Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manulife Aset Manajemen. Foto: akucintakeuangansyariah.com

Manulife Aset Manajemen. Foto: akucintakeuangansyariah.com

Manulife Aset Manajemen Nilai Investasi Saham dan Obligasi Tetap Prospektif

Minggu, 25 Oktober 2020 | 10:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -  PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (Manulife AM) menilai investasi saham dan obligasi tetap prospektif dalam jangka panjang. Meski, pergerakan imbal hasil (return) dalam jangka pendek cenderung masih volatil.

Interim Presiden Direktur Manulife AM Afifa mengatakan, saat ini, volatilitas pergerakan harga saham akibat ketidakhadiran investor asing. Investor asing cenderung memilih negara-negara maju yang lebih cakap menangani pandemi Covid-19 dan meninggalkan negara emerging market, termasuk Indonesia.

"Namun demikian, pandemi Covid-19 ini ada batasnya, misalnya ketika vaksin ditemukan atau masyarakat sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini, prospek ekonomi akan tetap baik," kata dia dalam acara Belajar Bareng Manulife Aset Manajemen Indonesia Sabtu, (24/10).

Volatilitas indeks, ungkap Afifa, dipengaruhi aksi tunggu investor asing terkait hasil pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS). Apabila pemilihan presiden ini sudah selesai, tentunya investor asing akan kembali memperbaiki portofolio investasinya untuk mencari return terbaik. Dalam hal ini, pasar emerging market, termasuk Indonesia adalah salah satu pilihan. "Dalam jangka pendek, memang ada volatilitas. Namun dalam jangka panjang, pasar saham dan surat utang masih prospektif," ujar dia.

Adapun pada September 2020, pasar saham dan obligasi mengalami pelemahan. Chief Economist and Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengungkapkan, terdapat beberapa sentimen negatif dari global dan domestik yang membayangi pasar di bulan September.

Dari sisi global, pelaku pasar khawatir, karena peningkatan kasus Covid-19 terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Kondisi ini dikhawatirkan memaksa pemerintah untuk kembali menerapkan lockdown yang dapat menghambat proses pemulihan ekonomi.

Selain itu, pasar dibayangi ketidakpastian pembicaraan stimulus tambahan Amerika Serikat. Fed Chair Jerome Powell beberapa kali menekankan bahwa ekonomi Amerika membutuhkan stimulus fiskal tambahan untuk mendukung pemulihan ekonomi. Namun hingga saat ini perdebatan masih terjadi dalam Kongres AS terkait besaran dan detail dari stimulus tersebut.

"Sementara itu dari sisi domestik, pasar dibayangi oleh sentimen terkait diterapkannya kembali PSBB di Jakarta di bulan September. Kebijakan tersebut dikhawatirkan memberi tekanan terhadap proses pemulihan ekonomi," kata dia.

Menurut Katarina, secara jangka pendek memang ada beberapa faktor yang membebani sentimen pasar seperti pilpres dan negosiasi stimulus fiskal Amerika Serikat, serta meningkatnya kasus Covid-19 global. Di pasar domestik pun ada faktor ketidakpastian terkait kebijakan burden sharing BI dan wacana pembentukan Dewan Moneter.

"Terlepas dari sentimen jangka pendek tersebut, dalam pandangan kami pasar saham dan obligasi masih memiliki potensi ke depannya didukung oleh kebijakan reflasi global," kata dia.

Reflasi adalah kebijakan untuk menstimulasi ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, mendorong belanja, dan mencegah deflasi. Ini merupakan kebijakan pro-ekonomi yang berpotensi menekan tingkat suku bunga dan meningkatkan selera investasi terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan obligasi negara berkembang.

Selain itu penanganan Covid-19 juga tetap menjadi kunci pemulihan ekonomi. Positifnya adalah pengembangan vaksin Covid-19 terus berlanjut, dan saat ini sudah ada 10 vaksin yang berada pada tahap uji klinis fase ketiga yang merupakan fase terakhir sebelum approval dan produksi.

Di tengah kondisi pandemi saat ini tentunya banyak ketidakpastian yang dapat meningkatkan volatilitas pasar finansial. Oleh karena itu, investor disarankan untuk meninjau kembali alokasi portofolionya, dan memastikan alokasinya tetap sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko.

"Volatilitas tinggi di pasar dapat membuat alokasi portofolio tidak sesuai dengan aset alokasi awal yang ditetapkan, kondisi ini dapat mengubah profil portofolio," kata dia.

Investor juga disarankan melakukan rebalancing agar alokasi portfolio tetap sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan. Bagi investor jangka panjang dengan profil agresif, kondisi saat ini juga dapat menjadi peluang untuk average down investasi atau mulai berinvestasi di tengah harga pasar yang masih menarik.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN