Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Konferensi pers penutupan perdagangan 2019 : Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi (Tengah), Direktur Utama KPEI Sunandar (Kiri), Direktur Utama KSEI, Uriep Budhi Prasetyo (Kanan)

Konferensi pers penutupan perdagangan 2019 : Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi (Tengah), Direktur Utama KPEI Sunandar (Kiri), Direktur Utama KSEI, Uriep Budhi Prasetyo (Kanan)

Investor Reksa Dana Naik 77,65%, Jadi Terbesar di Pasar Modal

Thereis Kalla, Selasa, 31 Desember 2019 | 09:34 WIB

JAKARTA, investor.id – Jumlah investor reksa dana yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga 27 Desember 2019 telah mencapai 1.768.485 Single Investor Identification (SID) atau naik 77,65% dibanding jumlah tahun lalu sebesar 995.510 SID. Jumlah tersebut merupakan jumlah SID terbesar dari komposisi jumlah investor di pasar modal.

Menurut Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo pencapaian tersebut seiring dengan langkah KSEI dalam melakukan simplifikasi pembukaan rekening. Hal tersebut juga tak lepas dari langkah KSEI bersama Bursa Efek Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus melakukan sosialisasi dan literasi mengenai pasar modal Indonesia.

“Dalam dua tahun terakhir investor reksa dana melesat jauh daripada saham,” ujar Uriep pada konferensi pers penutupan perdagangan di BEI, Senin (30/12).

Uriep menjelaskan, jumlah investor yang tercatat di KSEI per 27 Desember 2019 telah mencapai 2.478.243 atau meningkat 53,04% dibandingkan total SID periode sama tahun lalu sebesar 1.619.372. Total tersebut terdiri dari jumlah investor saham sebesar 1.103.881 naik 23% dari sebelumnya sebesar 852.240 pada periode 2018.

Sedangkan investor pada Surat Berharga Negara (SBN) meningkat 61,89% menjadi 316.130 dari sebelumnya sebesar 195.277 di periode 2018.

Reksa Dana
Reksa Dana

Uriep menjelaskan, total Asset Under Management (AUM) reksa dana mencapai Rp 780,63 triliun naik 9,24% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 714,56 triliun. Sedangkan total produk reksa dana mencapai 2.627 produk naik 17,70% dibanding periode tahun lalu sebesar 2.332 produk. 

Sementara Nilai Aktiva Bersih per 27 Desember 2019 mencapai Rp 780,63 triliun naik 9,24% dari sebelumnya sebesar Rp 714,57 triliun. Sedangkan komposisi kepemilikan reksa dana masih didominasi investor domestik sebesar 99,65%, sedangkan porsi investor asing sebesar 0,35%.

Adapun secara rinci, berdasarkan data platform terintegrasi Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) untuk transaksi pengelolaan investasi Reksa Dana, porsi penerbitan produk reksa dana berdasarkan tipenya pada 2019 terdiri dari, Discretionary Fund sebanyak 625 produk, Capital Protected Fund sebanyak 771 produk, Equity Fund sebanyak 323 produk, Fixed Income Fund sebanyak 328 produk, Money Market Fund sebanyak 206 produk, Mixed Asset Fund sebanyak 201 produk, Private Equity Fund sebanyak 71 produk.

Kemudian Exchanged Traded Fund sebanyak 37 produk, Index Fund sebanyak 34 produk, Global Fund sebanyak 14 produk, Infrastructure Fund sebanyak 6 produk, Sukuk Based Fund sebanyak 9 produk, dan Real Estate Investment Trust sebanyak  2 produk.

Di sisi lain, berdasarkan usianya, total investor di BEI masih didominasi oleh investor yang berusia di bawah 40 tahun sebesar 44,62% dari total jumlah investor.

Uriep menyatakan, dalam 15 tahun ke depan Indonesia memiliki bonus demografi, yang mana masyarakat Indonesia akan didominasi oleh usia produktif.

Dalam melihat peluang tersebut, Uriep berencana dalam program kerja KSEI di tahun 2020 juga akan difokuskan untuk melanjutkan rencana pada simplifikasi pembukaan rekening yang akan menambahkan alternatif bagi Pemegang Rekening KSEI (Perusahaan Efek dan Bank Kustodian) dan Pengguna S-INVEST (Agen Penjual Reksa Dana dan Manajer Investasi) untuk melakukan verifikasi Nomor Identitas Kependudukan (NIK) di Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

“Triknya, KSEI sendiri telah melakukan e-KYC (Know Your Customer) dan simplifikasi. Kalau buat kaum milenial itu kan maunya prosesnya cepat, efisien, dan transparan. Kalau sudah bisa cepat ngapain diperlambat," kata dia.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi telah mengatakan telah menyiapkan beberapa strategi untuk dapat menggaet investor generasi millenial untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

“Kita secara rutin melakukan edukasi dan sosialisasi, kepada kaum milenial. Kita punya 29 kantor perwakilan itu di seluruh indonesia, yang secara rutin setiap tahun melakukan sosialisasi yang dilakukan bekerja sama dengan universitas,” ujarnya.

Pesan Menteri Keuangan

Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam sambutannya pada penutupan perdagangan BEI mengungkapkan beberapa pesannya untuk para stakeholder pasar modal Indonesia.

Sri Mulyani mengungkapkan, pentingnya BEI untuk dapat menjaga kepercayaan investor pada pasar modal Indonesia. “Ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh, apabila reputasi dari kredibilitas regulator maupun SRO berjalan efektif, dan perlindungan kepada pemodal akan terus dilakukan,” ungkapnya.

Selain itu, Sri Mulyani berharap BEI bersama OJK agar dapat terus memberikan perlindungan terhadap investor.

“Perlindungan kepada para pemodal kecil dilakukan atas tindakan yang sifatnya predator atau predatory. Itu saya harapkan terus dilakukan. Sehingga reputasi pasar modal menjadi tempat di mana masyarakat investor dan seluruh stakeholder memusatkan perhatiannya bagaimana mengembangkan secara kredibel dan menjadi tempat investasi," ujar Sri Mulyani.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengharapkan agar BEI bersama OJK agar dapat membersihkan pasar modal Indonesia dari transaksi yang dianggap tidak baik.

Pintu masuk Bursa Efek Indonesia., Jakarta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Pintu masuk Bursa Efek Indonesia., Jakarta. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

“BEI bersama OJK harus terus membersihkan dari transaksi - transaksi maupun pelaku yang dianggap tidak baik, yang bisa menciderai reputasi dari pasar modal Indonesia,” kata dia.

Lebih lanjut Sri Mulyani menyatakan, BEI juga harus bisa atraktif dalam menarik investor dan melakukan inovasi. “Agar dapat  mengundang lebih banyak lagi calon emiten yang dapat melantai di BEI,” ujarnya.

Sri Mulyani, menambahkan pemerintah tengah mempersiapkan insentif melalui omnibus law perpajakan yang mana tarif  Pajak Penghasilan Badan (PPhB) akan diturunkan, dan insentif PPhB atas dividen. 

“Tambahan penurunan insentif PPhB untuk perusahaan yang go publik, dan insentif PPh atas dividen dan pemberlakuan azas teritory, semua hal ini kita harapkan dapat mendorong iklim investasi Indonesia, sehingga dapat mendorong munculnya perusahaan-perusahaan yang makin besar secara organis dan non organis bisa eligible masuk ke pasar modal,” katanya. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA