Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kelolaan NAB Reksa Dana 1999-2019

Kelolaan NAB Reksa Dana 1999-2019

NILAI AKTIVA BERSIH DIPROYEKSI TUMBUH 10% TAHUN INI

NAB Reksa Dana akan Tembus Rp 555 Triliun

Harso Kurniawan, Sabtu, 5 Oktober 2019 | 17:07 WIB

JAKARTA, investor.id – Nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana diproyeksikan tumbuh 10% hingga akhir tahun ini, menembus Rp 555 triliun. Asset under management (AUM) tersebut bertambah Rp 543,93 triliun dalam 20 tahun terakhir, dari hanya Rp 4,97 triliun pada 1999 menjadi Rp 548,90 triliun per September 2019.

“Kenaikan NAB industri reksa dana, yang diperkirakan sekitar 10% hingga akhir tahun ini, mencerminkan tingginya minat investor pada produk-produk investasi dengan risiko lebih rendah dan terukur,” kata Senior Analyst PT PNM Investment Management (PNM IM) Usman Hidayat di Jakarta,Jumat (4/10).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB industri reksa dana di Tanah Air sudah menembus Rp 500 triliun sejak tahun 2018. Terus bertambahnya AUM ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan investor reksa dana. OJK mencatat, jumlah investor reksa dana sudah mencapai 1.394.434 single investor identification (SID), atau menjadi kontributor terbanyak terhadap jumlah total investor di pasar modal yang menembus 2.661.909 SID per 8 Agustus 2019.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Pesatnya pertumbuhan jumlah investor ini didukung kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan pembelian reksa dana secara online, termasuk melalui smartphone. Investor juga tidak perlu lagi mengantre di bank, mengisi berkas-berkas, dan membeli materai, sedangkan untuk verifikasi data hanya memerlukan nomor KTP, nama, dan nomor rekening.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan sebelumnya, pihaknya bahkan optimistis total jumlah investor di pasar modal RI bisa menembus 5 juta SID dalam 5 tahun ke depan. Dari target itu, jumlah investor saham diharapkan berkontribusi 40%.

“Sementara, bagi investor pemula, lebih baik ke reksa dana terlebih dahulu,” imbuh Hoesen.

Top 10 Manajer Investasi dengan NAB Terbesar
Top 10 Manajer Investasi dengan NAB Terbesar

Return RD Hingga 7,01%

Usman Hidayat mengatakan lebih lanjut, berdasarkan data OJK yang dikutip PNM IM research, total NAB industri reksa dana mencapai Rp 548,90 triliun hingga September 2019, naik sekitar 8,61% dibanding akhir Desember 2018 sekitar Rp 505,38 triliun.

“Adapun perkembangan NAB industri reksa dana hingga September 2019, tercatat reksa dana pendapatan tetap tumbuh 9,79% menjadi Rp 117,57 triliun, dibanding jumlah pada akhir Desember 2018 sebesar Rp 107,9 triliun. Kemudian, reksa dana saham turun 4,52% menjadi Rp 146,82 triliun, dibanding akhir tahun lalu sebesar Rp 153,77 triliun. Sedangkan reksa dana pasar uang sebesar Rp 70,43 triliun di September tahun ini, melonjak 54,55% dibanding Desember tahun lalu Rp 45,57 triliun,” paparnya.

Sementara itu, reksa dana campuran tercatat naik 7,48% menjadi Rp 30,59 triliun dibanding akhir Desember tahun lalu Rp 28,46 triliun. Reksa dana terproteksi sebesar Rp 153,91 triliun, naik 7,43% dibanding Desember 2018 lalu sebesar Rp 143,27 triliun.

Reksa dana indeks naik 15,50% menjadi Rp 6,41 triliun, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 5,55 triliun. Sedangkan reksa dana ETF tercatat Rp 14,09 triliun, dibanding tahun lalu Rp 11,59 triliun.

Untuk rincian return secara year to date, lanjut dia, reksa dana (RD) pendapatan tetap membukukan potensi imbal hasil sebesar 7,01% hingga September 2019. Sedangkan reksa dana pasar uang 3,96%, reksa dana campuran 2,17%, dan reksa dana saham minus 8,38%.

Perkembangan jumlah investor di BEI
Perkembangan jumlah investor di BEI

“Sepanjang tahun 2019, reksa dana saham turun sebagai respons pasar yang mengalihkan (dana) dari saham ke fixed income, utamanya ke Surat Berharga Negara (SBN). Ini karena momentum penurunan suku bunga acuan,” imbuh Usman.

Pertumbuhan NAB industri reksa dana itu juga diikuti bertambahnya jumlah produk reksa dana konvensional. Per 13 September 2019, tercatat jumlah reksa dana konvensional sebanyak 1.924 produk, bertambah 51 produk dibanding Desember 2018 sebanyak 1.873. Untuk reksa dana syariah tercatat ada 265 produk per September tahun ini, bertambah 40 dibanding akhir 2018 sebesar 225.

Adapun rinciannya, berdasarkan jenis per September 2019, adalah 345 produk reksa dana saham, 219 reksa dana pasar uang, 216 reksa dana campuran, 335 reksa dana pendapatan tetap, 988 reksa dana terproteksi, 36 reksa dana indeks, dan 30 reksa dana ETF. Jumlah ini mencakup produk reksa dana konvensional maupun syariah.

Usman menyarankan investor untuk memilih reksa dana pendapatan tetap (fixed income) dan SBN. “Reksa dana pendapatan tetap dan SBN underlying di obligasi, jadi elastisitasnya bisa mengikuti suku bunga acuan (BI),” ujarnya.

Kabinet Baru Jadi Katalis

Reza Priyambada. Foto: bloombergindonesia.tv
Reza Priyambada. Foto: bloombergindonesia.tv

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada juga memperkirakan, NAB reksa dana bisa tumbuh 10% tahun ini, seiring tren peralihan dana dari saham ke fixed income. Saat pasar saham turun, para manajer investasi (MI) akan gencar menawarkan RD fixed income. “Namun, tentunya RD saham tidak bisa langsung migrasi ke fixed income, karena ada syarat alokasi ke saham yang harus dipenuhi,” kata Reza.

Dia menilai, prospek indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih penuh tantangan ke depan. Pasalnya, ada banyak sentimen negatif dari global, seperti perang dagang dan ancaman resesi global. Keadaan itu, kata dia, membuat investor berpotensi melepas aset saham atau menahan pembelian. Faktor inilah yang menekan indeks sepekan terakhir.

“Di sisi lain, formasi kabinet baru Presiden Joko Widodo bisa menjadi katalis penguatan indeks saham, jika sesuai ekspektasi pasar. Tentunya, pelaku pasar menginginkan cabinet diisi mayoritas profesional,” ujar Reza.

Dengan mempertimbangkan bahwa secara fundamental pasar saham masih dilanda sentimen ancaman resesi global yang bisa menekan ekonomi Indonesia, Reza memprediksi IHSG hingga akhir tahun bakal bertengger di level 6.200-6.375 atau maksimal 6.500.

Sedangkan PNM IM memproyeksikan IHSG akan rebound di akhir tahun di level sekitar 6.400. “September ke Desember akan naik 4%, dan IHSG bisa ditutup di level 6.400 (di akhir 2019),” ujar Portfolio Manager PNM IM Bodi Gautama.

Menurut dia, saham-saham yang berkapitalisasi besar (big caps) akan mendorong kenaikan indeks. “Fenomena window dressing dan January effect di awal tahun biasanya polanya seperti itu. Meskipun belum tentu terjadi, tapi peluangnya besar untuk dimanfaatkan investor,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada kuartal IV ini, diprediksi saham-saham ‘pelat merah’ akan menggeliat. Pasalnya, pencairan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 akan dimaksimalkan, sehingga dapat berpengaruh positif terhadap emiten BUMN konstruksi.

“Biasanya saham yang ada ‘karya’- nya (BUMN karya) akan naik. Ini karena cash flow mereka akan berkaitan dengan anggaran pemerintah,” ungkapnya.

Di akhir tahun, lanjut dia, saham di sektor industry barang konsumsi juga perlu dicermati. Hal itu dikarenakan pencairan anggaran APBN untuk subsidi masyarakat juga akan dimaksimalkan di akhir tahun. Hal ini akan memacu masyarakat menjadi lebih konsumtif, sehingga berpengaruh positif pada saham-saham di sektor tersebut. Usman juga menilai kinerja indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung lebih baik dibandingkan indeks bursa Malaysia, Kuala Lumpur Composite Index (KLCI), dan indeks Hong Kong, Hang Seng Index (HSI).

“Bursa kita sebenarnya punya potensi tinggi pada awal tahun, tapi kemudian tergerus lagi. Ini tak lepas dari isu global (seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia), karena kita sangat rentan dengan isu-isu global,” tandasnya.

Menurut Usman, bursa saham global secara umum melemah sejak Maret 2019, namun bertendensi menguat terbatas hingga akhir tahun ini. Hal itu sejalan dengan penurunan risiko ketidakpastian global, konsolidasi tensi perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, dan geopolitik global.

Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi
Berbagai tabel investor asing di pasar modal, pasar uangm dan obligasi

Lebih lanjut, Usman juga menilai tak perlu merisaukan aksi jual bersih (net selling) investor asing. Menurut dia, investor asing tak sepenuhnya keluar dari pasar modal RI, tetapi hanya beralih ke obligasi.

Net selling itu berkaitan dengan (pelemahan) nilai tukar rupiah. Kita patut menduga sebenarnya tidak terjadi outflow, kan sejauh ini pelemahan rupiah dalam kondisi moderat, jadi tidak perlu dirisaukan. Mereka hanya switching dari saham ke obligasi,” ucapnya. Ia menambahkan, obligasi menjadi alternatif bagi investor asing, karena memiliki elastisitas harga yang tinggi terhadap perubahan kebijakan suku bunga acuan BI.

“Kami memprediksi di akhir tahun akan ada satu kali lagi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI),” ujarnya. (c05/en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA