Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kantor Pusat PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Jaksa Agung: Nasabah Reksa Dana Tak Perlu Cemas dan Khawatir

Prisma Ardianto, Jumat, 26 Juni 2020 | 23:47 WIB

JAKARTA, investor.id - Kejaksaan Agung (Kejagung) mengimbau para pemilik reksa dana tidak perlu khawatir dan cemas dengan penetapan 13 manajer investasi (MI) sebagai tersangka korporasi pada perkara tindak pidana korupsi (tipikor) PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Sebab, sejumlah MI tersebut tetap beroperasi dan masih menjalankan aktivitas usahanya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jaksa Agung ST Burhanuddin menyampaikan, bahwa proses hukum terhadap perusahaan MI dalam perkara tersebut hanya terkait pengelolaan reksa dana dan investasi yang berasal dari pengelolaan keuangan Jiwasraya. Begitupun dalam portofolionya, setiap produk reksa dana dikelola secara terpisah dengan produk lainnya.

Dengan demikian, kata dia, jika ada permasalahan dalam sebuah produk reksa dana, maka tidak serta merta mempengaruhi produk reksa dana lainnya yang dikelola oleh suatu MI. Nasabah reksa dana tidak perlu cemas terhadap investasinya.

"Sepanjang produk reksa dana lainnya yang dikelola oleh 13 manajer investasi yang ditetapkan sebagai tersangka korporasi tersebut tidak ada hubungannya dengan pengelolaan keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), maka para nasabah tidak perlu khawatir atas investasinya." ungkap Burhanuddin melalui keterangan tertulis, Jumat (26/6).

Seperti yang diwartakan sebelumnya, Jaksa Penyidik Kejagung menetapkan 13 MI dan satu pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai tersangka dalam perkara dugaan tipikor Jiwasraya. Sejumlah MI yang dimaksud ialah DMI/PAC, OMI, PPI, MDI/MCM, PAM, MNCAM, MAM, GAPC, JCAM, PAAM, CC, TFII, dan SAM.

Sedangkan pejabat OJK yang dimaksud yakni FH selaku Kepala Departemen Pasar Modal 2A periode 2014-2017.

Dalam hal ini, pada periode tahun 2014-2018 Jiwasrata berinvestasi berupa saham dan reksa dana. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Perhitungan Kerugian Negara (LHP PKN) BPK, investasi Jiwasraya pada instrumen reksa dana dalam pengelolaannya dilakukan oleh 13 MI dengan harga pembelian senilai Rp 12,70 triliun.

Sejumlah MI itu pun menerbitkan produk-produk reksa dana dengan portofolio saham-saham yang harganya sudah dinaikkan secara signifikan (mark up) oleh tersangka yang telah ditetapkan lebih dahulu, yakni HH dan BT. Rentetan saham itu antara lain, IIKP, PPRO, SMBR, TRAM, SMRU, MYRX, ARMY, BTEK, LCGP, RIMO, POOL, SUGI, BJBR.

Di sisi lain, salah satu MI yang ikut terseret kasus tersebut yaitu PT Pinnacle Persada Investama (PPI) dalam keterbukaan informasi BEI menjelaskan, hingga saat ini perseroan belum menerima pemberitahuan secara resmi dari Kejagung atau OJK terkait penetapan tersangka. Perseroan bakal menelaah lebih lanjut penetapan status tersangka itu.

Manajemen PPI menerangkan, bahwa Jiwasraya memang pemegang unit penyertaan pada Reksa Dana Pinnacle Dana Prima (PDP). Namun, Jiwasraya tidak memiliki penempatan reksa dana atau exchange traded fund (ETF) selain produk PDP.

"Nasabah diimbau untuk tetap tenang, PT Pinnacle Persada Investama akan melakukan segala upaya dan tindakan yang dianggap perlu untuk melindungi nasabah," imbuh Manajemen PPI.

Sementara itu, Direktur Pool Advista Indonesia Tbk Mahendra juga menjelaskan kepada BEI terkait penetapan tersangka korporasi yang ditujukan pada entitas anak usaha yaitu PT Pool Advista Aset Manajemen (PAAM). Dia menerangkan, bahwa kasus Jiwasraya yang menyeret PAAM berdampak negatif terhadap kegiatan usaha anak dan induk perusahaan. "Sebagian besar investor telah melakukan redemption dan sudah dibayarkan," kata dia.

Mahendra menyampaikan, aktivitas operasi PAAM masih berjalan namun hanya untuk mengelola reksa dana yang terkait kasus dan tidak menjual produk investasi kepada nasabah baru. Adapun sumber pendapatan hanya berasal dari aset kelolaan pada reksa dana yang terkait kasus tersebut.

Selain itu, saat ini PAAM kesulitan untuk menjual produk investasi. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlangsung selama proses pengadilan belum selesai dan belum ada keputusan definitif mengenai status perusahaan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN