Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

MI Kecil Butuh Insentif

Senin, 5 April 2021 | 07:34 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kalangan manajer investasi (MI) meminta pemerintah untuk membantu MI dengan nilai aktiva di bawah 25 besar agar berkembang dengan memberikan sejumlah insentif. Salah satunya dengan memberikan insentif diskon pajak obligasi dari 10% menjadi 5% kembali bagi reksa dana.

“MI kecil bisa bertumbuh dengan pemasaran yang lebih kreatif dan produk yang lebih kompetitif. Dari pemerintah bisa memberikan insentif diskon pajak obligasi dari 10% menjadi 5% kembali bagi reksa dana,” kata Direktur Panin Asset Management Rudiyanto kepada Investor Daily, Minggu (4/4).

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan industri sejauh ini juga masih terkonsentrasi ke manajer investasi yang besar. Sementara, manajer investasi kecil dengan prospek histori yang bagus tidak terlalu merasakan dampaknya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Reksa Dana OJK dan Infovesta yang diolah Majalah Investor, sebanyak 25 MI dengan aktiva bersih (NAB) terbesar di Indonesia menguasai dana kelolaan sebesar Rp 520,65 triliun pada Februari 2021. Nilai dana kelolaan itu mencapai 91,03% dari total NAB indusri reksa dana Rp 571,98 triliun.

Direktur PT Infovesta Utama Parto Karwito berpendapat, sejumlah insentif bisa diberikan pemerintah antara lain marketing campaign bersama dalam suatu event dengan biaya yang sangat murah atau subsidi, pembuatan software bersama untuk jual beli reksa dana secara online. Selain itu, kata dia, pendidikan dan pelatihan staf terutama saat rilis aturan baru dari regulator. “Terakhir adalah pemantauan produk /jasa/ operasi serta bimbingan atas hal -hal tersebut agar comply aturan dan lebih efisien,” jelas dia.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan, saat ini yang men-drive pertumbuhan AUM masih dari nasabah institusi dan wealth management bank. Top tier institusi dan wealth management ini biasanya memiki kriteria partner MI misal hanya MI dengan aset 10 atau 20 terbesar atau 25 besar.

“Hal ini menyebabkan pertumbuhan AUM di MI 20 besar bisa lebih cepat dari MI lainnya. menyebabkan juga seolah ada kategori 'MI besar' dan 'MI kecil' semakin hari bisa semakin berjarak,” kata Farash.

Namun, menurut dia, alasan investor ini sebenarnya cukup logis karena menganggap MI 20 besar memiliki governance dan counterparty risk lebih rendah dari yang lain. “Walaupun pada kenyataannya banyak MI di luar 20 besar yang juga memiliki governance baik serta produk yang berkualitas atau kriteria lain misal hanya bisa berinvestasi di MI BUMN,” katanya.

Karenanya menurut Farash, alternatif untuk tumbuh adalah mencari channel distribusi lainnya, misal sekarang melalui fintech atau target client non financial institutions, individu di luar high net-worth individual.

Rudiyanto menilai, dana kelolaan merupakan hasil dari upaya pemasaran dan pengelolaan dana. “Dan hal ini lebih kepada upaya dari masing-masing MI bukan regulator. Apa yang dilakukan sekarang dengan membuka saluran agen pemasar sudah cukup,” ujarnya.

Karenanya, menurut dia tidak perlu ada angka ideal perimbangan antara AUM MI kecil dan besar. ”Yang lebih penting, cukup uuntuk menutupi biaya dan ada keuntungan di masing-masing perusahaan,” kata Rudiyanto.

Sebelunnya Parto mengatakan, digitalisasi sangat membantu berkembangnya industri reksa dana. Digitalisasi ini ibarat komoditas seperti yang digunakan pada transaksi saham secara online. "Sekarang tinggal fitur digitalisasinya saya yang harus di-enhance supaya bisa membantu nasabah membeli produk secara komprehensif dan sesuai dengan risk profile," kata dia.

Namun selain digitalisasi ini, pelaku industri juga harus memperhatikan trauma yang diderita investor akibat kasus reksa dana yang terjadi pada 2018 silam. Trauma ini bukan menimpa investor ritel, namun investor matang yang memiliki lebih banyak uang.

Kendala tidak hanya terjadi pada sisi investor yang matang, namun juga investor milenial. Pasalnya, investor milenial yang sempat mendapatkan keuntungan sekitar 50% di saat pasar modal berada dalam tahap pemulihan bisa menimbulkan ekspektasi yang keliru. "Kalau tahun ini bisa untung 40-50%, dan tahun depan tidak setinggi itu, mereka bisa kecewa dan kapok sehingga berpaling ke investasi lain," terang dia.

Melihat hal ini, asosiasi harus mendorong regulator untuk bisa membantu manajer investasi kecil agar bisa meningkatkan kelasnya. "Karena kalau dibantu, manajer investasi kecil ini tidak akan 'terlalu kreatif’ dan membentuk produk di luar jangkauan," kata dia.

Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap reksa dana menurut Parto juga penting untuk mendukung perkembangan reksa dana. Sejauh ini, Parto melihat regulator sudah memberikan sanksi yang cukup bagus kepada manajer investasi yang bersalah dalam kasus di industri reksa dana. "Tetapi kalau bisa sanksi yang diberikan jangan sampai merugikan investor," kata dia.

Pengenaan sanksi ini, lanjut Parto, juga harus memperhatikan investor. Pasalnya, pengenaan sanksi yang selama ini diberlakukan tidak memberikan kompensasi apa-apa kepada investor.

Terus Tumbuh

Menurut data Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), nilai NAB atau AUM industri reksa dana mencapai Rp 573,5 triliun di akhir 2020, atau tumbuh 5,79% year on year. Pertumbuhan tinggi ini lebih banyak dinikmati MI besar.

“AUM untuk top 10 MI melonjak 15,4%, di atas pertumbuhan industri. Market share mereka meningkat dari 57% di akhir 2019 menjadi 62% di akhir 2020. Sebanyak 12 MI mengalami pertumbuhan UAM lebih 5,79%-20%, 6 MI tumbuh lebih dari 20%-50%, dan 7 MI tumbuh lebih dari 50%,” kata Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) Afifa.

Afifa juga mengatakan, di sisi lain, manajer investasi di Indonesia berkurang dari 98 MI di 2019 menjadi 97 MI per akhir 2020. Dari jumlah itu, yang menjadi anggota AMII hanya 95 MI.

Untuk produk reksa dana, lanjut dia, bertambah signifikan. Ada 58 produk baru sepanjang tahun 2020, sehingga di akhir tahun lalu totalnya menjadi 2.270 produk reksa dana. Selain itu, ada 25 Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) baru, sehingga total APERD berjumlah 62 pada akhir 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN