Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto

Melihat Potensi dan Risiko Tiap Instrumen Investasi

Sabtu, 23 Januari 2021 | 18:59 WIB
Parina Theodora

Jakarta - Selama tahun 2020, harga saham terpengaruh pandemi COVID-19, namun beruntung di akhir tahun terdapat berita baik berupa vaksin dan sentimen positif sehingga mengalami kenaikan yang signifikan meski belum kembali ke posisi awal tahun.

Sementara untuk instrumen obligasi negara dan obligasi korporasi, sesuai dengan tren penurunan suku bunga, mengalami kenaikan seiring dengan tren suku bunga rendah yang diperkirakan akan bertahan cukup lama. Memang, terdapat beberapa obligasi korporasi yang mengalami kesulitan, hal ini tidak dapat dihindari karena kondisi ekonomi yang sulit. Namun, sejauh ini masih terkendali.

Mengikuti indeks acuannya, reksa dana saham bergerak selaras sehingga mengalami kinerja negatif seiring penurunan IHSG. Sementara reksa dana pendapatan tetap membukukan kinerja positif seiring dengan naiknya harga obligasi.

Reksa dana campuran secara kinerja ada yang positif dan negatif, tergantung bobot di saham dan obligasi. Sementara untuk reksa dana pasar uang, masih tetap positif karena terdiri dari aset dasar deposito dan obligasi jangka pendek.

Sedangkan instrumen saham, perkiraan harga wajar IHSG di level 6.700 sehingga dengan asumsi akhir tahun ini ditutup di level 6.000-an, masih ada potensi return positif. Untuk SBN, peluang harga naik masih ada. Meski tidak akan sebesar 2020 karena kenaikan harga obligasi sudah cukup tinggi. Untuk 2020, diperkirakan antara 5%-8%

Sementara obligasi korporasi, secara pergerakan relatif lebih stabil. Namun yang perlu diwaspadai adalah risiko gagal bayar. Pemilihan portofolio harus dilakukan secara selektif. Bunga deposito yang menjadi aset dasar reksa dana pasar uang, akan semakin rendah karena suku bunga Bank BUKU IV sudah di kepala 3%an. Sangat sulit untuk mengulang kinerja tahun-tahun sebelumnya. Kinerja reksa dana akan mengikuti aset dasar yang menjadi acuannya.

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, aset alokasi sebaiknya tetap dibagi ke beberapa jenis kelas aset agar tetap terdiversifikasi. Mayoritas pada jenis kelas aset saham atau reksa dana saham bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan ketika harga saham turun.

Sebagus apapun prospeknya, saham tetap merupakan instrumen yang berisiko tinggi. Kecuali investor benar-benar sudah paham, maka tetap dilakukan aset alokasi pada beberapa jenis kelas aset berbeda.

Untuk investor yang profilnya agresif, investasi jangka panjang, dan dalam kondisi keuangan yang baik sehingga tidak membutuhkan penghasilan dari hasil investasi untuk kebutuhannya baru sebaiknya mayoritas di instrumen berbasis saham atau reksa dana saham.

 

 

Editor : Parina Theodora (theo_olla@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN