelompok reksa dana saham, produk besutan PT Pacific Capital Investment, Pacific Equity Optimum Fund menorehkan return positif 13,77% hingga akhir kuartal III-2020. Padahal, indeks reksa dana saham terkoreksi 24,40% mengikuti laju Indeks Saham Gabungan (IHSG). Adapun selama September saja, IHSG anjlok 7,03%.

Sementara itu, produk racikan PT Mandiri Manajemen Investasi, Mandiri Investasi Obligasi Nasional menempati posisi teratas di kelompoknya dengan return 11,30% hingga akhir September 2020. Mayoritas reksa dana pendapatan tetap menguasai daftar reksa dana dengan return tinggi di atas 8%.

Data Infovesta menunjukkan, indeks reksa dana pendapatan tetap menorehkan kenaikan 5,23% hingga akhir kuartal III-2020. Pada periode sama, indeks dengan underlying obligasi yang lain turut berkinerja baik. Semisal, indeks korporasi positif 4,17% dan indeks obligasi pemerintah naik 5,29%.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, ketidapastian yang masih tinggi membuat produk berbasis saham sangat volatile dan punya risiko yang tinggi. Hal ini membuat pihaknya merekomendasikan investor banyak menempatkan portofolio pada reksa dana berbasis obligasi pada kuartal IV-2020. “Kami sarankan, alokasi aset investasi 50% pada reksa dana berbasis obligasi, 30% pada pasar uang dan 20% pada reksa dana berbasis saham,” jelas dia kepada Investor Daily.

Wawan menambahkan, Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang baru disahkan oleh DPR bisa menjadi katalis positif di pasar saham. Namun, efek dari peraturan ini kemungkinan baru terasa pada tahun depan karena masih membutuhkan banyak peraturan pelaksanaan. “Kami mencermati secara jangka pendek, investor akan lebih fokus pada sentimen kesehatan seperti perkembangan vaksin dan efektifitasnya,” jelas dia.

Reksa Dana yang Beri Return Tinggi
Sumber: Infovesta Utama

Sebagai informasi, IHSG yang anjlok 7,03% selama September turut menyusutkan total dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana. Data Infovesta menunjukkan, total AUM mencapai Rp 495,24 triliun per akhir September, turun 2,7% dari Rp 509,21 triliun per akhir Agustus.

Profil Risiko

Secara terpisah, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menjelaskan, langkah paling bijak bagi investor untuk tetap berinvestasi pada situasi market yang volatil adalah memastikan portofolio investasi telah terdiversifikasi dengan baik sesuai dengan profil risiko masing-masing

Bagi investor yang memiliki profil risiko berimbang, kata Ivan, porsi diversifikasi investasi yang bijak untuk diterapkan adalah di kelas aset saham dan kelas aset pendapatan tetap. Pada aset saham, investor dapat fokus pada reksa dana dengan strategi investasi saham berkapitalisasi besar.

Underlying dari reksa dana ini umumnya akan lebih baik menghadapi goncangan pergerakan market. Selain itu, untuk investor dengan profil risiko moderate dapat menempatkan investasinya dengan porsi di reksa dana saham 15%, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 30%, dan reksa dana pasar uang 55%,” jelas dia.

Bagi investor dengan profil risiko growth, kata Ivan, dapat menempatkan investasinya dengan porsi di reksa dana saham 60%, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 20%, dan reksa dana pasar uang 20%.

Menurut Ivan, instrumen investasi yang saat ini menarik untuk dilirik adalah obligasi pemerintah yang baru diluncurkan Kementerian Keuangan, ORI018. Pasar obligasi Indonesia saat ini menawarkan tingkat real yield yang cukup atraktif yakni di sekitar 5,5%. Imbal hasil tersebut cukup atraktif jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Thailand di sekitar 1,9% dan Malaysia di kisaran 4,0%. “Obligasi negara dengan tenor pendek menjadi pilihan yang menarik karena relatif tidak mengalami volatilitas,” kata Ivan

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan kembali menawarkan obligasi ritel seri ORI018 sebagai alternatif investasi yang aman, mudah, terjangkau dan menguntungkan. Melalui instrumen investasi ini, pemerintah mengajak publik untuk terlibat dalam program pemulihan ekonomi dan pembangunan nasional dan bersama-sama menjaga masa depan Indonesia pasca-pandemi Covid-19.

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil penerbitan ORI018 ini akan dimanfaatkan untuk membantu menambal defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020, termasuk pembiayaan dalam penanganan dan pemulihan dampak pandemi Covid-19.

ORI018 ini ditawarkan pemerintah sejak 1 Oktober dengan masa pemesanan 1-21 Oktober 2020. Kupon yang ditawarkan 5,7% per tahun dengan tenor 3 tahun. Pembelian dapat dilakukan melalui aplikasi sejumlah bank sebagai mitra distribusi, termasuk Commbank SmartWealth mulai dari Rp 1 juta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN