Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Afifah, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri, Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito dan peraih penghargaan di antaranya: Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana, Direktur Utama PT BNI Asset Management Putut Andanawarih, Direktur Utama PT Setiabudi Invesment Management Marto Sutiono, Presiden Direktur FWD Asset Management Eli Djurfanto, Direktur Utama PT Post Asset Management Indonesia (PAMI) Agus Gunawan, Direktur Utama PT Equity Sekuritas Indonesia Taswan, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Director& Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula Ridha, Direktur PT Indo Premier Investment Management Stefanus Noviono Darmasusilo, Direktur PT Indo Premier Investment Management Suwito Haryatmo, Direktur PT Danakita  Investama Yulia Tanuwidjaja, Direktur PT Ciptadana Asset Management Herdianto Budiarto, Head of Equity PT Samuel Aset Manajemen Gema K Darmawan, Head of Fixed Income & Fund Manager PT Syailendra Capital Enry Danil, Investment Director Schroders Indonesia Irwanti, CFA, Chief Investment Officer Mandiri Manajemen Investasi Ali Yahdin Saugi, Kepala Divisi Product Management Danareksa Investment Management Nurullah, Portfolio Manager PT Bahana TCW investment Management Andy Rifandy Rachman saat acara Reksa Dana Terbaik 2021 live di Beritasatu TV pada Selasa (30/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Afifah, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri, Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito dan peraih penghargaan di antaranya: Presiden Direktur PT Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana, Direktur Utama PT BNI Asset Management Putut Andanawarih, Direktur Utama PT Setiabudi Invesment Management Marto Sutiono, Presiden Direktur FWD Asset Management Eli Djurfanto, Direktur Utama PT Post Asset Management Indonesia (PAMI) Agus Gunawan, Direktur Utama PT Equity Sekuritas Indonesia Taswan, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Director& Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula Ridha, Direktur PT Indo Premier Investment Management Stefanus Noviono Darmasusilo, Direktur PT Indo Premier Investment Management Suwito Haryatmo, Direktur PT Danakita Investama Yulia Tanuwidjaja, Direktur PT Ciptadana Asset Management Herdianto Budiarto, Head of Equity PT Samuel Aset Manajemen Gema K Darmawan, Head of Fixed Income & Fund Manager PT Syailendra Capital Enry Danil, Investment Director Schroders Indonesia Irwanti, CFA, Chief Investment Officer Mandiri Manajemen Investasi Ali Yahdin Saugi, Kepala Divisi Product Management Danareksa Investment Management Nurullah, Portfolio Manager PT Bahana TCW investment Management Andy Rifandy Rachman saat acara Reksa Dana Terbaik 2021 live di Beritasatu TV pada Selasa (30/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

23 MI TERBESAR RI KUASAI RP 520,6 TRILIUN, 91% TOTAL NAB

MI Harus Kembalikan Public Trust

Rabu, 31 Maret 2021 | 08:56 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id) ,Ester Nuky

JAKARTA, investor.id – Para manajer investasi (MI) harus mengembalikan public trust dengan antara lain meningkatkan transparansi, agar investor institusi dan asing meningkatkan investasi di reksa dana. Asset under management (AUM) tahun lalu naik menjadi Rp 573,5 triliun dan jumlah investor menembus 3,2 juta, menunjukkan instrumen pasar modal ini masih dipercaya masyarakat.

Di tengah pandemi Covid-19, nilai AUM atau dana kelolaan industri reksa dana tercatat tumbuh 5,79% menjadi Rp 573,5 triliun tahun 2020, didukung investor ritel yang terus bertambah. Total jumlah investor reksa dana ini melonjak 78% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 3,2 juta.

Demikian rangkuman keterangan narasumber dalam diskusi bertema “Tahun Kebangkitan Reksa Dana”, yang ditayangkan live di BeritaSatu TV pada Selasa (30/3/2021). Diskusi ini merupakan rangkaian acara Best Mutual Fund Awards 2021, yang diselenggarakan Majalah Investor bekerja sama dengan Infovesta Utama.

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Afifa, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia Suheri, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito. Sedangkan sebagai moderator adalah Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu.

Suheri mengungkapkan, di tengah perkembangan investor ritel yang pesat, investor institusi di reksa dana menurun kontribusinya. Ini antara lain karena ada traumatis bagi investor institusi akibat terjadinya beberapa kasus reksa dana yang merugikan investor. Hal itu harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pelaku industri untuk berbenah diri.

“Penyebab lain, terkait soal transparansi portofolio yang ada di produk reksa dana. Sebaiknya manajer investasi membuka saja semua portofolio yang ada di produknya, supaya ada transparansi. Ini menjadi fenomena yang perlu diperhatikan, jangan sampai investor merasa kecewa dan sulit untuk percaya lagi. Sebaiknya semua portofolio di-open, karena ketika beli kita harus tahu dari A-Z, takutnya malah kita rusak di sisa 40% yang tidak di-open," ucap dia.

Parto menegaskan, pelaku industri juga harus memperhatikan trauma yang diderita investor akibat kasus reksa dana yang terjadi pada sekitar tahun 2018. Trauma ini relatif tidak menimpa investor ritel, namun investor mapan yang memiliki lebih banyak uang.

Tantangan sekarang, lanjut Parto, juga tidak hanya terjadi pada sisi investor yang besar, namun juga investor milenial. Pasalnya, pengalaman investor milenial yang sempat mendapatkan keuntungan sekitar 50% saat pasar modal berada dalam tahap pemulihan, dibanding ketika indeks harga saham gabungan jatuh dalam pada Maret 2020, bisa menimbulkan ekspektasi yang keliru.

"Kalau tahun ini bisa untung 40-50%, dan tahun depan tidak setinggi itu, mereka bisa kecewa. Mereka bisa kapok sehingga berpaling ke investasi lain," ujar Parto.

Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap reksa dana menurut Parto penting untuk mendukung perkembangan industri ini di Tanah Air. Di sisi lain, Parto melihat regulator sudah memberikan sanksi yang cukup bagus kepada manajer investasi yang bersalah dalam kasus-kasus di industri reksa dana.

"Tetapi kalau bisa sanksi yang diberikan jangan sampai merugikan investor. Pengenaan sanksi itu juga harus memperhatikan (kepentingan) investor. Pasalnya, pengenaan sanksi yang selama ini diberlakukan tidak memberikan kompensasi apa-apa kepada investor,” kata Parto.

Terkait peningkatan kepercayaan investor, Afifa mengungkapkan, manajer investasi sejauh ini sudah melaporkan 10 portofolio yang ada di produk reksa dananya. Sebelumnya, hanya 5 portofolio terbesar yang diungkapkan ke publik.

“Pengungkapan 10 portofolio ini sudah memuat 60-70% dari total portofolio. Artinya, transparansi ke publik sudah mulai berjalan," kata Afifa.

Sedangkan mengenai kekhawatiran investor reksa dana saham bisa kecewa karena keuntungan ke depan tidak setinggi sebelumnya, menurut Afifa hal ini tidak terjadi di industri reksa dana. Pasalnya, investor baru di reksa dana banyak masuk ke produk reksa dana pasar uang, bukan ke reksa dana saham, sehingga hal itu tidak akan terlalu mengkhawatirkan.

7 MI Tumbuh di Atas 7%
Masalah lain di industri reksa dana, lanjut Parto, pertumbuhan sejauh ini masih terkonsentrasi ke MI yang besar. Sementara itu, manajer investasi kecil dengan prospek yang bagus tidak terlalu merasakan pertumbuhannya. “Oleh karena itu, asosiasi harus mendorong regulator untuk membantu manajer investasi kecil agar bisa meningkatkan kelasnya,” ucapnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana OJK dan Infovesta yang diolah Majalah Investor, sebanyak 25 MI dengan nilai aktiva bersih (NAB) terbesar di Indonesia menguasai dana kelolaan sekitar Rp 520,65 triliun pada Februari 2021. Nilai dana kelolaan itu mencapai 91,03% dari total NAB industri reksa dana Rp 571,98 triliun.

Sedangkan menurut data Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), nilai NAB atau AUM industri reksa dana mencapai Rp 573,5 triliun di akhir 2020, atau tumbuh 5,79% year on year. Pertumbuhan tinggi ini lebih banyak dinikmati MI besar

“AUM untuk top 10 MI melonjak 15,4%, di atas pertumbuhan industri. Market share mereka meningkat dari 57% di akhir 2019 menjadi 62% di akhir 2020. Sebanyak 12 MI mengalami pertumbuhan UAM lebih 5,79%-20%, 6 MI tumbuh lebih dari 20%-50%, dan 7 MI tumbuh lebih dari 50%,” kata Afifa.

Afifa juga mengatakan, di sisi lain, manajer investasi di Indonesia berkurang dari 98 MI di 2019 menjadi 97 MI per akhir 2020. Dari jumlah itu, yang menjadi anggota AMII hanya 95 MI.

Untuk produk reksa dana, lanjut dia, bertambah signifikan. Ada 58 produk baru sepanjang tahun 2020, sehingga di akhir tahun lalu totalnya menjadi 2.270 produk reksa dana. Selain itu, ada 25 Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) baru, sehingga total APERD berjumlah 62 pada akhir 2020.

Digitalisasi Dukung Pertumbuhan
Parto mengatakan, digitalisasi sangat membantu berkembangnya industri reksa dana di masa pandemi Covid-19 ini. Hal ini seperti yang terjadi di pasar saham yang tumbuh dengan berkembangnya transaksi saham secara online.

"Sekarang tinggal fitur digitalisasinya saja yang harus di-enhance supaya bisa membantu nasabah membeli produk secara komprehensif dan sesuai dengan risk profile. Digitalisasi ini perlu dikembangkan seperti yang sudah digunakan pada transaksi saham secara online," kata dia.

Sementara itu, Suheri mengatakan, seiring terjadinya pandemi Covid-19 sejak tahun lalu, kontribusi investor ritel di transaksi saham meningkat menjadi 45,9% pada 2020 dari 37% pada 2019. Sedangkan investor institusi kontribusinya di transaksi saham menurun menjadi 21% dari 31% pada 2019.

Hal yang sama terjadi di kepemilikan saham di pasar modal. Suheri menyebutkan, kontribusi investor ritel perlahan meningkat menjadi 13,1% pada 2020 dari 10,6% pada 2019. Sedangkan kontribusi asing menurun dari 51,7% pada 2019 menjadi 49,1% pada 2020.

“Begitu juga dengan industri reksa dana, investor ritel meningkat. Perkembangan investor ritel ini tidak terlepas dari literasi yang dilakukan. Akibat pandemi Covid-19 yang terjadi pada 2020, banyak orang ada di rumah saja, namun seiring dengan literasi keuangan yang meningkat dan keinginan masyarakat untuk mencari informasi lebih, maka jumlah investor reksa dana meningkat,” ujar Suheri.

Memang ada penetrasi reksa dana melalui agen, lanjut dia, namun penambahan investor lebih banyak disebabkan oleh terbatasnya kegiatan masyarakat selama pandemi. Jumlah tenaga pemasar reksa dana menurun menjadi 24.351 orang pada 2020, padahal pada 2018 sempat menembus 27.586 orang

Sementara itu, jumlah APERD mencapai 68 agen pada Februari 2021. Ini bertambah dibanding pada 2019 yang sebanyak 42 APERD yang ada di industri reksa dana.

"Ini membuktikan pertumbuhan jumlah investor bukan oleh tenaga pemasar. Namun ini karena situasi pandemi yang membuat mereka mengakses reksa dana melalui bantuan agen penjual fintech," papar dia.

Dana Pensiun Meningkat
Suheri mengatakan lebih lanjut, pada 2020, investasi dana pensiun di reksa dana juga meningkat Rp 2 triliun dibanding tahun 2019. Ini terjadi di industri dana pensiun baik Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Namun, pertumbuhan itu disebabkan oleh peningkatan nilai pasar, karena secara kontribusi menurun menjadi 5,16% terhadap total investasi. Penurunan kontribusi ini terjadi baik di DPPK Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP), DPPK Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), maupun DPLK, yakni masing-masing menjadi 6,05%, 6,12% dan 3,4%.

Bangkit Tahun Ini
Industri reksa dana ke depan diperkirakan masih bisa tumbuh signifikan. Tahun ini akan menjadi kebangkitan industri reksa dana, seiring pelaku industri yang sudah melakukan banyak perbaikan dan inovasi.

"Banyak inovasi dan perbaikan yang dilakukan sehingga kami optimistis tahun 2021 menjadi tahun kebangkitan industri reksa dana. Adapun faktor pendukung pertumbuhan industri reksa dana ini antara lain adalah kondisi makro ekonomi Indonesia yang membaik," kata Primus.

Primus menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang terkontraksi sekitar 2,07% pada 2020, dari pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran positif 5%. Namun demikian, adanya vaksinasi Covid-19 dan sosialisasi protokol kesehatan yang lebih masif bisa meningkatkan pergerakan manusia tahun ini, sehingga tentunya transaksi bisnis juga akan meningkat.

Selain kondisi ekonomi bakal membaik, tingkat inflasi juga cukup terkendali. Hal lainnya adalah era suku bunga rendah saat ini, di mana Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan ke level 3,5%, atau menjadi tingkat bunga terendah sepanjang sejarah Indonesia.

Dengan tingkat bunga yang rendah tersebut, deposito dan produk perbankan sudah tidak bisa lagi menjadi alternatif sumber penghasilan. "Investasi sudah harus beralih ke instrumen pasar modal, seperti reksa dana, saham, dan obligasi," tutur dia.

Ia menjelaskan, hingga 26 Februari 2021, industri reksa dana mencatat nilai aktiva bersih (NAB) atau total dana kelolaan yang cukup signifikan, yakni mencapai Rp 572 triliun. Reksa dana pendapatan tetap menjadi kontributor utama perolehan NAB pada Februari 2021 yakni mencapai 24%. Kemudian, reksa dana saham 21%, reksa dana terproteksi 18%, reksa dana syariah 14%, reksa dana pasar uang 14%, dan sisanya adalah reksa dana indeks, campuran dan ETF.

Jumlah investor di pasar modal juga menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Pada Februari 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 4,51 juta orang, meningkat dari akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta orang.

Apabila dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 1,6 juta orang dan 2019 yang mencapai 2,4 juta orang, lajut dia, jumlah investor itu meningkat sekitar dua kali lipat. Dilihat dari usianya, investor milenial berkontribusi paling banyak, yakni sekitar 79%.

"Jumlah investor ini meningkat sekitar dua kali lipat selama pandemi, karena banyak anak muda menggunakan teknologi digital untuk berinvestasi. Namun demikian, untuk bisa bangkit tahun ini, industri reksa dana akan menghadapi banyak tantangan. Hal pertama adalah pengelolaan reksa dana yang perlu lebih transparan dan hal ini menjadi tantangan bagi para pelaku," papar dia.

Primus mengatakan lebih lanjut, pihak regulator sudah mengatasi hal itu melalui Surat Edaran Nomor 1/SEOJK.04/2020 tanggal 17 Februari 2020 tentang Cara Penyampaian Surat atau Bukti Konfirmasi dan Pelaporan Reksa Dana Secara Elektronik melalui Sistem Pengelolaan Sistem Terpadu. Investor reksa dana bisa mengakses laporan transaksinya melalui AKSes Kustodian Sentral Efek Indonesia.

Tantangan lainnya adalah literasi alternatif investasi yang masih minim. Sejauh ini, masyarakat belum banyak mengetahui alternatif investasi di luar deposito. Padahal ada instrumen lain seperti saham, reksa dana, dan obligasi di pasar modal.

Kemudian, saat ini, juga belum banyak tersedia produk reksa dana saham yang berkualitas. Hal ini menyulitkan manajer investasi untuk mengalokasikan dananya.

"Ditambah pula reksa dana berbasis environmental, social and governance (ESG) belum cukup tersedia. Padahal saat ini pelaku reksa dana dituntut untuk memperhatikan ESG," papar dia.

Pilih Volatilitas Rendah
Sementara itu, Afifa mengatakan lebih lanjut, pertumbuhan industri reksa dana pada 2020 juga dikarenakan investor baru banyak diperkenalkan dengan produk dengan tingkat volatilitas rendah, seperti reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Hal ini mendapat respons postif.

"Sikap investor yang menghindari produk dengan tingkat volatilitas tinggi itu terlihat juga dari penurunan reksa dana saham pada 2020. Prospek industri reksadana ke depan cukup tinggi, apalagi di tengah rendahnya suku bunga, setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan beberapa kali,” ujar Afifa.

Potensi yang bisa dioptimalkan untuk mendukung perkembangan industri reksa dana, kata Afifa, adalah dengan memanfaatkan investor ritel. Pada 2020, jumlah investor ritel ini cukup meningkat pesat karena digitalisasi yang dipercepat menyusul terjadinya pandemi yang membatasi pertemuan antar-orang.

“Namun demikian, dilihat dari tingkat penetrasinya dibandingkan populasi penduduk Indonesia masih sangat rendah, yakni 1,4%. Begitu banyak masyarakat yang belum terjamah, namun dengan sosialisasi reksa dana pertumbuhan itu bisa berlanjut," papar dia.

Ia optimistis, dengan rendahnya tingkat suku bunga perbankan saat ini, akan mendukung perpindahan dana simpanan tersebut ke reksa dana. Ini juga ditopang tingginya dana pihak ketiga di perbankan.

“Dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), dana kelolaan industri reksa dana juga masih kecil, hal ini juga bisa menjadi peluang bagi industri reksa dana untuk terus bertumbuh. Investor milenial saat ini juga mulai meningkat partisipasinya, didukung oleh perkembangan teknologi digital, terutama APERD online yang bisa menjangkau kalangan yang lebih luas. Peningkatan jumlah investor dan adanya produk baru serta didukung oleh teknologi digital bisa mendukung keberlanjutan industri ke depan," tutur dia. (pd)

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN